
Emely masih tak berekspresi seusai dia menata maya*-maya* itu seperti keadaan waktu dia kecil dulu.
AZAN SUBUH BERKUMANDNAG
Emely keluar dengan memakai tudung jaketnya kembali di luar sedang hujan, Emely memgunakan motor besar Vernon menuju tempat Andi bekerja.
Emely melihat Andi yang ngantuk di meja kasir dari luar. Emely pun masuk dan membangunkan Andi.
" mas tolong rokok merk X 1 bungkus !" kata Emely yang memandangi Andi dengan tanpa ekspresi.
" iya pak !" saking ngantuknya Andi mengira Emely seorang laki-laki.
Emely menyodorkan uang 100 ribu dan Andi menyiapkan kembaliannya.
Emely langsung pergi kembali ke rumah itu.
Emely merokok di kebun belakang. Emely seakan memikirkan banyak hal di otaknya.
Emely kembali ke dalam rumah dan masuk ke kamar Andi, yang dulunya adalah kamar ke dua orang tuanya. Emely memeriksa beberapa buku di dalam lemari pakaian Andi dan melihat isi buku itu.
Ada beberapa foto Andi dan Pak Wono, Emely menengadahkan wajahnya menahan emosi di wajahnya.
Emely mengembalikan buku-buku itu begitu saja dan duduk di ranjang Andi. Emely mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan ekspresi frustasi.
Emely hanya punya emosi saat dia berhadapan dengan pak Wono, semenjak kejadian Ayahnya yang membantai keluarganya Emely tak lagi bisa merasakan emosi selain pada Pak Wono yang dia angap sebagai Ayahnya sendiri.
Emely merebahkan tubuhnya ke kasur Andi dan memikirkan bagaimana ke jadian setelah dia menembak Ayahnya.
Pak Wono menaiki sepeda ontelnya menuju rumah keluarga Jovanka. Pak Wono biasanya tidur di kediaman Jovanka di rumah belakang bersama Anna, tapi Pak Wono harus kembali pulang ke kampung karena ibunya sakit, keluarga Pak Wono ada di Jogjakarta. Pak wono punya kerabat dekat yang bekerja di setasiun jakarta jadi pak Wono menitipkan sepedanya di sana.
Sesampainya Pak Wono di kediaman Jovanka Pak Wono merasa ada yang janggal karena bekas peralatan pesta belum ada yang di bereskan sama sekali dan pintu rumah tertutup.
Pak Wono segera pergi ke rumah belakang untuk memeriksa keadaan Anna dan betapa teekejutnya pak Wono melihat pemandangan Emely yang tengah tidur dengan memeluk tubuh Anna yang berlumuran dara*.
Awalnya pak Wono mengira Emely juga sudah tidak bernyawa, Pak Wono terduduk bersimpuh melihat keadaan itu dan menagis tersedu-sedu.
Emely kecil mendengar pak Wono yang menangis dan berdiri di hadapan Pak Wono tangan kecil Emely yang penuh dara* Anna menghapus air mata di wajah pak Wono.
__ADS_1
" non Emely !" kata Pak Wono menghentikan tangisnya.
Emely mulai terisak dan mereka saling berpelukan.
" Non ngak papa ?" tanya pak Wono.
" Anna pakkkkkk !" teriak Emely semakin keras tangisannya. " Anna takkkkk mauuuuu bangunnnnn !" isak Emely.
" nonnnnnn !" pak Wono juga tak kalah keras tangisannya.
Mereka menagis sejadi-jadinya sambil memeluk satu sama lain, pak Wono bekerja di keluarga Jovanka sejak usianya 8 tahun dan kini usianya 20 tahun, Emely mengangap Pak Wono sudah seperti kakaknya sendiri karena kakak ke 4 Emely seumuran dengan pak Wono.
" di mana non yang lain ?" tanya pak Wono.
Emely menunjuk rumah besar dengan jari telunjuk tangan kanannya. Emely masih terisak.
Pak Wono hendak melangkah dari sana tapi Emely menarik tangan pak Wono sambil mengelengkan kepalanya.
" kenapa non !" tanya Pak Wono.
" siapa non yang melakukan ini semua ?" tanya Pak Wono dia menangis lagi dan Emely menunjuk ke arah di balik mobil Ayahnya.
Pak Wono berjalan perlahan ke arah yang di tunjuk Emely, dengan langkah gemetar Pak Wono perlahan mendekati mobil dan dia melihat kepala Tuan Karel yang berlumuran dara*, Tubuh Tuan Karel terlentang tak lagi bernyawa. Pak Wono seketika lemas dan terjatuh bersimpuh lagi.
" sebenarnya apa yang terjadi !" gumam pak Wono gemetaran.
Emely menjelaskan semua pada Pak Wono apa yang terjadi malam itu, Pak Wono tak habis pikir gadis 11 tahun seperti Emely bisa menembak kepala Ayahnnya hanya dengan sekali membidik.
Akhirnya dengan begitu ketakutan pak Wono masuk ke rumah besar dengan mengandeng tangan Emely. Pak Wono yang sangat ketakutan sampai muntah-mutah melihat maya*- maya* keluarga Jovanka.
Tapi pak Wono harus membersihkan ini semua. Paling tidak mereka harus di kubur dengan damai.
Pak Wono pun membuat beberapa liang kubur di halaman belakang, Sedangkan Emely mulai suka menyendiri dan melamun.
1 minggu di habiskan pak Wono membersihkan kejahatan Ayah Emely, dan dia bingung harus bagaimana sekarang.
" Pak Wono, ayo kita pergi saja dari sini !" kata Emely, dan pak Wono mau tak mau harus menuruti majikan satu-satunya itu.
__ADS_1
" pergi ke mana non !" tanya Pak Wono.
" Kemana pun, asal jangan di sini. !" ujar Emely yang memandangi kuburan keluarganya tanpa ekspresi.
" non mau tingal di kampung saya !" tanya pak Wono.
" iya pak !"
Emely dan pak Wono berangkat ke Jogjakarta lagi mengunakan kereta. Pak wono membawa semua harta benda milik keluarga Jovanka atas permintaan Emely.
Pak Wono membeli banyak tanah atas perintah Emely dan membuat pak Wono jadi orang yang kaya, tapi ke patuhan pak Wono tak surut sedikitpun untuk majikannya itu.
Pak Wono bertemu dengan ibu Andi yang dulu adalah bunga Desa di Desa itu, pak Wono menikahi Ibu Andi atas ijin Emely.
Dari situ ibu Andi membenci Emely, suatu hari Emely yang melakukan pendidikan di ilmu industri dan mesin di sebuah universitas kenamaan di Jogjakarta bertemu Jendral Husein.
Jendral Husein yang menjadi salah satu penopang yayasan universitas itu selalu memperhatikan Emely karena ketrampilan Emely yang sangat luar biasa.
Hari itu Andi berumur 1 tahun dan itu di tahun 1995, Emely mengunakan mobil jeep ke sekolah. Dia memang menjadi primadona di kampus, tapi Emely juga di kenal sangat dingin dan tak berperasaan.
Saat berjalan di koridor ruangan Emely bertemu dengan seseorang yang di kenalnya.
Om Lukas Jovanka adik terkecil ayahnya.
" apa kabar !" kata Lukas pada Emely.
" kenapa kau baru datang !" kata Emely datar, setelah di Jogjakarta Emely selalu menirim surat kepada keluarga Jovanka di belanda, Emely menceritakan semua kejadian yang di alaminya, tapi tak ada respon apapun dari keluarga Jovanka.
3 bulan setelah kejadian itu, Keluarga Emely telah di yatakan meningal semua dalam kecelakaan kembali ke belanda, dan dengan berat hati Emely harus menyembunyikan identitasnya menjadi Emely sardewo anak pertama pak Wono.
" kau masih secantik dulu !" kata Omnya dengan nada mengelikan, Emely terus berjalan dan melewati Lukas tanpa ada gejolak di jiwanya.
" Emely , ayo kembali ke belanda !" kata lukas sambil menarik tangan Emely dan, dengan kasarnya Emely memelantingkan tubuh Lukas yang 2 kali lebih besar darinya ke lantai.
" jangan bicara omong kosong, kau hanya mau harta ayah ku kan, nenek tau aku masih hidup karena itu dia menulis wasiat untuk bagian ayahku di serahkan ke aku. Bermimpilah di neraka jika kau inggin menguasai harta ku !" kata Emely masih dengan suara datar dan Emely mengeluarkan pisau kecil dari sakunya hendak menusuk Lukas.
Tapi ada seorang yang menahan tangan Emely, yaitu Jendral Husein.
__ADS_1