
Leo dengan lincah melompat dari rumah ke rumah tanpa menimbulkan bunyi, akhirnya dia tiba di sebuah gudang dan membuka pintunya, di sana semua peralatan tempurnya di simpan.
Dia berganti pakaian dengan jas hitam dan sepatu pantofel merek kenamaan dan menyetir mobil sedan BMW biru.
Gudang itu sangat luas dengan 4 mobil model berbeda dan senjata di simpan di dindingnya dengan teknologi tinggi. Serta gerbangnya yang bisa mendeteksi orang dan mengirimnya pada Leo serta bisa membuka dan menutup sendiri jika Leo mau keluar atau pun masuk, hanya Leo tidak untuk orang lain.
Leo memacu mobilnya dengan lincah di jalanan yang sudah mulai sengang karena ini jam 1 dini hari.
Leo berhenti di sebuah gedung tinggi dengan cepat dia memanjat memanjat gedung itu dengan alat seperti sepidermen. Leo dengan mudah membuka jendela yang di kunci dari dalam dan masuk ke ruangan yang di maksut.
Leo melihat sekeliling dan sembunyi di balik meja saat terdengar suara orang membuka pintu, Seorang dokter wanita yang sudah cukup tua masuk ke ruangan itu. Dia berjalan ke dekat meja tapi tak melihat Leo yang bersembunyi di bawah meja.
hp Dokter itu berbunyi dan dia mengangkat telfon itu.
" ada apa vin !" kata wanita tua itu.
" kamu di rumah nenek, ya nenek pulang deh !" kata wanita itu tersenyum manis.
" iya, iya nenek pulang sekarang !" kata wanita tua itu.
Wanita tua itu pun melepas jas dokternya dan pergi dari ruangan itu.
Leo Melanjutkan dengan tujuannya dia menakai sarung tangan lateks dan memeriksa setiap laci dan lemari, kehebatan Leo adalah bisa membobol dan mengunci kembali apapun yang dia buka.
Jadi tak kan ada yang curiga jika dia melakukan pembobolan. Leo terlihat menemukan berkas yang dia butuhkan dia mesecan setiap lembar berkas ity dengan kacamata yang tadi di simpan di sakunya. Leo mengembalikan berkas itu lagi ke dalam susunan yang sama.
Pekerjaan Leo sangat sempurna
Emely yang dari tadi duduk manis di kursi kantornya tiba-tiba berdiri.
Hendra yang baru masuk pun kaget melihat tingkah Emely. Hendra yang sudah terbiasa hanya diam tak bertanya dan membawa air teh di nampan yang sudah capek-capek dia buat untuk bos camtiknya itu.
Emely pergi ke rumah Alan. Sedangkan Alan tidur ngorok di kamarnya, Emely menelfon Alan.
" kenapa malam-malam nelfon ?" tanya Alan.
" kamu di mana ?" tanya Emely.
" di rumah !" kata Alan.
" aku di depan rumahmu, buka pagarmu !" kata Emely.
Alan pun segera turun dan melihat rekaman CCTV di komputer kerjanya.
" jangan-jangan dia !" kata Alan.
__ADS_1
Alan pun membuka pagar dan Emely masuk ke rumah Alan,
Alan sudah di ruang depan melihat gadis pujaanya turun dari mobil dan menuju ke arah pintu. Rumah Alan di lantai bawah cuma berlapis kaca jadi semua bisa di lihatnya.
Emely masuk dan melihat Alan yang masih memakai piama satin.
" ada apa ?" tanya Alan gugup.
Emely hanya mendekat dan memeluk tubuh Alan.
" bolehkah malam ini aku bersama mu !" Kata Emely.
"apa !" tanya Alan.
Emely mengeluarkan sapu tangannya dan mendekap mulut Alan dengan itu. Alan pun pingsan.
Leo melihat sebuah rumah dengan pagar yang sama dengan pagar rumah Alan.
Mawar di rumah ibu dan ayahnya di tengah malam.
Ayah Mawar sangat kaget kenapa malam-malam begini dia ke rumah Ayahnya.
" Vino kamu ke atas ya telfon nenek !" kata Mawar. Ayah Mawar bingung melihat Anaknya yang tak biasa datang ke rumahnya.
" hari ini aku bertemu dengan Emely teman sekampusku !" kata Mawar.
Ayah Mawar memasang wajah biasa saja, tapi Mawar bisa melihat ekspresi yang cuma sedetik berubah di wajah ayahnya itu.
Mawar mengingat dulu waktu Ayahnya masih berpangkat Bribda dan bekerja sebagai angota tim tindak krimilal di kota dulu Mawar lahir yaitu Jogjakarta.
Emely dan Pak Wono ayahnya memohon untuk menangani sebuah khasus. Dan saat Mawar melihat lagi Emely di kampus dia langsung bisa mengenali Emely sebagi gadis kecil yang dulu memohon pada ayahnya tapi malah di usir secara kasar.
Mawar selalu memperhatikan Emely bahkan saat Kapten Husein mulai memperhatikan Emely di kampus ataupun di luar kampus.
" Ayah selalu berdiri paling depan ketika berurusan dengan Jendral Husain, bukankah dia di kabarkan hilang ?" tanya Mawar.
" iya !" kata Ayah Mawar dengan nada tegas.
" Tim Alpa yang selalu ayah curigai itu bagaimana lah jadinya !" tanya Mawar.
" ngak ada tim seperti itu di negara kita !" kata Ayah Mawar.
" korban kamar no 5 adalah Date Note !" kata Mawar,
" benarkah, mungkin memang Date Note !" kata Ayah Mawar dengan ekspresi yang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
" Date Note masih hidup !" kata Mawar membaca Ekspresi Ayahnya.
" kau pasti setres menghadapi kahsus Kosan 4-13 itu, istirahat lah jika ada waktu dan jangan berfikir aneh-aneh !" kata Ayah Mawar berdiri dari kursinya dan menuju pintu keluar dari ruangannya.
" Apa Ayah mengangapku bodoh ?" kata Mawar, membuat Ayah Mawar berhenti. Mawar berdiri dan menghadap Ayahnya yang berdiri di depan pintu keluar ruangan itu.
" Ibrahim Hartono apa kau ikut menyembunyikan pembantaian keluarga Jovanka 30 tahun lalu ?" tanya Mawar Blak-blakan, membuat Ayahnya mengeraskan ekspresinya karena emosi yang memuncak.
" kurang ajar sekali kau, dengan semua yang telah ku lakukan untukmu, kau berani bicara begitu !" kata Ayah Mawar dengan nada tinggi.
" Ayah aku memang anak mu tapi aku juga seorang polisi, katakan !" kata Mawar dengan nada menahan isak sebenarnya Mawar sudah tau saat dia melihat halaman belakang kosan 4-13 yang sering di kunjungi melalui jalan belakang.
Kemarin Mawar mengunjungi tempat itu dengan Morgan dan mencoba mengali dan di sana Mawar dan Morgan melihat tulang belulang manusia.
Mawar dan Morgan mencari informasi tentang keluarga Jovanka dan mereka menemukan Emely Jovanka,
Ayah Mawar mendekat ke arah Mawar dan menampar anak semata wayangnya itu.
Ayah Mawar seperti menyesal melihat dia sudah di kuasai emosi. Mawar memegang pipinya yang sakit dan dia menagis sesegukan di depan ayahnya sampai berjongkok karena bagiamana bisa Ayah yang begitu dia hormati adalah orang paling busuk di negara ini.
" apa ayah juga akan menyuruh Date Note menghabisi ku !" kata Mawar dengan air mata masih mengalir deras di pipinya.
" kau bicara apa !" bentak Ayah Mawar hinga suaranya sampai ke telinga istrinya yang baru saja sampai di sambut Vino di luar.
" Ayah aku tau semua, aku punya buktinya !" kata Mawar.
Ayah Mawar tak bisa melakukan apa-apa lagi selain mengaruk kasar kepalanya bingung. Hal yang paling di takutkan adalah saat ini.
Saat di mana Mawar tau semua perbuatnnya, tapi kedudukan telah membutakan Ibrahim dengan dukungan Jovanka Eropa grup dia menanjak sampai sekarang dengan cara-cara liciknya dia sampai di sini.
Tapi anak satu-satunya, telah mengetahui segalanya yang dia sembunyikan rapat-rapat.
Leo melompat pagar itu dengan cepat, dan memasuki halaman rumah itu yang cukup luas.
Emely duduk di sebuah kursi dan di depannya meja bundar dengan sesuatu yang berkedip di meja seperti kunang-kunang.
Leo masuk dengan mudah dengan kepiawaiannya membuka pintu, dia melihat layar hpnya dan naik ke atas menuju tempat tidur Alan.
Betapa kagetnya dia yang memegang alat pelacaknya adalah Emely.
" apa kabar ?" tanya Emely pada Leo.
" kau !" kata Leo menyeringai dia dengan santai duduk di kasur Alan.
" di mana ikan ku !" tanya Alan.
__ADS_1