
Matahari mulai tinggi tapi Hani dan Anton masih tertidur di kasur dengan keadaan telanjang bulat di tutupi selimut.
Hp Anton berbunyi dan itu telfon dari pacarnya, Karena Hp Anton terus berbunyi Hani bangun dan mengangkat Hp Anton.
Hani berjalan menjauh dari ranjang, dia tak mau Anton tau dia mengagkat telfon dari tunangan Anton.
" Hallo !" kata Hani.
" siapa kamu !" tanya wanita di balik telfon.
" aku ?" Hani malah balik tanya.
" ini Hp Anton kan ?"
" iya !"
" di mana Anton ?"
" dia masih tidur !" kata Hani.
" tidur, kamu....?"
" iya dia menghabiskan malam ini dengan ku !" kata Hani dan perempuan di seberang telfon mematikan pangilannya.
Hani meletakkan lagi Hp Anton di meja dan membelai wajah Anton yang tertidur lelap di ranjang kamarnya.
Hani memakai baju kimono dan keluar dari kamar, rumah yang berantakan. Barang-barang yang berhamburan di sofa dan meja, almari TV yang tak ada TV nya. Wajah Hani yang mulai keriput mengeras kesal.
Hani berjalan menghentak ke arah kamar belakang, Kamar anak semata wayangnya Andi.
Hani membuka pintu kamar Andi dengan kasar, kamar Andi begitu rapi bertolak belakang dengan ruangan yang lain. Meski kamar Andi hanya dipan tanpa kasur dan meja serta almari, semua barang-barang Andi tertata rapi.
" kemana ini anak ?" tanya Hani yang emosinya sudah memuncak.
Hani hendak keluar tapi Hani melihat sepucuk kertas di atas bantal tidur Andi. Hani mendekati ranjang Andi dan mengambil kertas itu.
" Ibu aku pergi cari Ayah "
Isi surat itu Hani mengila dan melempar barang-barang di kamar Andi dengan berteriak-teriak.
__ADS_1
Anton sudah di depan kamar Andi hanya memakai celana pendeknya.
" ada apa sayang ?" tanya Anton yang semalam sudah menyepakati untuk memangil satu sama lain dengan sebutan sayang.
" ngak papa kok, emmmmm kamu cepat pakai baju ya aku ada urusan !" kata Hani berusaha menyembunyikan semua emosinya, dia tak mungkin bercerita ke Anton darimana Hani mendapatkan uang.
Hani kini sudah ada di hotel yang sama di mana Andi kemarin datang, dengan gaya bak sosialita Hani masuk dan menuju meja resepsionis.
" mbak anak saya ada di sini ?" tanya Hani yang lagaknya seperti bos besar.
" Andi sedang bersama wakil Direktur bu !" kata pegawai itu, membuat Hani khawatir.
" mereka di mana ya mbak ?" tanya Hani.
" ibu silahkan tunggu di ruangan wakil direktur, ini perintah dari wakil direktur !" kata pegawai itu.
Mau tak mau Hani mengikuti pengawal yang mengiringnya ke ruang wakil direktur, Hani yang sudah biasa pergi kesana melihat-lihat ke sekeliling ruangan mantan suaminya dengan senyuman karena mengingat permainannya dengan Anton semalam.
Setelah puas memandangi seluruh ruangan yang tak pernah berubah sejak Pak Wono menceraikan Hani, Hani duduk di sofa hitam di tengah ruangan besar itu.
Pak Wono datang dan duduk di depan Hani. Pak Wono hanya diam dan memandangi mantan istrinya yang duduk di sofa dengan gaya yang mengoda.
Hani menghentikan aksinya, dia sadar semua lelaki akan luluh jika di rayunya tapi tidak dengan mantan suaminya, yang meningalkannya saat malam pertama itu.
" kau tau Andi bukan anak mu ?" tanya Hani menatap pak Wono tajam.
" Hani berhenti bersikap murahan, apa kau tak pernah memikirkan masa depan Andi !" bentak pak Wono. Hani malah tertawa seperti orang kesetanan.
" aku harus memikirkan masa depan anak yang menghancurkan ku !" teriak Hani dengan emosi.
" kenapa kau menyalahkan Andi karena ke ja***ganmu !" kata Pak Wono tersenyum melihat tingkah gila mantan istrinya, Pak Wono begitu puas melihat Hani yang telah menghianatinya menjadi seperti itu.
" apa kau puas wono ?" kata Hani menangis.
" aku sudah menerima Andi dengan lapang dada, tapi kau masih berselingkuh. Apa aku terlihat seperti lelaki yang gampangan di matamu !" kata Pak Wono.
" setelah menikah kau tak pernah menyentuhku !" kata Hani penuh emosi, tanganya mengepal seakan dia sedang di rendahkan dengan cara yang kejam.
" kau bisa hamil meski aku tak pernah menyentuhmu !" kata Pak Wono.
__ADS_1
" Andi adalah anak ku bukan anak mu, jadi kau tak berhak membawanya !" teriak Hani.
" kau memanfaatkanku mengunakan Andi, aku tak masalah. Tapi jika dia datang ke sini sekali lagi. Aku akan pastikan kamu tak akan melihat Andi lagi !" Jelas pak Wono yang langsung keluar.
Hani duduk di sofa itu dengan penuh emosi dan tangis.
Sekuat apapun Hani memperbaiki hubungannya dengan Andi tak akan bisa membuat Andi menyukai ibunya itu, Andi semakin membenci ibunya yang hanya memikirkan kenikmatan bersama lelaki.
Hani selalu lupa tentang Andi jika sudah di mabuk cinta oleh lelaki, apa lagi lelaki yang lebih muda dari Hani. Hani akan memberikan apapun yang anak muda itu minta, asal memuaskan nafsu Hani yang begitu besar.
Hari itu hari kelulusan SMA Andi. Andi langsung pulang tak ikut arak-arakan siswa yang biasa di lakukan setelah lulus.
Andi mendapati ibunya memilih memuaskan nafsunya di rumah dengan Pemuda dari pada mengambil Ijasah Andi.
Andi sudah berada di puncak kesabaranya. Andi berjalan ke dapur dan dia memandangi sebilah pisau sangat lama, dengan suara desahan dan jeritan kenikmatan ibunya di kamar dengan pemuda yang juga mengeluarkan suara yang bernada kenikmatan.
Andi mengengam pisau itu dengan gemetar, dengan segala keberanian Andi yang masih memakai seragam lengkap berjalan ke kamar ibunya dengan penuh emosi.
" abaikan aku sepuas hati kalian !" kata Andi.
Andi membuka pintu kamar Hani dan dia melihat tubuh telanjang ibunya di tindih pria yang juga telanjang umurnya mungkin hanya tua benerapa tahun dengan Andi.
tanpa berfikir panjang Andi mengayunkan pisau ke pungung lelaki itu. Lelaki itu berteriak kaget dan mencoba lari, tapi Andi yang sudah di kuasai amarah dan karena lelaki itu sudah terluka Andi berhasil mengunci pergerakan lelaki itu dan menusuk tubuh pacar baru ibunya itu dengan mbabi buta, bahkan Andi tak peduli dengan ibunya yang berteriak ketakutan di atas ranjang tempat tidurnya dengan selimut menutupi tubuh telanjang Hani.
Setelah melihat lelaki itu tak bergerak lagi Andi berdiri dan melihat ke arah ibunya dengan wajah puas tersirat di sana. Andi melempar pisau penuh dengan darah itu ke arah ibunya.
Hani hanya menangis takut dan menahan tangisnya, Andi pergi dari kamar ibunya menuju kamar mandi dan mandi karena bajunya penuh dengan darah.
Hani menghubungi pak Wono.
" mas.....Andi....dia...!" kata Hani terbata karena takut melihat bagaimana Andi membun*** pacarnya di depannya.
" kenapa Andi ?" tanya Pak Wono yang juga kaget, tak biasanya suara Hani letakutan seperti itu.
" Andi membunuh orang !" kata Hani akhirnya dia menagis.
" di mana ?" tanya pak Wono.
" Di rumah !" kata Hani masih dengan tangis histerisnya.
__ADS_1