
" mari kita pemanasan sedikit !" kata Emely yang mengeluarkan Katana kebangaannya.
" baik lah, sebagai tanda terimakasih !" kata Leo yang mengeluarkan dua pisau sedang di kedua tangannya.
Leo maju dan Emely hanya menagkis setia serangan Leo.
Trang tring trang tring
suara pedang dan pisau saling beradu, parabot kamar Alan mulai berterbangan ke sana kemari.
Leo berhenti sejenak melihat lawannya itu, Emeli membelah rok sepan nya agar gerakannya seimbang.
" kau masih saja hebat !" kata Leo, dia mulai menyerang secara mendadak ke arah Emely tapi dengan tepat Emely menagkis serangan mendadak Leo.
" kehebatan mu memang tak ada duanya senior !" kata Leo dia mundur dan menyimpan senjatanya lagi.
" tapi yang membuatku bingung kau turun sendiri ke lapangan untuk misi sederhana di rumah itu !" kata Leo yang memang langsung bisa menebak siapa yang melakukan itu saat melihat maya* di kosan 4-13.
" jika bukan aku kau akan datang dan mengangu berjalannya misi itu !" kata Emely, dan Leo pun menunduk tanda omongan Emely benar.
" kau benar-benar hebat, senior !" Leo tersenyum menyeringai, dan raut wajah sedikit takut melihat siapa yang sebenarnya di hadapi.
" aku tak menyesal Leo, telah membiarkan mu hidup !" kata Emely.
Leo terdiam dan memutar kepalanya menghilangkan lamunan di otaknya.
" tapi aku menyesal masih hidup senior !" kata Leo.
" Briptu Leo Adrian lanjutkan hidupmu, berhentilah menjadi Date Note. nikamati hidupmu, aku sudah menghapus semua jejakmu. Itu perintah dari ku !" kata Emely penuh penekanan.
Leo menunduk dan matanya mengeluarkan air mata, dia menatap Emely dengan airmata yang menetes di pipinya.
" apa kau sedang memanfaatkan emosi ku ?" tanya Leo.
" aku memang berbeda dengan kalian, tapi aku telah menjadi bagian dari kalian. Aku iri pada kalian yang tak bisa merasakan apapun !" kata Leo sambil menagis.
" saat rekan kalian terbunuh, kalian hanya akan datang ke pemakaman dan tak sedikitpun mengeluarkan ekspresi sedih !" lanjut Leo
" saat rekan ku mat* karena melindungi ku, kau tau apa yang ku rasakan ?"
" aku tak pernah bisa tidur !"
__ADS_1
" aku tidur dalam ke takutan !"
" aku tak bisa hidup lagi senior, bunuh aku sekarang !" Kata Leo terbata-bata karena menahan isakan.
" aku bisa merasakan tapi tak bisa mengungkapkan !" jawab Emely datar.
" Tim 1 tingal aku seorang, aku selamat karena aku tak bisa ikut dalam misi !" lanjut Emely,
" Tim 2 hanya tersisa nomor 07 karena dia adalah Heker yang bekerja dari jauh, sedangkan tim 3 tak tersisa satu pun !"
" aku berencana membubarkan tim Alpa dan membuat semua angota tersisa hidup dengan tenang, termasuk kamu !" pungkas Emely masih dengan tanpa Ekspresi.
" senior itu tak akan mungkin terjadi !" Kata Leo.
" aku tau, tapi aku akan memastikan itu terjadi. Meski aku harus membayarnya dengan nyawaku sendiri !" kata Emely.
Leo duduk di atas atap gedung tinggi tubuhnya teterpa angin malam yang dingin, rambutnya berkibar menunjukan wajah rupawannya yang biasa di tutup i poni.
Wajah Leo terlihat frustasi dan dia mengingat kejadian pertama kali dia bisa bergabung dengan Tim Alpa.
Dia adalah siswa pelatihan di akademi polisi, Tiba -tiba di pangil dan di wawancara.
Leo dan 10 teman dari akademi polisi lain berada di kemp tentara yang jauh dari pemukiman dan tak boleh membawa alat komunikasi.
Ke 11 orang itu adalah lelaki semua, mereka hanya tersisa 8 karena 3 orang keluar karena tidak sngup menjalankan pelatihan yang sangat berat itu.
Mereka di beri tahu untuk bersiap akan di kirim ke markas pusat, yaitu Markas Tim Alpa.
Di jalan mereka bertambah 4 wanita.
" ada wanita juga !" kata teman Leo.
" tentu saja !" jawab salah satu wanita itu.
mereka asik mengobrol dan bercanda karena perjalanan ke Markas Tim Alpa sangat lah Jauh.
Mereka bercerita dari mana berasal dan memgapa mereka ada di sana, Leo juga bercerita semua yang dia miliki dan alami sebelum hari itu.
Akhirnya mereka sampai di sana, semua orang sudah di beri no dan tim yang akan di tempati.
Itu pertama kalinya Leo melihat Emely yang tampak seperti turis dengan katana di pingangnya.
__ADS_1
" selamat datang !" kata Emely menyambut mereka dengan dingin. Karena Emely tak bisa berekspresi hangat.
" kalian harus membawa senjata yang bisa kalian gunakan dengan mahir, semua orang di sini adalah Sychopath. Kalian tidak akan tau apa yang akan terjadi !" Penjelasan Emely cukup singkat dan semua orang yang bersamaku mengerti.
Aku selalu membawa dua belati bersamaku, sebenarnya Emely berbohong pada kami. Sychopath di sana tak seliar di luar, mereka ramah dan tak menyerang satu sama lain.
Sampai saat Leo melakukan misi, baru lah jiwa Sychopath mereka muncul. Jika ada angota yang di kira akan menghalanggi misi ketua kelompok akan membun*** angota itu tanpa segan.
Leo sebenarnya takut tapi dia tak bisa apa-apa selain menigkatkan kemampuannya bertarung dan mendeteksi musuh, dia tak boleh mat* di dalam misi. Itu tekatnya.
Leo sangat mahir belajar dan beladirinya begitu luar biasa di bisa mengalahkan ketua kelompok dengan mudah, akhirnya Leo di dapuk sebagai wakil ketua tim 3.
Mereka menjalankan misi di negara yang sedang perang, Leo selaku wakil ketua menjaga anak buahnya dan melindungi yang lemah, tapi tim 3 adalah tim Elite dan tugas mereka semakin berat.
Leo kehilangan seluruh batalion timnya, Leo pulang sendiri tanpa kawan-kawannya karena kebodohan ketuanya yang memakan umpan musuh, Leo bertahan dengan sangat kesulitan dia juga mendapat luka yang cukup parah.
Leo sampai di markas dan Emely yang juga baru saja pulang dari misi melihat Leo yang pucat duduk di atap gedung.
" kau kehilangan seluruh batalion tim 3 ?" tanya Emely.
" iya Senior !" kata Leo sambil terisak, karena dia dari tadi menagis.
" coba ku lihat lukamu !" kata Emely.
" tidak perlu senior !" kata Leo, tapi Emely bersikeras dan membuka paksa kaus hitam Leo.
" kau pasti berusaha keras, untuk tetap hidup !" kata Emely yang melihat betapa banyaknya luka di tubuh Leo.
Emely membuka tasnya dan mengobati luka Leo dengan benar, Emely sangat mahir mengobati luka seperti itu.
" bersiaplah aku akan menjahit luka ini !" kata Emely menunjuk luka menganga di dada Leo.
" iya !" kata Leo.
Leo menahan sakit karena Emely tak mengunakan obat bius, keringat mengucur di sekujur tubuh Leo. Tapi Leo mencoba kuat dengan memandang wajah Emely yang bak malaikat.
Emely melirik Leo " kau harus menahan hal-hal seperti ini, !" kata Emely dengan dingin dan melanjutkan karyanya di dada Leo.
setelah selesai Emely mengoles obat pada dada Leo dengan sepatula kecil yang seteril dan membungkus luka Leo dengan perban.
Emely pun mengelus kepala Leo dan mencium kepala Leo.
__ADS_1
" anak baik !" kata Emely, yang menarik wajah Leo untuk di peluk di perutnya.
" tim kalian baru saja di bentuk dan belum terjalin kerja sama, jadi wajar kalian kalang kabut dan berselisih di medan perang. Kemat*an mereka bukan salah mu Leo ingat itu !" Hibur Emely. Emely meniru apa yang biasa di lakukan Jendral Husein padanya ketika sedih.