
Semua orang di lorong itu kaget melihat wanita secantik Emely bisa melakukan hal semacam itu.
Kini Emely duduk di kursi sofa hitam panjang di hadapannya duduk Jendral Husein yang dulu masih berpangkat Kapten.
" kenapa kau membawa pisau ?" tanya Kapten Husein, mereka ada di ruang Rektor.
Emely sama sekali tak bergeming, padahal banyak orang yang takut pada Kapten Husein karena dia orang yang tegas.
" kalau di tanya jawab !" kata Kapten Husein tegas.
Emely hanya mendongak menunjukkan senyum khas Shychopath nya. " apa pun yang saya katakan akan di salahkan, bukankah lebih baik saya diam. Aku tak sarapan hari ini jadi aku tak punya banyak tenaga untuk berdebat !" kata Emely tanpa rasa takut.
" Emely Jovanka !" kata Kapten Husein, yang langsung membuat mata Emely terbelalak ke arahnya.
" keluargamu, mempunyai banyak rencana untuk menyingkirkanmu. Karena warisan yang kau miliki !" Perkataan Kapten Husein membuat Emely seperti tersambar petir.
" Dari mana bapak tau saya keluarga Jovanka !" tanya Emely yang mencoba untuk tenang.
" itu Rahasia ku !" kata Kapten Husein, kapten Husein mempunyai tubuh tinggi nan tegap, wajahnya tegas dengan kumis tak terlalu tebal, wajahnya orang jawa sekali dengan kulit khas sawo matang orang jawa.
Emely memdangani mata kapten itu, mungkin dia sedang mencari celah, tapi Emely hanya gadis beranjak dewasa.
" kau pasti mengira aku akan melukai mu !" kata Kapten Husain mencoba meredakan kekhawatiran di mata Emely.
" siapapun bisa melukai, dan di lukai. Kita sebagai manusia hanya punya 2 pilihan meneriam atau menangkisnya !" kata Emely yang membuat Kapten Husein semakin kagum.
" partama kali aku melihat mu aku yakin kau bukan gadis biasa !" kata Kapten Husain membalikkan tubuhnya karena pandangan intimindasi Emely membutanya tak nyaman.
" semua orang sama saja !" kata Emely yang semakin memperhatikan gerak-gerik orang yang bisa saja mengancam ketentramannya sebagai Emely Sardewo.
" apa ayahmu pernah cerita, dia pernah masuk militer saat muda !" kata Kapten Husein yang membawa sebuah amplop padaku.
" Ayahku seorang petani !" kata Emely, Pak Wono ayahnya.
" Karel James Jovanka !" kata Kapten Husein, Itu adalah nama kecil Ayah Emely dan hanya orang-orang dekat yang tau.
" siapa orang itu !" kata Emely yang begitu tak berekspresi tapi Kapten Husein adalah dokter pisikologi, dia tau Emely orang yang seperti apa.
Kapten Husein memberikan amplop itu dan dia menyuruh Emely membukanya.
Emely yang tanpa ekspresi sebenarnya sangat khawatir, dia takut pak Wono jadi dalam masalah karena melindunginya.
Tanpa membuka Amplop itu Emely bersimpuh di kaki Kapten Husein.
" Lepaskan pak Wono, aku akan melakukan semua perintah mu !" kata Emely tanpa keraguan.
" maungkin kau akan jadi orang lain jika bergabung denganku !" kata Pak Husein yang berjongkok mengimbangi tinggi Emely yang sedang bersimpuh.
__ADS_1
" bukankah sekarang aku sudah menjadi orang lain !" Kata Emely sambil tersenyum, tersirat kesedihan di mata Emely.
" keluargamu di belanda adalah keluarga yang cukup terpandang dan kuat, jika kau masih di dekat pak Wono, kalian semua akan dalam bahaya. !" kata kapten Husein.
" kenapa kau peduli padaku ?" tanya Emely yang masih duduk bersimpuh di hadapan Kapten Husein yang berjongkok.
" bukalah amplop itu !" perintah Kapten Husein.
Emely membuka amplop itu berisi foto Ibunya yang terlihat cantik dan muda memakai gaun selutut berwarna kuning dan pria berkulit coklat yaitu Kapten Husein dengan kaus dan celana bahan.
" Foto itu di ambil oleh Ayahmu, Ayahmu mengidap bipolar dari dia masih kecil, kondisinya semakin parah !" Jelas Kapten Husein.
Emely menatap foto itu lekat, dia ingat dia pernah melihat foto ibunya memakai baju itu satu frame dengan Ayahnya.
" Pak Husein bagaimana apa aku bisa percaya pada anda ?" tanya Emely sorot matanya terdapat sebuah harapan.
" kau tak boleh percaya pada siapapun Emely, kau hanya bisa percaya pada insting mu sendiri !" kata Kapten Husein.
" jika aku membahayakan mu kau harus membun*** ku, begitupun jika kau membahayakan ku aku akan membun*** mu !" lanjut Kapten Husein.
" Aku memang teman orang tua mu, tapi berapa orang yang telah kau bunu** ?" tanya Kapten Husein.
Emely kembali mengingat, Sewaktu kecil ada saudara lain berkunjung ke rumah Emely, singkat kata anak kecil itu bermain dengan Emely dan Anna yang masih 5 tahun.
Anak itu mengejek Anna yang memgalami down sindrom karena tidak terima Emely menjadi dendam. Emely mencari cara agar bisa menyelakai anak itu. ya..... Emely mendorong anak itu di tangga, dan anak itu tewas di tempat karena pendarahan di otak.
" kau sama seperti ayah mu !" kata Kapten Husein.
Emely bangkit dari duduk bersimpuhnya, dan bergumam.
" memang, aku suka melakukannya !"
Kapten Husein pun juga berdiri.
" kau tak akan berubah Emely, meski kau berusaha. Sisi lain dari dirimu itu akan keluar jika kau terancam !" kata Kapten Husein matanya memandang mata Emely tajam.
Emely berjalan keluar menuju pintu keluar.
" bergabunglah denganku, dan puaskan nafsu mu itu !" kata kapten Husain.
" Jika kau bisa membuatku melenyapkan seluruh angota keluarga Jovanka, aku akan melakukan apa yang kau ingin kan !" kata Emely langsung keluar dari sana.
Kapten Husein berjalan menuju jendela.
" dia lebih mengerikan dari pada Hariamau !" ujar Kapten Husein lirih.
HARI H
__ADS_1
" apa kau wanita itu ?" tanya Andi dengan wajah tegangnya.
" siapa ?" tanya wanita itu masih mengutak-atik Hp androitnya di samping tubuh Andi yang terikat dengan posisi kedua tangan di ikat di belakang tubuh Andi dan kaki di ikat jadi satu.
" Emely !" kata Andi wajahnya telah basah dengan keringat.
" emmmm, aku Emely !" kata Emely sambil mengalihkan perhatiannya pada Hp nya.
" aku sudah menunggu mu !" kata Andi sambil tersenyum, tapi raut wajah takutnya masih kentara.
" harusnya kau tak penasaran !" kata Emely dia duduk jongkok di bawah sehinga Emely bisa melihat wajah Andi yang tiduran miring karena terikat dengan jelas.
" kau membuat hidupku berantakan kenapa aku tak penasaran !" kata Andi mengertakkan giginya karena emosi sudah memuncak.
" kau adalah anak pak Wono satu-satunya, dan kau penyebab dia meningal. Tadi saat aku melihatmu di toko, membuatku merasa kau harus menemani pak Wono di sana !" Ujar Emely yang masih di posisi yang sama menikmati ketegangan di wajah Andi.
" kepa*** !" pekik Andi.
" bagiku, kau adik ku yang paling di cintai Ayah ku. Dia selalu menceritakan tentangmu jika berbicara padaku, entah kenapa aku tidak muak malah senang. Satu-satunya orang yeng mengangapku sebagi keluarga !" Jelas Emely.
" kau bicara omong kosong, Ayah tak pernah peduli padaku. Dia hanya peduli padamu !" teriak Andi.
" aku bukan anak kandungnya !" kata Emely membuat Andi terbelalak tak percaya.
" lalu kau siapa ?" tanya Andi masih dengan wajah kagetnya.
" Andi aku adalah anak dari majikannya, yang di buang keluargaku. Pak Wono sampai akhir hayatnya masih memangilku nona, dia selalu melihatku sebagai majikan !" Kata Emely santai Emely berdiri dan kembali ke arah jendela.
" kau tau kenapa banyak sekali kamar di rumah ini, aku punya 12 saudara lainnya !"
Emely melanjutkan ceritanya tentang kesalahan semua penghuni di rumah itu pada Andi dan memperlihatkan semua bukti jika Emely dan Hendra lah yang memancing semua orang-orang itu untuk berada di sana.
" aku di sini karena membu*** Ayahku kan ?" tanya Andi yang berlinangan air mata. Dia salah faham dengan Ayahnya selama ini.
" Andi aku tak bisa melepaskan mu !" kata Emely.
" lakukan !" kata Andi mantap.
Emely menodongkan pistol tepat di Kepala Andi.
" Kakak boleh aku meminta satu permintaan !" kata Andi.
" apa ?" tanya Emely.
" buat maya* ku tak di kenali !" kata Andi.
" kenapa !" tanya Emely heran.
__ADS_1
" karena aku pantas mendapatkannya !" kata Andi dengan wajah tanpa ketakutan lagi, tapi wajah kebahagian karena dia berhasil mempunyai Ayahnya seutuhnya.