
Mawar dan Emely menatap satu sama lain, mereka duduk berhadapan di sebuah coffee shop ternama di negri ini.
" kita satu kampus ?" tanya Emely pada Mawar yang menatap memgintimindasi pada Emely.
" kita lulus di tahun yang sama !" kata Mawar tanpa memalingkan pandangan tajamnya pada Emely.
" ohhhh begitu ya !" kata Emely dengan santainya sambil menyeruput kopi panas yang sudah dari tadi di sajikan di meja itu.
Mawar menghela nafas, entah apa yang di fikirkan. Dia hanya merasa frustasi dengan khasus yang di tangani sampai dia mengajak seorang Perwira tinggi angkatan darat yang teman sekampusnya bertemu untuk mengorek informasi.
" maaf jika aku lancang, tapi aku sangat frustasi dengan khasus yang ku tangani. Apa rumor itu benar ?" tanya Mawar blak-blakan.
" Rumor apa ?" tanya Emely.
" tim Alpa 1 sampai 10 ?" kata Mawar.
" menurutmu ?" tanya Emely balik, mereka bertatapan lagi dan Mawar menyadari bahwa Emely tau sesuatu tentang tim Alpa.
" hampir setiap negara punya tim seperti itu !" kata Emely dengan santainya dia menyandarkan tubuh kurusnya di sandaran sofa.
" apa mereka ikut campur dengan pembun***an di kosan 4-13 ?" tanya Mawar.
" lakukan saja tugasmu sebagai polisi, Publikasikan yang perlu masyarakat tau tanpa membodohi !" nasehat Emely.
" jika itu perbuatan tim Alpa ?" tanya Mawar menekan Emely.
" jika tim itu ada pasti mereka punya sistem juga !" kata Emely.
" Mungkin semua penghuni itu pantas mati tapi tidak begitu cara mengadili mereka !" kata Mawar dengan tegas, membuat Emely sedikit tersenyum.
" Kau berbeda dengan ayahmu !" kata Emely.
" kau kenal ayahku !"
" siapa yang tak kenal Jendral sehebat dia !" kata Emely dengan senyum yang berlain arti, Mawar pun menangkap senyum aneh Emely.
Mawar dan anak buahnya mengadakan konferensi pres tentang identifikasi korban pembun***an brutal di kosan 4-13.
Seluruh negri gempar dengan berita itu, semua korban yang terbun*** dia kosan adalah orang-orang yang memang pantas di bun*** semua orang jadi curiga tentang tim Alpa yang benar-benar ada.
(kayaknya seru setelah cerita ini buat cerita tentang tim Alpa π€π€π€
tim yang terdiri dari 10 tingkat dengan angota setiap tingkat yang berbeda, dan tugas yang berbeda-beda juga. di selipin romansa panas kesukaan kalian semua.
konten pemersatu bangsa tak pernah gagal ππ
tolong komen kalo ada yang setuju yakkkkkkππππ
terserah kalian setuju apa ngak aku pasti buatπππ entah di campur di sini apa buat judul berbeda nantiπ€
Autor mahhhhh bebasπ)
__ADS_1
Seorang direktur muda tampan sedang duduk melihat berita yang menayangkan konferensi pres tentang Kosan 4-13.
Dia hanya menghela nafas panjang, dia melongarkan dasinya dan melepas jas biru navy nya, dan menyandarkan tubuhnya yang sempurna ke sandaran sofa.
Dia memejamkan matanya dan kembali menghela nafas berat dengan wajahnya yang menghadap ke langit-langit kantornya.
pintu di ketuk
" ada apa !" kata lelaki itu.
" tuan Alan anda harus bersiap untuk miting dengan Jovanka grub !" kata sekertarisnya. Alan membenarkan lagi dasinya dan memakai jasnya lagi, tak lupa dia bercermin dan melihat betapa dia begitu sempurna. Tapi baginya itu percuma dia tak bisa menahlukkan hati pujaan hatinya Emely Jovanka yang memang 5 tahun lebih tua dari dia, tapi perasaan di hati Alan pada Emely adalah cinta pada pandangan pertama yang sulit di memgerti bahkan oleh Alan sendiri.
Alan melangkah keluar dengan cepat, dia ingin cepat menyambut Emely.
" Emely datang dengan kemeja lengan panjang yang pas di badan rampingnya dan celana dasar berpotongan ngantung tapi sangat paa di kaki panjangnya. Emely juga mengenakan high hils dan anting sederhana.
Alan menyambut wanita pujaannya di depan ruangan miting.
Ke 2 aliansi perusahaan raksasa Asia itu memasuki ruangan miting yang luas.
Mereka mengadakan kerja sama di bidang promosi karena perusahan Alan adalah perusahana iklan terbesar di Asia dengan koneksi tanpa batas.
Miting selesai dengan kesepakatan memguntungkan di kedua belah pihak.
Emely dan Alan pun ngobrol berdua di kantor Alan.
Emely duduk di sofa dan Alan membuat teh untuk Emely.
" aku turut berduka dengan wafatnya wakil direktur !" kata Alan.
" kau pasti sedih !" tanya Alan sambil melihat ke arah Emely saat membawakan teh untuk Emely.
" tidak juga !" kata Emely datar.
" kau selalu terlihat keren, jangan terlalu banyak berusaha !" kata Alan.
" haruskah begitu !" kata Emely.
" sedikit santai bisa membuatmu awet muda !" kata Alan.
" umur seseorang siapa yang tau !" kata Emely.
" biasanya kau tak suka berbicara pada siapa pun secara pribadi begini !" kata Alan.
" entahlah, aku merasa bisa sedikit santai sekarang !" jawab Emely dia meminum teh buatan Alan.
" apa itu lampu hijau !" kata Alan dengan senyum yang mengembang.
Emely memandang Alan dengan nakal.
" bukan itu lampu kuning !" kata Emely.
__ADS_1
" apa yang membuatku harus hati-hati !" tanya Alan.
" sesuatu yang berharga, harus di bayar dengan mahal. Sesuatu yang seperti itu !" kata Emely dia berdiri dan duduk di sandaran kursi di sofa Alan.
Jantung Alan berpacu, tak pernah dia duduk sedekat itu dengan Emely. Membuat Alan semakin yakin akan perasaannya pada Emely.
Alan memutar tubuhnya sedikit ke arah Emely.
" apa ini !" tanya Alan menahan gejolak di dadanya. Emely hanya memandang Alan dengan senyuman.
" kau tau aku menyukaimu, jangan mengoda ku jika akau akan menolakku lagi !" kata Alan.
" siapa yang mengoda mu aku hanya ingin melihat satu-satunya pria yang menyatakan cintanya padaku di tengah-tengah acara penghargaan !" kata Emely.
" aku malu, tapi aku puas !" kata Alan.
Alan meraih wajah Emely dengan tangan kananya dan mengelus lembut, Emely hanya diam. Alan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Emely, Emely masih stay dengan wajah polos tanpa ekspresinya.
Alan mengecup bibir Emely dengan lembut, Emely tak membalas kecupannya. Emely memejamkan matanya mencoba merasakan kelembutan kecupan Alan.
Emely menirukan kecupan Alan dan mengimbangi ciuman Alan yang semakin intens. Alan mengarahkan tubuh Emely untuk duduk di pangkuannya.
Alan melepas ciumannya dan melihat wajah Emely yang berbeda, wajah Emely yang bisa menikmati perasaan cinta. Hati gadis ini belum mati sepenuhnya.
Emely menarik wajah Alan dan menciumi Alan dengan sesuka hati Emely. Emely membuka dua kancing kemejanya karena merasa panas tanpa melepaskan bibirnya pada bibir Alan. Alan ikut membuka jasnya dan melongarkan dasinya.
tok-tok-tok.
Saking kagetnya Emely turun dengan cepat dari tubuh Alan dan duduk di sofa sebelah Alan.
" Pak Direktur keuangan sudah menungu anda !" kata sekertarisnya setelah membuka pintu.
" ya aku akan segera menemuinya !" kata Alan masih terengah karena ciuman Emely yang penuh nafsu.
Emely yang tak pernah menyangka akan selepas itu jadi malu sendiri.
Emely melihat ke arah Alan yang rambutnya berantakan karena ulahnya.
" aku mebuat rambutmu berantakan !" kata Emely menahan malu.
" Maaf sebaikanya aku pergi sekarang !" kata Emely dia mau berdiri tapi di tahan Alan.
" apa sekarang kita pacaran ?" tanya Alan.
" pacaran ?" tanya Emely bingung.
" kau mencumku karena menyukaiku kan !" kata Alan.
" tidak, aku menciummu karena kau penasaran. Bisa saja besok aku mati tapi tak tau rasanya berciuman dengan lelaki !" kata Emely datar.
" ini pertama kalinya kamu berciuman ?" tanya Alan.
__ADS_1
" iya !" kata Emely. " jika kau mau kita lakukan lebih dari itu lain kali jika bertemu !" kata Emely datar.
Alan kehilangan kesadaranya mendengar perkataan blak-blakan Emely itu. Emely selalu blak-blakan dia bahkan menolak ku dengan blak-blakan juga meski di siarkan di tv internasional. Emely bilang tak pernah berfikir tentang menikah atau berhubungan dengan laki-laki. dan baru saja dengan hot nya dia mencium Alan dan mengajak berhubungan lebih dari itu saat bertemu kembali.