
Mawar tiba di depan kantor kejaksaan. Dia berdiri di dekat mobilnya dengan henbusan angin pagi menerpa wajahnya yang cantik, rambut hitam pendeknya bergoyang goyang selaras dengan henbusan angin.
Mawar menenteng tas dengan ukuran cukup besar. Raut wajahnya menyiratkan sejuta arti. Dia sedang berperang dengan hatinya, menundukkan wajah cantiknya dan menuatkan diri.
" aku sudah memutuskan !" katanya Lirih dan berjalan menuju pintu gedung ke jaksaan.
Emely bangun tidur di sambut Alan dengan kecupan di keningnya.
" kau bisa masuk ke sini !" kata Emely yang malah memegang tangan Alan karena gerakan refleksnya.
" apa kau minta lebih !" goda Alan sambil tersenyum Emely melepaskan tangan Alan.
" kau tak mengunci pintunya !" jawab Alan.
" kita sudah sepakat kan kemarin !" kata Emely masih berbaring dan Alan menjauhkan wajahnya dari Emely.
" ya aku harus pastikan kau tak kabur, atau bun** diri sebelum itu !" kata Alan dan berjalan ke meja tengah ruangan dan duduk di sana, di meja sedah penuh dengan makanan enak.
Emely bagkit dari kamar ranjangnya dia hanya mengunakan kaus singlet tanpa dalaman dan celana pendek di atas paha yang pendek, tapi dia meraih kimono tipis di ujung ranjangnya dan mengenakannya.
Sebenarnya itu tak membantu menutupi ke indahan tubuh Emely, tapi bagi Emely Alan bukan lelaki di hadapannya.
Emely duduk di depan Alan dengan santainya.
" Nagaku berdiri !" kata Alan menghentikan suapan di mulutnya dan merubah cara duduknya. Emely hanya memandang sahabatnya yang kini mungkin mengangapnya musuh dengan tatapan biasa saja.
" kau tak boleh hamil sebelum rencanamu selesai kan !" tanya Alan membuat Emely bingung.
" Rahimku hancur saat aku melakukan misi, jadi aku mengangkatnya. Aku tak bisa hamil !" jelas Emely dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Emely di kamar mandi membasuh wajahnya dan Alan masuk mendekap tubuh Emely dari belakang. Alan mengecup lembut tengkuk Emely yang kini berdiri tegak membelakangi Alan.
Emely yang belum pernah di sentuh seperti itu mulai memejamkan matanya tanganya meremas pingiran wastafel kamar mandinya.
Alan membalikkan tubuh Emely dan mencium bibir Emely dengan lembut dan Emely juga membalasnya.
Sentuhan Alan pada Emely semakin liar membuat Emely tak bisa menahan desahan lembut di bibirnya yang seksi.
Alan semakin semangat mendengar desahan Emely yang semakin kuat dia tak bisa berfikir lagi, di hadapannya wanita yang dia cintai sudah siap untuk dia puaskan .
Alan melepas kemeja putihnya dan dia lanjutkan melepas kimono tipis Emely.
" Emely, aku mencintaimu !" kata Alan, tapi Emely tak mengucapkan apa pun hanya desahan kenikmatan yang keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Leo keluar dari rumahnya di sana ada Yosi yang seperti melihat-lihat sekitar.
" Yosi !" kata Leo kaget.
" kau tingal di sini ?" tanya Yosi.
" iya kenapa !" kata Leo cuek.
" kamu tuh ya ngak sopan banget aku susah-susah ke sini tapi kamu ketus gitu !" kata Yosi marah.
" kenapa ini bisa di meja mu !" kata Yosi mendekati Leo yang berada di depan pintu kontrakannya.
Leo memandang malas amplop yang di bawa Yosi.
" kau mengundurkan diri ?" tanya Yosi.
" kau mau masuk ngak ?" tanya Leo seperti ngak ikhlas menyuruh Yosi masuk.
Yosi melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah Leo yang meski kecil tapi tertata rapi.
" kau yakin mau keluar !" tanya Yosi yang malah mengikuti Leo ke dapur.
" iya !" kata Leo dia menyalakan kompor dan berbalik melihat Yosi.
" kopi, teh ,susu ?" tanya Leo.
" Kopi susu !" kata Yosi.
Leo berbalik dan Yosi mendekatinya.
" kamu bisa buat ?" tanya Yosi, Yosi melihat sekeliling dapur dan membuka kulkas dia melihat ada mie instan di dalam kulkas dan dia mengambilnya. Lalu melempar ke dekat kompor.
" aku juga lapar !" kata Yosi santai.
Leo hanya diam menahan emosi melihat tingkah seniornya yang memperbudaknya padahal ini pertama kali Yosi datang ke rumah Leo.
Yosi tersenyum memperhatikan Leo memasak mie instan dengan lihainya, Leo juga mengoreng telur mata sapi.
" jika aku menikah dengan mu, aku tak perlu khawatir kelaparan !" kataku.
" Menikah ?" tanya Leo terbelalak kaget.
" em !" jawab Yosi.
__ADS_1
" aku yakin kau sedang mengodaku dengan tubuhmu, di Palembang kau santai sekali ganti baju di depanku. Lalu sekarang kau hampir telanjang dan memasak untukku !" Kata Yosi dengan PDnya.
Leo memandang Yosi dengan tatapan sedikit aneh.
" kau mau tidur dengan ku ?" kata Leo,
" kita sering tidur bersama !" jawab Yosi karena mereka rekan jadi sering bersama.
" melakukan Sex !" kata Leo sambil menyiapkan mie instan serta kopi susu untuk Yosi.
" kau orang yang perhitungan dan tak suka di ajak bercanda !" kata Yosi keluar dari dapur dan memutuskan ke ruang tamu dan duduk di sofa.
" bercandamu itu membuat orang salah faham !" kata Leo yang keluar dengan nampan yang berisi 2 gelas kopi susu dan 2 piring mie istan.
" dengan wajahmu dan postur tubuh yang kau miliki aku bisa saja melakukan Sex dengan mu tapi setelah itu kita tak bisa seperti sekarang ini !" kata Yosi sambil menyantap mie instannya.
" lagian aku tak tertarik menjadi polisi seumur hidupku !" jawab Leo.
" bertahanlah sampai kasus Kosan 4-13 selesai, khasus yang sangat rumit !" kata Yosi dengan mulut penuh.
Leo memandangi Yosi dengan tajam.
" apa ?" tanya Yosi.
" tidak !" Leo mengambik piring mie istannya dan menyantapnya.
Alan memeluk tubuh Emely dan mengecup bibir Emely yang masih bergetar di bawah tubuh Alan. Alan menciumi leher Emely yang masih merasakan puncak kenikmatan yang baru saja di capainya.
" Alan !" kata Emely masih terengah, tapi Alan tak menghiraukan pangilan Emely dan memulai mengerakkan tubuhnya lagi di atas tubuh Emely.
Emely memutar bola matanya karena kenikmatan menguasai tubuhnya lagi. Emely meraih tubuh Alan dan memeluknya.Untuk pertama kalinya Emely merasakan kenikmatan surga dunia, dia tak tau harus bagaimana menangapi kenikmatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia hanya bisa menuruti semua yang Alan arahkan.
Mawar duduk di depan Jaksa Agung dan dia menyerahkan tas hitam besar yang di bawanya.
" apa ini !" kata Jaksa Agung itu bingung.
Mawar tak menjawab pertanyaaan Jaksa Agung dan betapa kagetnya Jaksa Agung itu melihat apa yang di bawa Mawar.
" nak aku tau kau polisi, tapi ini. Kau bisa menghancurkan negara ini !" kata Jaksa Agung.
" aku hanya melakukan apa yang bisa ku lakukan sebagai salah satu rakyat di negara ini !" kata Mawar, dia pergi dari sana.
Dengan langkah yang berat Mawar menelusuri lorong keluar dari kantor Jaksa Agung di sana dia tak tahan menahan air matanya dan dia pun terduduk dan menagis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Tas itu berisi bukti kejahatan Ayahnya yang di dapat Mawar dari Emely.