
Setelah selesai makan Ayah Bella naik ke kamarnya di ikuti oleh Robi. Ayah Bella masuk ke kamarnya dan tak mengunci pintu, Robi masuk ke kamarnya dan mengambil pistol yang di simpan di bawah kasurnya. Pistol itu adalah pistol Ayah Bella yang di curi Robi dan di pasang peredam oleh Robi. Robi adalah lulusan Akademi kepolisian jadi dia tau benar bagaimana cara kerja setiap komponen senjata api.
Robi dengan lagkah santai keluar dari kamarnya dengan pistol tadi di tangan kirinya karena dia kidal. Robi Membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat Ibu Bella masuk ke kamar yang sama yang di masuki Ayah Bella tadi.
" Sudah saatnya !" gumam Robi sambil menyeringai mengerikan.
Langkahnya sangat gontai dan tak ada rasa merinding atau adrenalin di tubuh Robi, Robi menikmati setiap detik proses itu. Robi membuka pintu kamar Ayah Dan Ibu Bella dan...
Duarrrrrrr..... Duarrrrrrr
Robi menembak Mereka yang sedang berdiri di ujung kamar. Robi menembak di bagian yang tak terlalu bahaya ya itu bahu kedua orang yang membesarkannya , Robi mengeluarkan pisau dari sarungnya.
Robi mendengar Pintu depan di buka dan sang pembuka berjalan ke kamarnya, yaitu Bella.
" Robi kamu !" kata Ayah Bella yang sudah kesakitan tersungkur di lantai, sementara ibu Bella pingsan.
" Paman maafkan aku !" Kata Robi, dia mengayunkan pisaunya tepat di jantung Ayah Bella tak cukup sekali, Robi mengulanginya berkali-kali. Setelah puas dengan menusuki Ayah Bella, Robi masih melampiaskan ke brutalannya pada tubuh Ibu Bella yang tak sadarkan diri. Di tengah- tengah ke asikannya melampiaskan emosinya, Robi mendengar langkah kecil Bella menuju ruangan itu.
" sayangku, kita tak jadi berpisah !" kata Robi yang masih terus menusuk perut dan dada ibu Bella.
Ke esokan harinya polisi sudah memenuhi rumah Bella, Bella di rawat di rumah sakit karena tak sadarkan diri dengan luka yang di alaminya di bagian sensitifnya.
Robi di introgasi di ruangan polisi.
" semalam kamu kemana ?" tanya polisi itu.
" dari sore saya di rumah pacar saya pak, dia sakit jadi saya menginap di sana !" ucap Robi sambil menahan isak.
" harusnya saya di rumah saja, paman dan bude serta Bella tak akan seperti ini !" teriak Robi di sela tangisannya.
Akting Robi begitu meyakinkan, bahkan pendeteksi kebohongan pun tak bisa mendeteksi kebohongan seorang Robi yang tega membu*** orang yang membesarkannya selama ini.
Saat pacar Robi di introgasi dia mengatakan hal yang sama, pacar Robi adalah mahasiswa yang belajar di Universitas bukan di kota asalnya, dia di kota itu mengontrak rumah. Sehinga alibi Robi sempurna, di tambah Bella koma seminggu. Dan setelah koma Bella hilang ingatan.
__ADS_1
Robi melalui tes masuk kepolisian dengan sangat mulus, semua orang iba padanya karena pembu***an ke dua kerabatnya itu. Robi selalu bercerita akan mencari pembun** paman dan budenya, yang pelakunya dia sendiri. Dia mendapat semua simpati yang luar biasa karena cerita palsunya.
Sampai usia Bella menginjak 17 tahun dia di kelas 2 SMA. Bella sering memimpikan bagaimana dia melihat penjahat yang telah membun** ibu dan ayahnya, Bella selalu bercerita pada Robi tentang hal itu. Robi hanya memeluk dan menenangkan Bella dan menyuruh Bella tak perlu memikirkan hal itu, tentu saja jika Bella sampai mengingat semuanya apa yang bisa terjadi pada Robi.
Robi sedang di kantor menyelesaikan berkas karena dia sekarang sudah mendapatkan khasus yang harus di tangani.
truttttt....... truuut
Hp Robi berdering dan itu SMS dari pacar Robi yang dulu di suruhnya menguatkan alibi Robi.
" Robi masih ingat aku ????
ayo kita bicara....dan bawa uang ya " isi SMS pacar Robi itu.
Robi hanya diam dan tiba-tiba menyeringai.
Pacar Robi menungu di sebuah rumah makan cina, Robi pun masuk dan menyapa yang sekarang sudah jadi mantan pacarnya itu.
" udah lama, pesan lah makan !" kata Robi ramah sembari duduk di dekat mantan pacarnya itu.
" wahhhhh kau semakin cantik sayang !" kata Robi memuji mantan pacarnya itu yang memang benar cantik, berkulit putih wajahnya oriental dan tubuhnya padat berisi.
" kau selalu mengataiku cantik !" kata matannya sambil tersipu.
" apa lagi jika kau tak pake apa-apa, itu luar biasa !" Robi mengatakannya penuh nafsu.
" benarkah !" Mantan pacar Robi mengatakannya sambil megigit bibir bawah nya.
" jangan begitu, kau tau aku cepat sekali tergoda !" kata Robi yang mengengam tangan mantan pacarnya itu di arahkan ke bagian sensitifnya yang mulai tegang.
" kelihatnnya kau masih sehebat dulu !" mantanya mulai salah tingkah.
" aku lebih hebat dari yang dulu sayang !" pungkas Robi, karena pelayan datang membawa makanan yang di pesan mantan pacar Robi.
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumah sewa mantan pacar Robi untuk memuaskan nafsu mereka masing-masing. Robi memberikan semua yang di minta pacar Robi itu. Robi menunjukkan cinta yang luar biasa ke mantan pacarnya itu. Tapi di balik itu.
" kamu ngak bisa jemput sayang !" kata mantan pacar Robi yang sedang naik taksi.
" engak sayang, tiba-tiba aku dapat pangila khusus !" kata Robi yang sudah di dalam rumah sewa mantan pacarnya dengan lampu tak di nyalakan. Robi mengunakan jaket bertudung hitam.
" ya udah lah, ini aku udah naik taksi dan bentar lagi sampai rumah kok !" kata pacar Robi.
" sayang, langsung balik ke rumah loh ynk, turun di depan rumah !" suruh Robi.
" iya-iya !"
Tak lama Robi melihat dari jendela rumah sewa itu dan taksi mantan pacarnya sudah tiba di sana.
" saat nya bermain !" kata Robi sambil menyeringai.
Mantan pacarnya itu masuk rumah tanpa curiga, dan Robi membekap mantan pacarnya itu dengan obat bius sampai mantannya itu pingsan.
Robi duduk di kursi dan kakinya di letakkan di atas meja, dia memainkan pisau lipat di tanganya.
Tak jauh dari tempat duduknya mantan pacar Robi sudah tergantung tak bernyawa dengan dara* yang membanjiri sekujur tubuhnya yang tenjan*.
" kau memang terlihat sangat luar biasa sayang saat tak mengenakan apapun !"
Robi dengan santainya pergi dari rumah itu dan membakar sarung tangan lateks yang baru saja di gunakan untuk aksinya.
Megan dan Bella sedang di rumah Megan untuk belajar kelompok. Ibu Megan memgantar buah-buahan yang sudah di potong dan jus ke kamar Megan dimana Bella dan Megan sedang belajar.
" nak ibu mau ke dokter dulu ya, kalau ada apa-apa pangil bibi Iyem aja ya !" kata Ibu Megan yang udah rapi berdandan.
" emang tante sakit apa?" tanya Bella penasaran, ibunya Megan terlihat baik-baik saja.
" tante lagi banyak pikiran Bell jadi tante periksa ke psikiater, tante juga merasa ngak tenang gitu entah kenapa !" jelas Ibu Megan
__ADS_1
" ya udah ibu pergi dulu ya !" kata ibu Megan pergi dari kamar.
" Megan apa aku juga harus ke psikiater ?" tanya Bella.