Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Aku gak bosan


__ADS_3

Aku sangat lega saat jam pelajaran dosen baru berakhir. Karna sejak dari mula memberikan materi pelajaran pada kami. Dosen baru itu selalu senyum padaku, saat ia melihat aku. Mungkin, aku sangat lucu dimatanya. Bukan wajahku, tapi tingkah aku hari ini membuat semua orang merasa aku aneh.


"Nia, apa yang kamu lakuakan sih sebenarnya. Aku lihat dosen baru itu selalu senyum saat melihat kamu," kata Bayu.


"Iya Nia, masalah apa lagi yang kau ciptakan sehingga itu dosen kayaknya suka sama kau," kata Safat.


"Hush ... suka-suka, mana ada orang yang baru kenal langsung suka aja sama aku. Kalo bicara jangan sembarangan deh Safat, aku jitak juga kamu nanti," kataku gemes campur kesal.


"Habisnya, itu dosen baru kayak kenal aja sama kau Nia. Curiga aku Nia sama kau," kata Safat.


"Iya, apa kalian sudah saling kenal Nia?" kata Bayu ikut mengintrogasi aku.


Inilah yang aku sangat kesal pada kedua temanku. Mereka terlalu ikut campur dalam urusan aku. Mereka akan bertanya padaku apa yang mereka rasa tidak wajar. Sebelum aku jelaskan pada mereka, mereka akan terus bertanya padaku. Aku tidak punya pilihan lain selain menjelaskan apa yang membuat mereka penasaran.


"Oke, aku jelaskan apa yang telah terjadi antara aku dan dosen baru itu. Dengarkan baik-baik agar kalian tidak bertanya lagi."


"Tadi pagi, karna aku pikir aku akan terlambat setengah jam. Maka aku berlari agar aku sampai kekelas secepat mungkin. Aku kira, yang masuk pagi ini dosen yang biasa. Namun aku salah, jam pelajarannya ternyata diundur dan dosennya yang lain," aku menghentikan ceritaku sejenak.

__ADS_1


"Itu aku udah tahu, kenapa kamu gak langsung pada pokoknya aja Nia. Kenapa kamu harus menceritakan semuanya dari awal," kata Bayu.


"Iya Nia, di sana tidak ada cerita antara kau dan dosen baru," kata Safat.


"Kalian bisa sabar gak sih, aku kan belum selesai. Katanya minta aku ceritakan, agar kalian tidak bertanya lagi makanya aku ceritakan seditail mungkin. Jadi tolong dong jangan protes," kata aku mulai kesal.


"Yaudah lanjutkan, maaf," kata Bayu.


"Ogah, aku mau keluar cari makan sekarang," kataku sambil bangun dari dudukku.


"Eh, gak bisa gitu dong. Katanya mau cerita apa yang terjadi," kata Bayu.


Aku berjalan sendiri keluar dari kelas, kedua temanku ternyata menyusulkan dari belakang. Mana pernah tinggal sih kedua temanku itu. Ia bagaikan ekor yang selalu ada di belakang aku.


Saat aku berjalan aku melihat kebelakang. Melihat temanku yang berada dibelakang ku. Tanpa sadar aku menabrak punggung seseorang.


"Aduh," kataku sambil melihat siapa lagi kali ini yang aku tabrak.

__ADS_1


Ternyata pungung pak Rama, pak Rama membalikkan badannya melihat kearah aku. Pak Rama tidak berjalan sendiri, ia berjalan bersama dengan temannya. Dosen baru yang bernama Rico yang aku tabrak tadi pagi.


"Kamu gak bisa jalan dengan benar ya," kata pak Rama.


"Maaf pak, saya gak lihat depan tadi," kataku dengan senyum manis.


"Jadi kamu lihat belakang, jangan suka modus jadi orang," kata pak Rama.


Aku merasa kaget sama apa yang pak Rama katakan. Ia bilang aku modus, padahal aku memang benar tidak melihat depan.


"Saya gak modus kok pak, saya beneran gak lihat bapak didepan saya," kataku mencoba menjelaskan.


"Sampai kapan kamu bosan dekatin saya, saya udah sangat bosan kamu dekatin tahu gak," kata pak Rama.


Dosen baru itu melihat kearah aku, ia menatapku sedangkan aku tidak perduli sama apa yang ia pikirkan. Yang aku pedulikan adalah pak Rama.


"Saya gak akan bosan untuk mendekati bapak, sampai bapak terima saya sebagai kekasih bapak."

__ADS_1


Kata-kata itu mengalir saja dengan sendirinya dari mulutku. Tanpa memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang aku. Dan tidak aku pikirkan apa yang pak Rico pikirkan.


Para mahasiswa baik lelaki maupun perempuan melihat kearah aku dan pak Rama. Mereka menjadikan aku bahan tontonan karna apa yang aku katakan. Ada yang mencibir aku dari belakang, ada juga yang mengatakan aku tidak tahu malu.


__ADS_2