
Dengan berat hati, aku diantar oleh kedua orang tuaku sampai depan pintu rumah kami. Saat itu, air mataku semakin turun deras. Bagaimana tidak sedih saat ini, aku harus berpisah dari kedua orang tuaku yang selama ini selalu ada untukku. Dan aku harus mulai kehidupan baru dirumah yang belum pernah sama sekali aku datangai.
Tapi bagaimana lagi, kalau sudah adat harus dijalani dengan lapang dada dan ikhlas. Itu juga yang aku ingin bukan, menikah dengan orang yang aku cintai. Cepat atau lambai, suatu hari nanti aku juga akan menikah dan meninggalkan orang tuaku. Masih beruntung aku menikah dengan orang yang tinggal satu kota denganku. Kalau aku nikah sama orang yang beda negara atau beda kota sajalah. Itu akan memerlukan waktu yang lama baru aku bisa berkunjung kerumah orang tuaku.
Mama dan papa terlihat sedih saat mengantarkan aku didepan pintu. Tapi mama mertuaku menguatkan hati mereka. Mereka saling berpelukan dan membawa aku masuk kedalam mobil.
Pak Rama sudah duduk manis didalam mobil saat ini. Aku melihat mama dan papaku saat mobil sudah dijalankan. Mereka tersenyum pahit padaku yang menangis.
Aku terus melihat mereka, hingga mobil itu jauh berjalan dan aku tidak bisa melihat orang tuaku lagi. Aku dan pak Rama duduk dalam satu mobil. Namun pak Rama duduk sangat jauh jaraknya dengan aku.
"Kenapa kamu harus menangis, bukankah ini yang kamu inginkan selama ini," kata pak Rama padaku.
Aku diam saja sambil menundukkan kepalaku. Tidak ada yang bisa aku jawab apa yang pak Rama katakan.
Pak Rama menatapku dengan tatapan tidak sukanya. Lalu ia membuang pandagan keluar jendela mobil. Aku juga begitu, aku membuang pandaganku keluar. Tidak ingin memikirkan apa yang pak Rama katakan tentang aku.
__ADS_1
Gemerlapan lampu yang menghiasi jalan saat malam terlihat sangat indah. Mobil terus saja berjalan melintasi berbagai macam kenderaan lainnya. Hingga akhirnya, mobil memasuki halaman sebuah rumah yang terlihat sangat indah. Rumah besar yang terang benderang karna lampu yang menghiasi saat malam hari.
Aku melihat sekeliling rumah itu, rumah besar yang indah dan tertata rapi. Ada sebuat taman bunga disamping rumah. Ada ayunan juga di taman bunga itu. Air mancur yang berdiri kokoh didepan rumah. Rumah yang sangat bagus dan terawat.
"Selamat datang dirumah baru kamu sayang, inilah rumah keluarga Williom yang akan menjadi tempat tinggal baru mu," kata mama mertuaku.
"Makasih mama," kataku lirih.
Pak Rama berjalan meninggalkan aku dan mamanya dibelakang. Ia tidak memperdulikan aku yang baru datang kerumahnya ini.
"Ram, kamu kok gitu sih," kata mama menghentikan langkah pak Rama.
"Gak boleh gitu dong Ram, barengan sama istri kamu lah masuk rumahnya."
"Rama duluan aja ma, Rama capek soalnya," kata pak Rama tanpa melihat aku.
__ADS_1
Ia langsung saja meninggalkan aku dan orang tuannya.
"Ayo sayang, maafkan sikap Rama yang dingin itu yah. Mama yakin, kamu sudah tahu jugakan bagaimana Rama," kata mama padaku.
Aku berusaha senyum manis, walau hatiku rasanya tidak enak. Ada yang sakit disudut hatiku. Tapi aku tidak ingin menunjukkan pada mama mertuaku, kalau aku sakit hati.
"Gak papa ma, aku juga tahu sedikit tentang pak Rama. Karna ia rektor yang disegani di kampus. Yaitu karna sifat dinginnya itu," kataku pura-pura baik-baik saja.
"Yah, dulunya anak mama itu tidak dingin Nia. Anak mama itu adalah lelaki yang paling hangat dan paling baik saat bersama. Tapi semuanya berubah sejak kejadian itu," kata mama dengan wajah sedihnya.
"Sudahlah ma, jangan ungkit apa yang sudah berlalu. Ayo bawa menantu kita masuk kedalam rumah," kata papa.
"Oh iya ya, ayo sayang masuk. Ini adalah rumah baru mu."
Mama pun mengajak aku masuk kedalam rumah. Memperkenalkan aku dengan dua asisten rumah tangga yang bekerja dirumah ini. Dan memperkenalkan padaku dengan tukang kebun dan sopir.
__ADS_1
Aku disambut oleh semuanya dengan ramah. Aku merasa senang sama sambutan yang mereka berikan diawal pertemuan kami. Lalu, mama mengantarkan aku disebuah kamar.
Mama mengetuk pintu kamar itu, terdengar suara seseorang didalam kamar yang mempersilakan mama masuk. Aku sudah menebak, dari awal kamar siapa yang mama ketuk itu.