Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Gadis Kuat


__ADS_3

Hari ini, aku datang kekampus dengan semangat baru yang aku bangun semalaman. Setelah aku bicara sama mama dan papa, kalau aku tidak jadi pindah kuliah. Aku pun berusaha membangun semangat agar aku tidak merasa tersisihkan dikampus ini.


Saat aku datang di jam biasanya aku kekampus. Mobilku berpas-pasan dengan mobil pak Rama yang juga baru sampai dikampus.


Aku pun turun dari mobilku, lalu berjalan melewati pak Rama yang berdiri tegak di samping mobilnya. Tanpa melihat bahkan melirik pak Rama sedikit pun. Aku lewat begitu saja didepan rektor tampan yang telah membuat hatiku jatuh cinta sekaligus patah hati dan malu.


Aku tidak tahu apakah yang pak Rama pikirkan tentang aku. Yang jelas, aku tidak ingin berhadapan lagi dengan pak Rama sekarang. Bahkan aku stop niat ku untuk mengejar cintanya pak Rama. Untuk sementara waktu sih, kayaknya.


Aku terus berjalan tanpa memperdulikan apa yang orang lain katakan tentang aku. Teman-teman yang bermulut manis dan suka ngomongin orang aku lewatkan begitu saja. Aku tidak ingin menanggapi apa yang mereka katakan tentang aku. Biarkan saja mereka bicara, sampai mana mereka tahan untuk terus bicara keburukan orang lain.


Saat aku sampai dikelasku, kedua teman ku sudah ada didalam dengan dudul manisnya.


Mereka merasa kaget saat melihat aku yang ada didepan pintu kelas.


"Rania ..." kata kedua temanku serentak.


Otomatis, semua teman ku yang ada didalam kelas itu pun melihat kearah aku yang sedang berdiri didepan pintu masuk kelas.


"Lho, kok kalian kayak kaget gitu sih saat melihat aku. Ada yang salah sama aku ya?" kataku pada semuanya.

__ADS_1


Semua teman yang ada dikelas, menggelengkan kepala. Kemudian mereka kembali pada aktifitas yang mereka kerjakan sebelum melihat aku.


Aku berjalan kemejaku, lalu duduk dikursi yang biasanya aku duduki. Aku merasa mereka terus memperhatikan aku walau saat aku lihat mereka, mereka seolah tidak melihat aku.


"Nia, kamu kekampus lagi hari ini," kata Bayu.


"Ada apa Bay, kenapa aku gak boleh kekampus?" kataku santai.


"Kau baik-baik saja Nia, apa kau sudah lupa apa yang terjadi semalam?" kata Safat yang akhirnya dapat tatapan tajam dari Bayu.


"Aku tidak lupa apa yang telah terjadi, apa yang telah terjadi akan aku jadikan pelajaran biar aku menjadi gadis yang lebih baik lagi."


Semua melihat kearah teman ku yang bernama Fahri itu. Yang memuji aku hebat barusan itu lho. Aku tersenyum kearah Fahri, dan Fahri membalas senyum ku lalu mengacungkan jempol tangan kanan dan kirinya.


"Iya Nia, kamu hebat banget Nia. Aku salut sama kamu," kata temanku yang lainnya.


"Benar Nia, kamu tidak pindah hanya karna kamu di permalukan sama seseorang."


"Iya Nia, kamu gak menghindar dari masalah."

__ADS_1


"Kamu memang wanita hebat Nia, tidak lari dari masalah. Malah kamu dengan penuh semangat menghadapi masalah."


Semua teman sekelasku ikut bahagia dan memuji aku. Mereka tidak tahu, aku tak sekuat yang mereka banyangkan. Untuk bersikap santai seperti itu saja aku butuh waktu hampir semalaman membentuk semangat.


Tapi aku bahagia juga, ternayat teman sekelasku tidak membenci aku. Mereka bahkan mengatakan aku hebat karna tidak lari dari masalah. Baik cowok maupun cewek, semuanya tidak menyimpan benci padaku.


Mereka bahkan salut sama aku yang tampil baik-baik saja. Padahal kemaren itu aku terlihat sangat hancur dan sangat menyedihkan.


Aku pun senyum penuh bahagia, aku bersyukur punya teman-teman yang baik sekelas dengan aku. Tidak lebai saat melihat lelaki, tidak punya mulut yang suka berkata pedas. Selalu merasa berteman sehingga tidak mau menyakiti satu sama lain. Aku bahagia berada dikelas ini, aku sangat senang satu kelas dengan mereka.


"Kamu hebat Nia, aku juga salut sama kamu yang bisa baik-baik saja hari ini. Padahal kemarin kamu baru saja diterpa badai yang dahsyat," kata Bayu temanku.


"Iya Nia, kau teman terkuat yang pernah ada. Gadis terkuat yang pernah aku temui, cantik lagi," kata Safat.


"Woi ... teman sendiri aja pakai digombalin kamu Fat," kata Bayu.


"Gak papa Bay, biar aja dia gombal sampai bibirnya jontor. Aku gak akan terpengaruh sama gombalan cowok kayak Safat," kata aku sambil senyum.


"Napa? kurang tampan bagaimana lagi aku dimata mu Nia, abang Safat udah lebih tampan dari Arjuna ini."

__ADS_1


Bukan hanya aku yang tertawa saat mendengarkan kata-kata Safat barusan. Semua temanku juga merasa geli dengan yang Safat katakan.


__ADS_2