
Sebulan berlalu tanpa ada apa-apa yang terjadi. Selama itu juga aku gak ada bertemu pak Rama. Tapi tanpa aku sadari, dibelakang aku. Ternyata mama dan papa telah sepakat dengan keluarga pak Rama. Mereka tidak akan menunangkan kami lagi. Melainkan, kedua belah pihak keluarga sepakat untuk langsung menikahkan kami dalam waktu dekat. Yaitu, paling lambat satu minggu dari sekarang.
Yang aku tahu, alasannya hanya ada satu. Pak Rama setuju menikah dengan aku, tapi dengan syarat. Tidak ada pesta besar untuk pernikahan kami. Hanya ada doa selamat dan ijab khobul seadanya saja.
Yang anehnya, kedua belah pihak keluarga setuju dengan syarat yang pak Rama ajukan. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa dengan syarat yang pak Rama berikan. Karna kata mama, pak Rama bilang syarat nikah itu hanya ijab khobul yang pentingnya. Bukan resepsi yang menjadi syarat nikah.
Mau tidak mau, aku hanya bisa pasrah saja dengan apa yang keluargaku bicarakan. Aku hanya tahu satu hal yang paling penting. Pak Rama sangat tidak suka menikah dengan aku. Makanya, ia tidak ingin ada resepsi pernikahan. Agar semua orang tidak tahu kalau aku dan pak Rama sudah menikah.
Aku duduk diam dikamarku, melihat cahaya lampu yang terang dibawah sana. Disamping kamarku ada kolam renang. Di jendela itulah aku berdiri termenung samping memikirkan apa yang mama katakan tadi sore saat aku baru saja pulang kuliah.
Aku memikirkan kembali, benarkah aku dan pak Rama akan menikah dalam waktu dekat. Apakah pak Rama sudah bisa menerima aku sebagai calon istrinya. Atau apa yang ada dipikiran pak Rama sebenarnya.
Memikirkan hal itu membuat kepalaku jadi pusing. Aku tidak bisa melihat dan tidak bisa menebak bagaimana pak Rama. Aku selama ini berusaha memahami siapa pak Rama yang sangat ingin hatiku miliki itu. Tapi aku selalu gagal menebak siapa pak Rama. Karna sikapnya yang dingin dan susah di mengerti.
Pada akhirnya, aku menyerahkan semua pada yang maha kuasa sajalah. Apa yang akan terjadi, itulah yang terbaik buat aku. Aku berusaha melupakaan semua pikiran yang membebani hidupku. Aku baringkan tubuhku di ranjang dan berusaha agar segera terlelap.
__ADS_1
.....
Untung saja aku segera bagun, yah itu pun di bantu saja alarm sih sebenarnya. Kalau tidak mungkin aku akan telat kekampus hari ini.
saat aku mau masuk kekampus, aku melihat pak Rama datang kekampus bersama seorang wanita. Wanita yang tidak aku kenali, dan baru pertama kali aku melihat pak Rama akrab dengan seorang gadis.
Ada rasa yang tidak enak dihatiku, aku merasa ada yang salah disana. Namun, aku berusaha untuk tidak memikirkan rasa yang tidak enak itu.
"Hey, kamu kok diam aja disini Nia. Ada apa sih?" kata Bayu saat melihat aku seperti orang yang sedang sedih.
"Gak papa Bay," kataku melihat Bayu.
"Lho, kemana Safat, kok gak sama kamu sih," kataku lagi saat melihat sahabat ku yang satu lagi menghilang.
"Safat mungkin gak masuk kampus hari ini. Karna tuh anak ada acara sama keluarganya."
__ADS_1
Aku mengeryitkan dahiku mendengar apa yang Bayu katakan.
"Tumben banget itu makhluk mau ikut keluarganya. Biasanya juga anti banget sama acara keluarga," kataku.
"Yah, kamu kayak gak tahu Safat aja Nia. Kalo didalam acara keluarga itu ada cewek-ceweknya. Ia jelas ia mahulah, yang gak mahu itu kalo gak ada ceweknya."
"Iya juga ya, tu anakkan agak rada-rada sakit."
Kami pun tertawa bersama, aku bisa melupakan apa yang terjadi barusan. Melupakan sesaat saja, bukan untuk selamanya.
Kami berjalan ketaman kampus, karna jam pelajaran masih lama pagi.
"Nia, aku lihat sekarang kamu udah lumayan jauhkan sama pak Rama. Kamu udag nyerah ya buat ngejar pak Rama?" kata Bayu.
Aku diam, yang semua teman-teman ku tahu memang aku sudah tidak agresif lagi. Tidak mengejar pak Rama. Tapi mereka tidak tahu, aku tidak mengejar pak Rama secara terang-terangan tapi secara diam-diam.
__ADS_1