Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Putus asa


__ADS_3

Aku memilih untuk pulang saja hari, aku tidak kuat lagi untuk tetap berada di kampus setelah apa yang tejadi padaku. Kedua temanku mengantarkan aku kembali kerumah.


Mataku yang yang bengkak dan memerah, ditambah wajahku terlihat sangat sembab akibat banyak menangis. Mama kaget saat melihat aku turun dari mobil bersama dengan Bayu, sedangkan Safat mengendarai mobilnya.


"Sayang, apa yang terjadi sih nak. Kenapa anak mama bisa terlihat menyedihkan seperti ini," kata mama sambil memeluk aku yang kembali menangis.


"Bayu, ada apa dengan anak ku. Siapa yang telah membuat anak ku menangis, katakan siapa orangnya biar aku bikin babak belur dia," mama bicara sama Bayu dengan rasa geramnya.


"Sudah ma, gak ada yang perlu disalahkan. Jika pun ada yang perlu disalahkan adalah aku mah, aku yang bikin masalah untuk diri ku sendiri."


"Ceritakan sama mama nak, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Biar mama tahu apa yang harus mama lakukan," kata mama dengan lembut sambil membelai rambutku.


"Emmm ... tante, kayaknya ... aku sama Safat harus kembali kekampus deh sekarang," kata Bayu sangat hati-hati saat bicara sama mamaku.


"Iya," jawab mama singkat.

__ADS_1


Kedua teman ku pun meninggalkan rumah kami. Sedang aku di bawa mama masuk kedalam rumah. Mama membawa aku duduk disofa ruang tamu. Mama terus saja membelai rambutku, mama terlihat sangat cemas sama kondisi aku yang sekarang.


"Sayang, ayo katakan sama mama apa yang terjadi. Agar mama tahu dan tidak menyimpan rasa penasaran sama keadaan kamu."


"Nia gak papa kok ma, hanya sedikit patah hati saja sekarang. Nia ingin pindah kuliah mama, Nia gak mau kuliah dikampus yang sekarang."


Mamaku kaget saat mendengarkan apa yang aku katakan. Mama tahu, aku sangat suka sama kampusku yang sekarang. Dan aku juga selalu berbagi kebahagiaanku bersama mama, tentang kampus yang buat aku betah itu. Hanya saja, aku tidak pernah bercerita tentang pak Rama sama mama dan papaku.


"Kamu yakin Nia, kamu gak papa saat ini. Mama gak lihat kalau kamu gak papa sayang, mama lihat kamu sangat terpukul. Ayo Nia, katakan saja apa yang terjadi sama kamu nak."


Untuknya, mama mengerti perasaan yang aku rasakan saat ini. Tanpa banyak tanya lagi, mama pun bersedia mengikuti permintaan aku untuk pindah kampus.


"Mama akan melakuakan apa yang bisa buat kamu bahagia sayang. Mama akan bicarakan masalah pemindahan kuliah kamu secepat mungkin. Anak mama tidak boleh menangis lagi ya nak. Kamu harus bahagia, dan tenangkan diri mu dikamar dulu sekarang."


Aku pun merasa sedikit lega sama apa yang mama katakan. Walau lega itu tidak pernah membuat rasa sakit dihati ku berkurang, apa lagi hilang.

__ADS_1


Aku pun pamit sama mama untuk beristirahat kekamarku. Aku berjalan lemah menuju kamarku yang letaknya di lantai atas. Kaki ini rasanya sudah tidak mampu melangkah lagi, rasanya sangat berat untuk aku gerakkan.


Aku sampai dikamarku, niat pertama ku setelah sampai dikamar adalah mandi. Agar aku merasa sedikit segar dan bertenaga.


Sebelum aku mandi, aku tatap wajahku didepan cermin. Aku lihat baik-baik wajah ini, dan aku lihat dengan seksama.


Apakah aku sangat buruk? Aku rasa tidak, aku lumayan cantik dan tidak kurang apapun. Kataku dalam hati sambil terus menatap wajahku.


"Kenapa pak Rama sejahat itu pasaku. Apakah aku sangat buruk dimata bapak?" aku bicara dengan bayanganku yang ada di cermin itu.


Kembali lagi, kata-kata pak Rama memenuhi memori otakku. Ia mengatakan aku tidak pantas mencintainya, dan aku tidak cocok sama dia. Aku hanyalah mahasiswa sedangkan ia rektor.


Dibalik rasa sedih itu, ntah bagaimana munculnya semangat. Aku tiba-tiba merasakan kalau aku tidak boleh menjadi gadis yang lemah seperti saat ini.


Aku merasa, gadis yang sedang berdiri didepan cermin itu bukan aku. Karna aku tidak boleh menangis hanya karna gagal dalam cinta. Hanya karna soal cinta aku harus pergi dari kampusku. Ini bukanlah aku, karna aku tidak boleh putus asa walau aku sudah kalah.

__ADS_1


__ADS_2