
Aku sangat kanget saat mendengarkan perkataan Bayu barusan. Mereka bilang aku hamil, dan itu hamilnya tidak nikah lagi.
Belum sempat aku menjawab apa yang Bayu dan Safat katakan. Kedua dosen wanita itu datang menghampiri aku.
"Rania, kamu ikut kami kekantor sebentar," ucap salah satu dari dosen itu.
"Ada apa ya bu?" kataku tidak mengerti.
"Ikut saja kami kekantor, kamu akan tahu apa yang akan kami bicarakan padamu."
Tanpa bicara lagi, aku langsung saja mengikuti langkah kaki kedua disen wanita itu dari belakang.
Saat kami sampai disana, ternyata sudah ada beberapa dosen lain yang menunggu kehadiran aku. Mereka melihat kearahku dengan tatapan yang sulit untuk aku jelaskan.
"Rania, apa kamu telah mendengar gosip tentang dirimu sekarang," kata salah satu dari dosen itu.
Aku sudah menebaknya, mereka meminta aku kekantor, pasti untuk membicarakan soal gosip tentang kehamilanku yang tidak menikah ini. Apa yang harus aku jawabkan ya, aku tidak punya jawab jika mereka menanyakan siapa ayah dari anakku ini. Itu kalau aku benar-benar hamil sih.
__ADS_1
"Rania, apa kamu tidak dengar apa yang bu Sri katakan."
"Maaf buk, saya mendengarnya. Hanya saja, saya kaget saat mendengarkan apa yang ibuk katakan."
"Apa gosib itu benar Nia?"
Aku belum juga menjelaskan tentang gosipnya. Dan aku juga baru menjawab satu hal. Eh sekarang, malah ada yang beratnya lagi tentang kebenaran gosib ini. Ampun dah, nasibku kok gini amat yah.
"Rania, jika kamu tidak mau menjawab. Untuk memastikan hal ini hanya dengan mengecek kebenarannya."
"Ayo ikut ibuk Nia, kami akan tes urin buat kamu. Untuk memastikan gosib ini."
"Tidak ada tapi-tapian Rania, ayo ikut saya sekarang juga."
Mau tidak mau, aku harus ikut dosen itu keruang uks dan tes urin disana. Aku tidak mungkin menolak para dosen yang terlihat sangat galak itu. Lagian, aku juga tidak punya kekuatan apapun untuk melawan semua dosen itu, karna aku sendirian saat ini.
Aku masuk kedalam toilet uks dan tes urin disana. Sangking takutnya aku bohong, salah satu dosen wanita itu sampai mengawasi aku dengan sangat ketat.
__ADS_1
Aku juga harap-harap cemas sih, saat ini aku hanya tinggal sendiri dan tidak tahu apakah pak Rama akan tahu hal inu atau tidak. Aku juga yakin kalau pak Rama tidak akan mengakui aku ini istrinya didepan semua orang.
Dosen itu terlihat sangat kaget saat melihat hasil dari tes itu. Ia kaget bukan kepalang sambil menatap tajam kearah aku.
Ia membawa aku kembali keruangan yang sudah berkumpul para dosen. Yang lebih membuat aku tidak enak lagi, disana juga ada pak Rico sekarang.
Sebelumnya, dosen itu tidak mengatakan apa hasil dari tes urin tadi. Ia hanya mengajak aku kembali bersamanya saja. Aku juga sedang menunggu hasil dari tes urinku.
"Gimana hasilnya bu Sri," kata salah satu dosen yang ada disana. Mereka terlihat tidak sabar lagi.
"Hasilnya positif, Rania memang benar hamil."
Aku kaget bukan kepalang, pak Rico menatapku dengan tatapan yang tidaj bisa aku jelaskan. Dimata pak Rico aku melihat ada tatapan kecewa dan marah. Aku bahkan tidak sangup untuk melihat pak Rico dan yanv lainnya.
"Rania, katakan siapa ayah dari anakmu!" kata salah satu dosen disana.
"Kami tidak pernah mendengarkan kabar tentang pernikahanmu. Apa kamu telah melakukan hubungan terlarang."
__ADS_1
"Kamu telah membuat nama kampus kita jadi sangat buruk sekarang, bagaimana jika orang luar tahu kalau kamu hamil diluar nikah."
Aku tidak sangup untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang dilontarkan secara bertubi-tubi padaku ini.