Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Hemz


__ADS_3

Aku senyum terpaksa, ia kalau untuk kaget aku memang sangat kaget sama apa yang terjadi. Apa lagi yang dihadapanku ini adalah pak Rama. Dalam mimpi pun aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa nikah sama pak Rama.


"Maaf tante, ini memang sangat mengagetkan buat Nia. Karna Nia dengan pak Rama jauh berbeda," kataku dengan sangat hati-hati.


"Anak manis, umur kalian tidak jauh berbeda bukan? Hanya selilisih satu tahun saja antara kamu dan Rama. Jadi, kami rasa kalian cocok jika disandingkan," kata papa pak Rama.


"Maksud Nia, kedudukan Nia dan pak Rama beda jauh tante. Nia mahasiswa dan pak Rama seorang rektor," kataku membenarkan perkataan yang telah aku ucapkan sebelumnya.


"Gadis manis, tidak ada bedanya antara kamu dan Rama. Dan satu lagi, kalau bertemu Rama diluar seperti ini. Kamu harus lupakan kalau Rama itu seorang rektor dan jangan panggil dia bapak. Masa muda seperti itu kamu panggil bapak sih," kata mama pak Rama panjang lebar padaku.


"Rama juga, masa dari tadi diam aja. Di panggil bapak sama Nia juga gak ada komennya sama sekali. Gimana sih kamu ini," kata mama pak Rama lagi.


"Iya Rama harus bilang apa ma, itukan udah jadi kebiasaan sama semuanya. Jadi, juga udah kebiasaan buat Rama," kata pak Rama.


Aku melihat kearah pak Rama dari tadi. Ternyata, pak Rama didepan orang tuanya sama di kampus beda banget. Sangat-sangat berbeda jauh, aku bahkan bukan melihat pak Rama di sini.

__ADS_1


Ia terlihat sangat penurut sama mama dan papanya. Sampai ia tidak ada membantah satu kata pun yang orang tuanya katakan. Padahal, ia tidak suka sama aku. Tapi didepan orang tuanya, ia sama sekali tidak menunjukkan kalau ia tidak suka sama aku.


.....


Pembicaraan panjang antara kedua orang tuaku dan orang tua pak Rama pun akhirnya usai. Mereka pamit pulang setelah membahas ingin menjodohkan aku dan pak Rama. Aku sih terima dengan lapang dada, tapi tidak tahu bagaimana pak Rama. Yang jelas, pak Rama terlihat sangat keberatan. Namun ia tidak menunjukan bahwa ia merasa keberatan didepan orang tuanya.


Setelah pak Rama dan orang tuanya pulang. Aku dan orang tuaku kembali duduk di sofa ruang tamu kami.


"Papa, apa papa yakin untuk menjodohkan aku dengan pak Rama?" kataku pada papa.


"Iya Nia, mama lihat kamu seneng banget saat tahu siapa orang yang akan kamu jodohkan padamu," kata mama ikut bicara.


"Iya sih pa, ma. Nia memang senang sama pak Rama. Hanya saja, kelihatannya pak Rama sangat tidak suka sama Nia."


"Nia, Rama itu adalah anak yang sangat penurut sama mama dan papanya. Kamu jangan banyak pikiran deh," kata mama.

__ADS_1


"Mama, gimana gak banyak pikiran. Nia mau nikah itu sama pak Rama kan, bukan sama orang tuanya. Jika pak Rama nya gak suka, gimana bisa Nia nikah sama pak Rama coba."


"Nia, hal yang paling penting itu adalah restu orang tua. Jika kamu sudah dapat restu dari orang tuanya, maka Rama bukan hal yang sulit untuk kamu dapatkan juga," kata papa.


"Iya Nia, lagian mama yakin kamu orang yang paling kuat untuk berjuang. Tidak ada yang mustahilkan didunia ini," kata mama.


Aku hanya diam saja, semakin banyak yang mama dan papa bicarakan. Maka semakin tidak bisa aku cerna perkataan mereka. Kepala ku rasanya sangat pusing mendengarkan apa yang mama dan papa katakan.


"Ma, pa, Nia kayaknya harus kekamar dulu deh. Ada banyak tugas yang harus Nia kerjakan," kataku pada mama dan papa sambil bangun dari duduk.


"Ya udah, belajar yang rajin ya nak. Biar kamu pintar, sama kayak calon suamimu itu," kata mama.


Aku hanya tersenyum kecut saat mendengarkan kata-kata mama. Bagaimana tidak, baru saja berencana buat tunangan mereka sudah bilang pak Rama itu calon suami aku. Mereka gak tahu aja gimana bencinya pak Rama padaku. Mungkin karna hal ini, pak Rama akan tambah benci lagi padaku.


Aku pun meninggalkan kedua orang tuaku diruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2