
Setelah hari yang melelahkan aku lewati dengan susah payah. Akhirnya, aku sampai juga dirumahku, maksud aku rumah mertuaku. Aku pulang duluan, karna jam kuliahku sudah tidak ada lagi. Makanya aku bisa pulang duluan, sedangkan pak Rama belum pulang lagi.
"Udah pulang kamu ya nak?" kata mama mertuaku saat aku masuk kedalam rumah.
"Iya mah," ucapku singkat.
"Rama belum pulang ya?"
"Belum ma, pak Rama masih beberapa jaman lagilah baru pulang," kataku.
"Oh, yaudah. Istirahat sana, mama lihat kamu capek banget kayaknya."
"Iya ma."
Aku pun permisi pada mama, lalu naik keatas menuju kamar pak Rama. Lalu membaringkan tubuhku diatas kasur yang ada dikamar pak Rama.
Beberapa saat lamanya, aku membiarkan tubuhku istirahat. Namun, aku mulai memikirkan sesuatu yang lainnya. Selain beristirahat, aku malah memikirkan untuk melihat isi kamar pak Rama. Walaupun itu terlihat sangat tidak sopan, tapi hatiku lebih menginginkan untuk melihat apa saja yang ada dikamar pak Rama ini.
__ADS_1
Aku mulai dari dua laci kecil yang ada disamping tempat tidurnya pak Rama ini. Aku membukanya salah satu laci yang lebih tetap seperti meja rias saja. Namun tidak punya kaca sama sekali.
Satu laci aku buka, tidak ada apa-apa didalamnya. Hanya ada beberapa novel cinta yang terlihat sudah lama, karna terlihat dari tangan terbitnya. Ini novel mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu ada didalam laci ini.
Aku pindah kelaci kedua, disana ada bingkai foto yang diletakkan oleh pak Rama secara terbalik. Aku merasa penasaran sama bingkai foto itu, aku berniat untuk membuka dan melihat siapa yang ada didalam bingaki foto itu. Namun, niat itu harus aku batalkan, karna aku mendengar suara langkah kaki yang naik keatas dan semakin mendekati kekamar ini.
Aku pun menutup laci itu dengan cepat, lalu bergegas menuju sofa dan berbaring disana. Aku masih capek, dan tidak ingin menerima omelan dari pak Rama nantinya. Aku pun berinisiatif untuk berpura-pura tidur saja. Agar pak Rama tidak bicara sembarangan dengan aku nantinya.
Pintu kamar pun dibuka, aku tidak ingin melihat pak Rama. Aku putuskan untuk membelakangi pintu kamar.
Sebuah suara yang sangat kuat memenuhi isi kamar itu. Suara seorang wanita yang menjerit manja memanggil pak Rama. Karna aku kaget, sontak aku pun langsung bangun dari baringku.
Mataku melihat gadis itu tak percaya, begitu juga gadis itu menatap aku dengan tatapan marah dan kagetnya.
"Ada apa sih Sa?" kata pak Rama yang baru saja naik.
"Kak Ram, kok ada perempuan sih dikamar kakak. Bukannya ini perempuan yang ada diruangan kakak tadikan?" kata gadis itu.
__ADS_1
Ya, itu gadis yang bernama Salsa, gadis manja yang sama dengan gadis yang ada dirunagan pak Rama tadi siang. Saat ini, ia malah masuk kedalam kamar pak Rama. Apa hubungan mereka sebenarnya, aku merasa penasaran dan penuh dengan tebakan.
"Kamu kok masuk kamar kakak gak kasih tahu dulu sih Sa," kata pak Rama.
"Aku tanya sama kakak, kenapa ada perempuan dikamar kakak. Kok kakak malah bilang aku masuk kamar kakak gak kasih tahu dulu sih, padahal aku selalu masuk kamar kakak gak kasih tahukan."
"Ceritanya panjang, lain kali aja kakak ceritakan. Ayo keluar dulu, kamu bisa tanya sama mama langsung," jelas pak Rama pada Salsa.
Aku hanya diam mematung saja, sambil melihat perdebatan kecil antara pak Rama dengan gadis manja bernama Salsa itu. Aku malas untuk bangun dan bicara siapa aku, aku lihat pak Rama tidak mengatakan siapa aku sebenarnya. Jadi, untuk apa aku bicara siapa aku.
"Kamu kok bisa ada dirumah kak Rama sih," kata Salsa padaku.
"Aku ...."
Beluk juga aku menjawab, pak Rama sudah memotong saja pembicaraan aku dan Salsa.
"Sudah Sa, tanyakan saja sama mama. Kamu tidak perlu bertanya sama dia. Biar mama yang menjelaskan semuanya," kata pak Rama sambil menarik tangan Salsa untuk keluar.
__ADS_1