Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Pingsan


__ADS_3

Semua yang ada disana tidak bisa bersuara lagi. Mereka bukan hanya kaget, juga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan. Tapi mau bilang apa, semua buktinya sudah lengkap dan tidak bisa disangkal lagi.


"Saya rasa sudah cukup untuk hari ini, kita bisa mekanjutkan kegiatan kita masing-masing," ucap pak Rama.


Semuanya menuruti apa yang pak Rama katakan. Mereka membubarkan diri mereka masing-masing. Sedangkan aku diajak pak Rama keluar dari dalam ruangan itu.


"Tunggu Rama," kata pak Rico menyusul kami dari belakang.


"Ada apa?" ucap pak Rama dingin sekali.


"Apa semua ini."


"Apa apanya, kamu tidak jelas juga dengan apa yang aku jelaskan tadi."


"Kapan kalian menikah, kenapa kalian tidak pernah terlihat seperti orang yang telah menikah."

__ADS_1


"Kamu mau kami terlihat seperti apa lagi, bukankah sudah jelas sekarang Rania adalah istriku. Dan kamu juga tahu kalau saat ini Rania sedang hamil bukan?"


Mereka saling berdebat masalah pernikahan aku dan pak Rama. Karna pak Rico terlihat tidak percaya dengan apa yang pak Rama jelaskan. Sedangkan aku hanya bisa jadi penonton perdebatan mereka saja.


Pak Rama menjelaskan semua yang terjadi. Tangan berapa kami menikah, dan selanjutnya. Aku lihat pak Rico sangat sedih pada akhirnya. Ia percaya dengan apa yang pak Rama jelaskan.


"Selamat ya Rania, Rama. Aku minta maaf karna tidak tahu siapa orang yang selama ini aku dekati," ucap pak Rico dengan nada sedihnya.


"Tidak masalah, aku tidak pernah marah padamu karna kamu mendekati istriku," ucap pak Rama sambil menepuk bahu pak Rico.


"Pantas saja kamu terlihat sangat peduli, saat aku bilang kalau aku ingin keluar dan berkencan dengan Rania. Ternyata dia adalah istrimu."


Mereka masih bicara panjang lebar, aku yang tidak tahan berdiri terlalu lama ini, tiba-tiba merasa ada yang aneh dengan kepalaku. Mataki tiba-tiba berkunang-kunang dan pandaganku kabur begitu saja.


Tanpa bisa aku cegah, tubuhku ini tumbang dengan sendirinya. Dengan sigap, pak Rama menyambut tubuhku. Saat itu, aku tidak sadar lagi apa yang terjadi. Karna saat aku membuka mata, aku sudah berada disatu ruangan yang semuanya terlihat putih dan memberikan bau khas aroma obat-obatan. Sudah bisa aku tebak, kalau sekarang aku sedang berada dirumah sakit saat ini.

__ADS_1


Pintu kamarku pun terbuka, dibalik pintu itu, muncul seseorang yang tidak asing lagi bagi aku. Siapa lagi kalau bukan Salsa, adik sepupunya pak Rama.


Ia tersenyum licik saat melihat aku yang sedang terbaring lemah. Ia berjalan semakin mendekati aku. Aku merasa sedikit takut akan kedatangan Salsa. Karna mama pernah berpesan, Salsa bukanlah gadis baik-baik.


"Hai Rania, apa kabar kamu sekarang? Kelihatannya kamu baik-baik saja bukan?"


"Mau apa kamu kesini," kataku.


"Nia, aku kesini untuk mengusir kamu dari kehidupan kakakku. Untuk yang kedua kalinya pasti," kata Salsa sambil senyum jahat.


"Apa maksud kamu Salsa? Apa aku diusir dari rumah itu adalah ulah kamu."


"Tebakan yang sangat tepat Rania, kamu ternyata pintar juga yah. Aku terlalu meremehkan kamu selama ini. Harusnya aku bunuh saja kamu kemarin, tidak menjebak kamu hingga hamil seperti saat ini. Aku terlalu salah untuk membuat kamu menghilang dari kehidupan kakakku," kata Salsa.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan Salsa."

__ADS_1


Salsa pun menceritakan padaku apa yang terjadi malam itu. Ia mengatakan kalau malam itu dialah yang meletak obat perangsang didalam minuman kami. Dan dia menuduh aku yang melakukan itu pada pak Rama. Ia bilang, aku meminta bibik mengantar minuman kekamar dengan mencampurkan obat perangsang itu. Ia juga memberikan bukti vidio aku dan bibik sedang bicara didapur. Ntah bagaimana ia bisa membuat vidio palsu itu.


Ia mengira, pak Rama akan sangat marah setelah tahu kalau aku telah memberinya obat itu. Benar saja, dugaan Salsa benar soal itu. Karna ia sangat tahu betul siapa pak Rama. Ia tidak suka pada gadis manapun. Karna ia masih menunggu pacarnya yang telah tiada.


__ADS_2