
Rania pov
Sudahku duga dari tadi, pak Rama ingin aku pulang bukan karna niat dari hatinya sendiri. Tapi, ia melakukan hal itu karna mamanya yang ingin aku pulang kerumah. Aku masih berharap kalau pak Rama mengatakan ingin aku pulang itu dari dirinya sendiri, bukan dari orang lain.
Kalau dia bilang, dia yang ingin aku pulang kerumah itu. Maka aku akan dengan senang hati ikut pak Rama pulang kerumah. Tapi, apa yang bisa aku harapkan saat ini. Aku yang terlalu berharap, pada akhirnya hanya menelan kekecewaan sahaja.
Tapi, ya sudahlah, tidak ada yang harus dikecewakan saat ini. Harusnya aku tahu siapa pak Rama. Tidak ada harapan untuk aku terap mengejar cinta rektor itu.
Aku biarkan pak Rama keluar dari mobilku tanpa sepatah katapun. Ia terlihat sangat kesal saat tidak berhasil membawa aku pulang bersamanya. Aku mengabaikan apa yang pak Rama rasakan. Karna aku juga punya rasa kesal yang aku simpan selama ini.
Aku pun pulang, tanpa menghiraukan pak Rama lagi.
....
Sudah tiga minggu kejadian itu berlalu. Itu artinya, aku sudah satu bulan pergi dari rumah pak Rama. Selama tiga minggu itu juga, aku selalu merasa ada yang mengikuti aku. Namun, aku tidak ingin memikirkan hal itu. Mama mertuaku selalu menanyakan gimana kabar aku saar ini, aku dan mama mertuku selalu berkomunikasi seperti biasa, walaupun hanya lewat udara saja. Aku bilang sama mama, aku belum bisa pulang, karna aku ingin menenagkan hatiku dulu.
__ADS_1
Mama ternyata orang yang sangat pengertian, ia tidak pernah memaksakan aku untuk mengikuti apa yang ia inginkan. Ia hanya bisa bertanya setiap hari padaku, kapan aku pulang kerumahnya. Aku selalu menjawab, sabar dan sabar.
Hari ini, aku kuliah seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda dari hari kehari. Tapi belakangan ini, aku sering merasa kelelahan dan selalu mual-mual, bahkan sering tidak nafsu untuk makan.
Saat aku melewati kantin kampus, aku tidak sengaja mencium aroma bawang goreng yang sangat membuat perutku merasa ingin mengeluarkan segala isinya. Aku dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu dan masuk ketoilet.
Aku tidak peduli orang-orang yang melihat aneh kearahku. Yang aku tahu hanyalah, aku ingin segera melakukan apa yang tubuhku mau.
"Nia, kamu kenapa sih, akhir-akhir ini, kamu terlihat sering mual dan agak pucat," kata salah satu teman yang ada di toilet yang sama denganku.
"Kamu yakin gak papa, apa kamu gak periksakan saja kondisi kamu ini. Aku takutnya kamu bukan masuk angin lagi," kata salah satu teman yang lain.
"Iya Nia, masa masuk angin hampir setiap hari sih."
Aku diam saja, mereka ada benarnya. Aku memang belum pernah memeriksakan kondisiku saat ini. Aku memang bukan yang pertama kalinya mual-mual seperti ini dikampus.
__ADS_1
Aku pikir, mereka menebak hal yang bukan-bukan untuk aku. Mereka terlihat berbisik-bisik dan saling pandang satu sama lain.
Aku hanya diam saja, dan berjalan keluar dari toilet itu. Meninggalkan mereka yang sibuk bergosip tentang aku mungkin.
Saat aku keluar, Bayu dan Safat menghampiri aku dengan cepat. Mereka terlihat sangat cemas saat ini.
"Nia, apa kamu baik-baik saja sekarang?" kata Bayu tiba-tiba bertanya kondisiku.
"Aku baik-baik aja kok, ada apa emangnya?"
"Yah, Nia, Nia. Apa kau tidak dengar, seisi kampus sedang sibuk membicarakan kau yang sering ketoilet," kata Safat.
"Lho, kenapa emangnya kalau aku sering ketoilet. Bukankah toilet tidak pernah melarang aku untuk masuk kedalamnya," kataku menjawab asal saja.
"Bukan itu masalahnya Nia, ya ampun, apa kau tidak tahu gosip tentang kau yang sedang beredar ini."
__ADS_1
"Nia, seisi kampus sedang membicarakan kamu hamil. Mereka bilang, kamu tidak menikah, tapi kamu kok bisa hamil."