Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Tega


__ADS_3

Pak Rama memegang sebelah tanganku. Aku kaget sama apa yang pak Rama lakukan. Ia memegang tangan ku dengan sangat erat.


"Dengar kamu ya, siapa kamu bisa bilang kalau kamu bisa bikin saya suka sama kamu. Kamu tahu, saya sangat benci sama sikap yang kamu tunjukkan pada saya selama ini," kata pak Rama dengan lantangnya.


"Ingat satu hal, kedudukan kamu dan aku itu sangat berbeda. Kamu itu adalah mahasiswa sedangkan aku rektor. Kamu itu bukan tipe aku, jangan berharap bisa mendapatkan cinta aku," kata pak Rama lagi.


Aku berusaha baik-baik saja, namun hati ku sangat sakit ketika pak Rama mengatakan perbandingan antara aku dan dia. Aku tatap mata pak Rama, namun lidahku rasanya kelu dan tidak bisa mengatakan satu kata pun.


"Satu lagi, jika kamu masih terus mengejar-ngejar saya. Saya akan keluarkan surat agar kamu di keluarkan dari kampus ini. Karna kamu sudah bikin saya gak nyaman sama keberadaan kamu dikampus ini. Kalau pun bukan kamu yang keluar, maka saya yang akan keluar," kata pak Rama sambil melihat aku kemudian beralih melihat semua yang menjadi penonton sejak tadi.


Semuanya menatap marah padaku, apa lagi kaum perempuan yang sedari tadi sudah merasa sangat kesal padaku. Mereka bagaikan ingin menangkap dan mencabik-cabik aku sangking kesalnya.


"Rama, jangan terlalu kasar sama perempuan. Kamu tidak bisa melarang orang lain untuk mencintai kamu," kata pak Rico pada pak Rama.


"Kamu tidak tahu bagaimana sifat gadis ini, dia bagaikan bukan manusia tahu gak kamu."


Bagaikan disambar petir rasanya hatiku. Ibarat gelas kaca, hatiku sudah pecah dan hancur berderai. Pak Rama mengatakan aku bukan manusia, apalah aku kalau aku bukan manusia? Namun kata itu tidak mampu aku ucapkan, yang bisa aku lakukan hanya menahan air mata agar tidak jatuh sekarang.

__ADS_1


Pak Rama melepaskan tangan ku dengan menghempaskan dengan rasa geramnya. Lalu pergi meninggalkan aku bersama kerumunan yang sudah tercipta sejak awal tadi.


Aku melihat tanganku yang rasanya sangat sakit. Karna terlalu kuat pak Rama menggengam tanganku, tanganku menjadi merah dibekas pegangan pak Rama.


"Dasar gadis gak tahu malu, udah ditolak berkali-kali tetap aja gak mempan."


"Awas aja kalau pak Rama yang keluar dari kampus ini. Lo kena akibatnya, kami gak akan tinggal diam."


"Dasar cewek gak punya muka, emang enak lo dibilang bukan manusia sama pak Rama."


Cibiran dan kata-kata pedas itu terus saja menghujani aku. Hingga aku tidak sangup lagi menahan rasa sakit yang teramat perih ini.


Aku berlari sambil menangis, meninggalkan kerumunana yang terus saja mengatakan kata-kata kasar padaku. Rasanya sakit sekali, menghancurkan hatiku sehancur mungkin.


Aku terus berlari menuju pojok taman yang terkesan sepi. Aku duduk disalah satu kursi paling pojok. Aku menagis di sana, melepaskan semua rasa sakit yang mengenai jantung hatiku.


Apakah aku terlalu buruk buat pak Rama, sehingga pak Rama mengatakan hal yang sangat menyakitkan buat aku. Pak Rama sampai bilang aku bukan manusia.

__ADS_1


Sakit sekali hati ini, pedih dan pedih yang aku rasakan saat ini. Kenapa aku harus menerima semua ini, aku hanya berusaha untuk mendapatkan apa yang aku mau.


Apakah cinta harus melihat jabatan, aku tidak butuh jabatan. Aku tidak pernah melihat orang dari jabatan, tapi kenapa orang malah melihat aku dari jabatan.


Awal aku lihat pak Rama, aku langsung jatuh cinta. Tanpa aku tahu siapa dia, dan tanpa aku tahu apa yang ia punya dibalik hidupnya. Aku kira pak Rama adalah lelaki yang lemah lembut dan tidak akan melakukan hal ini padaku.


Tapi kenyataannya, pak Rama telah meremukkan hatiku. Mempermalukan aku didepan semua orang. Aku menangis sejadi-jadinya di sana.


Bayu perlahan duduk disampingku, aku memeluknya sambil menanagis. Sedangkan Safat duduk disisi lain sampingku.


"Sabar Nia, kamu harus kuat. Ini bukan kamu lho Nia," kata Bayu sambil memeluk aku.


"Hatiku sudah hancur Bayu, pak Rama sangat kejam sekali padaku. Apakah aku segitu buruknya di mata pak Rama," kataku sambil menangis.


"Kau tidak buruk Nia, kau gadis baik dan kau gadis kuat. Kau tidak bisa hancur hanya karna hal seperti ini," kata Safat berusaha menguatkan aku.


Aku tidak menjawab, tangisku semakin kuat dipelukan temanku. Mereka seakan merasakana apa yang aku rasakan saat ini. Mereka juga sedih saat melihat aku menangis.

__ADS_1


__ADS_2