Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Ego


__ADS_3

Rama POV


Hari ini pertama kali aku melihat Nia, aku merasa sangat bersalah pasanya. Aku telah mengusir gadis itu seminggu yang lalu. Ternyata aku sangat amat bodoh selama ini, aku tidak tahu apa yang Salsa katakan itu benar atau tidak. Tapi Salsa punya bukti yang kuat akan hal itu.


Tapi saat melihat Nia hari ini, aku merasa seperti mendapatkan separuh hatiku yang hilang. Selama seminggu, aku merasakan sangat kehilangan sesuatu. Aku selalu terbagun sendirian ditegah malam, dan melihat kesampingku. Tapi tempat itu kosong, saat aku menoleh kesamping.


Aku juga kehilangan nafsu untuk makan. Walaupun Salsa terus berusaha menghiburku, tapi tetap tidak bisa merasakan sesuatu kebahagiaan. Ternyata, Nia berpengaruh buat hidupku.


Ditambah lagi, saat mama pulang, mama tidaj menemukan Nia. Mama marah besar padaku, ia bahkan susah dua hari tidak bicara padaku sama sekali, sejak dari ia pulang, hingga sekarang. Mama selalu mendiamkan aku, bahkan mama tidak melihat aku ada sedikit pun.


Di rumahku, hanya Salsa yang terlihat sangat senang. Sedangkan yang lainnya, tidak menunjukkan sedikit pun kebahagiaan, termasuk aku. Aku malah merasakan separuh hatiku hilang, bersama perginya Nia.


Ntah kenapa, aku selalu merindukan kehadiran Nia. Aku malah melupakan rasanya merindukan Devilla. Saat ini, Nia yang memenuhi otakku. Hingga tadi pagi, aku diselamatkan oleh Nia. Aku merasakan sebagian hati ini kembali padaku saat ini.

__ADS_1


Nia sudah seminggu tidak terlihat dikampus, aku selalu melihat parkiran untuk mengetahui keberadaan Nia. Aku juga selalu lewat didepan kelas Nia, tapi aku dengar dari semua teman-temannya, kalau Nia sedang keluar kota.


Yang tidak enaknya lagi, Rico juga bilang padaku. Kalau Nia juga sedang keluar kota. Aku tahu Rico punya perasaan yang berbeda dengan Nia, aku tidak tahu, apa reaksi Rico saat ia tahu kalau Nia adalah istriku.


Aku ingin sekali bilang pada Nia, kalau dia harus ikut aku pulang. Dan dia tidak boleh berhubungan dengan lelaki lain, termasuk Rico sahabatku itu. Tapi itu semua terhalang oleh egoku yang sangat tinggi. Aku ingin menutupi rasa cemburuku pada Rico dan Nia.


"Hush ... melamun aja bapak rektor yang tampan," ucap Rico mengangetkan aku.


"Bisa gak kalo masuk ketuk pintu dulu," ucapku tidak suka.


Aku diam saja saat mendengarkan apa yang Rico katakan. Aku tidak berniat menjawab perkataan Rico.


"Ram, kamu gak nanya yah, kenapa aku bahagia sekali hari ini."

__ADS_1


"Ngapin aku tanya kalau kamu bahagia atau tidak. Emang penting apa buat aku, kamu mau bahagia atau ngak."


"Gak penting sih, hanya saja aku ingin berbagi sedikit kebahagiaan padamu. Kamu tahu gak, aku udah lama suka sama Nia, dan hari ini ..."


"Apa yang dia katakan padamu, apa kamu mengatakan perasaanmu dan Nia menerimanya," ucapku dengan cepat memotong perkataan Rico.


Rico kaget dengan apa yang aku katakan. Aku yang selalu dingin dan tidak suka ikut campur pada setiap masalah percintaan, saat ini malah terlihat sangat antusias sekali. Aku bahkan memotong perkataan Rico dengan cepat.


"Kamu kok agak aneh ya hari ini Ram, aku belum selesai ngomong, kamu udah motong gitu aja. Malah motongnya ngegas gitu lagi. Tumben banget ini es batu mencair," kata Rico menggoda aku.


"Sudahlah, jangan bahas soal itu lagi. Kamu keluar saja sekarang, kalau kamu tidak ada perlu apa-apa."


"Kamu yakin gak ingin dengar apa yang kamu potong barusan. Kamu bakalan nyesal lho Ram," kata Rico.

__ADS_1


Lagi-lagi Rico menggoda aku. Rasanya ingin sekali aku tonjok itu wajahnya Rico, untung saja ia sahabat aku. Jika bukan, itu wajah mungkin udah pada bonyok kali yah.


__ADS_2