
Seperti biasa, aku pagi-pagi sudah bangun dan berangkat kekampus duluan. Saat aku bangun tadi, pak Rama masih terlelap dalam mimpinya. Aku tidak tahu tadi malam ia tidurnya jam berapa, tapi ia terlihat seperti orang yang telah tidur.
Aku tidak peduli sama sekali, karna saat melihat wajah pak Rama. Aku ingat bagaimana ia tersenyum manis dengan Salsa. Aku tidak bisa melupakan hal itu, sehingga aku memutuskan untuk tidak membangunkan pak Rama saat ia bangun terlambat. Biarkan saja ia datang kekampusnya terlambat. Biar ia tahu bagaimana rasanya terlambat pergi kekampus, walaupun ia seorang rektor.
Tapi, aku tidak melupakan kewajibanku. Aku masih menyiapkan baju dan air hangat untuk pak Rama mandi. Aku tidak bisa tidak melakukan hal itu, karna aku ingin menjadi istri yang benar untuk pak Rama. Walaupun itu tidak mungkin terjadi.
....
Aku tidak tahu apakah pak Rama datang atau belum sekarang. Atau, apakah yang terjadi dengam dia dirumah tadi. Aku berusaha untuk melupakan apa yang terjadi dirumah. Setelah jam pelajaran berakhir, aku beranjak dari dudukku.
"Kamu mau kemana sih Nia," tanya Bayu.
"Iya Nia, kau jarang sekali ada waktu main bersama kita sekarang. Kau selalu tidak punya waktu saat kami ajak keluar saat malam. Apa sih yang kau kerjakan dirumah?"
__ADS_1
"Aku itu banyak tugas, aku udah sedang belajar hidup mandiri sekarang ini. Kamu tahu, aku belajar untuk membiayai hidupku sendiri," kataku berbohong pada kedua temanku itu.
"Lho, tumben banget kamu mau belajar hidup mandiri Nia. Apa orang tuamu sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai hidupmu," kata Bayu.
Anak yang satu ini kalau bicara itu bawaannya pedas melulu deh kayaknya. Masa orang tuaku dibilang tidak sanggup lagi untuk membiayai aku.
"Itu mulut kalo ngomong coba disaring dulu deh. Kalo turut rasa hati aku ini, mungkin itu mulut udah aku cubit-cubit berkali-kali," kataku pada Bayu.
"Lho, aku ngomong itu apa adanya lho Nia. Kamu aja yang salah paham sama apa yang aku katakan," kata Bayu membela diri.
"Hei tunggu, kamu mau pergi kemana sih."
"Iya Nia, kau tidak ingin kami ikut bersamamu lagi ya," kata Safat.
__ADS_1
"Aku mau pergi ketaman kampus, pak Rico sudah menunggu aku disana. Dia akan memberikan aku materi yang bisa memperbaiki nilaiku nantinya."
"Pak Rico itu baik sekali padamu ya, masa kau yang sudah pintar itu dikasi materi lagi."
"Itu namanya nasib aku yang bagus. Aku gak akan nolak kalo pak Rico ngasih materi padaku. Mumpung geratiskan hembat ajalah," kataku.
"Dasar kau Nia," kata Safat pada akhirnya.
Aku pun meninggalkan Safat dan Bayu didalam kelas. Mereka hanya bisa melihat aku dari belakang saja sekarang. Karna aku tidak mungkin bisa mereka cegah.
Aku berjalan menuju taman, jalan menuju taman kampus itu melewati parkiran. Aku lihat, mobil pak Rama sudah ada disana. Berarti, pak Rama sudah datang kekampus.
Ah, masa bodohlah dengan pak Rama itu. Mau datang atau tidak, terserah dia sajalah. Apa pedulinya bagi aku, dia datang juga aku tidak ada untungnya. Aku pun melanjutkan langkah kakiku menuju taman. Disana pak Rico sudah menunggu aku, ia susah duduk manis disalah satu kursi taman kampus dengan dua gelas jus naga kesukaanku.
__ADS_1
Ntah dari mana pak Rico tahu minuman kesukaan aku ini. Tapi, ini bukan yang pertama kalinya ia menyediakan aku minuman kesukaan. Ia bahkan sudah berkali-kali mentediakan makan dan minuma kesukaanku.