Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Luka


__ADS_3

Aku pun berniat untuk meninggalkan pak Rama. Hatiku masih rapuh sekali saat ini, saat aku ingat bagaimana perlakuan pak Rama saat mengusur aku keluar dari rumahnya.


Tanpa sepatah katapun, aku membalikkan tubuhku. Berniat untuk meninggalkan pak Rama. Tapi tangan pak Rama tiba-tiba saja memegang tanganku dengan cepat.


"Tunggu Nia," kata pak Rama.


"Ada apa?" kataku dingin.


"Siku kamu terluka dan mengeluarkan banyak darah Nia. Ayo aku bantu kamu untuk mengobati lukamu."


Aku baru sadar kalau disiku aku saat ini sedang terluka. Bahkan siku ini mengeluarkan banyak darah yang mengalir.


"Tidak perlu pak, aku baik-baik saja," ucapku sambil memegang sikuku ini.

__ADS_1


"Jangan egois Nia, jika tidak diobati secepatnya. Siku kamu ini bisa terinfeksi, dan rasanya akan semakin sakit nanti," kata pak Rama menakuti aku.


Heh, aku baru terdengar suara lembut yang pak Rama ucapkan padaku. Ini pertama kali pak Rama bicara empat mata dan terlihat sangat lembut sekali padaku. Tapi tunggu, pak Rama bilang aku jangan egois barusan yah? Huh, bukan aku yang egois, tapi dirinya sendirilah yang sangat amat egois padaku.


Aku tidak sempat menjawab apa yang pak Rama katakan. Ia malah menarik tangan aku yang lainnya, dan membawa aku keruang uks secepat mungkin. Ia tidak memperdulikan tatapan mata seluruh mahasiswa yang melihat aneh padaku dan juga padanya.


"Sini tangan kamu," kata pak Rama dengan nada khasnya yang sangat dingin.


"Aaaaaa ... sakit sekali," ucapku tanpa sadar.


Walaupun pak Rama melakukannya dengan sangat lembut. Tapi luka itu menimbukkan rasa perih yang sangat luar biasa. Tanpa sadar, aku menjerit dan bahkan menggigit satu lengan pak Rama untuk menmbantu aku meredakan rasa sakitnya


Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Pak Rama memang berubah total hari ini, ia malah tidak protes sama sekali saat aku mengigit lengannya yang terbungkus kemeja coklat itu.

__ADS_1


Aku sadar setelah pak Rama membalut lukaku dengan kain kasa. Pak Rama membiarkan aku terus mengigitnya ternyata dari tadi. Aku malu sekali, saat pak Rama bilang.


"Aku sudah selesai membalut lukamu, kamu tidak perlu menggigit aku lagi."


Kata itu membuat aku kaget setengat hilang ingatan. Aku bahkan tidak sempat mengatakan apapun pada pak Rama, sangking kagetnya aku. Ia meninggalkan aku saat selesai menggobati lukaku ini.


Aku mencoba mengumpulkan semua kesadarku yang masih tersisa. Lalu bangun dari dudukku dan berjalan menuju kelas. Kedua temanku menyambut aku dengan sangat hangat. Mereka terlihat sangat merindukan aku selama seminggu ini.


Aku hanya tersenyum saat mendengar candaan dari kedua temanku ini. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat mereka bertanya ada apa dengan lukaku, aku mengatakan, kalau luka ini akibat aku tidak hati-hati tadi pagi. Untungnya, kedua temanku ini selalu percaya pada apa yang aku katakan.


Aku juga berusaha tidak mengingat apa yang telah terjadi hari ini. Aku berusaha melupakan setiap perubahan pak Rama hari ini. Aku memikirkan satu hal. Pak Rama seperti ini, hanya karna ia merasa bersalah karna aku telah terluka gara-gara menyelamatkannya, itu saja. Pak Rama mungkin akan mengatakan hal-hal kotor padaku, jika aku tidak menyelamatkannya tadi.


Kali ini, aku tidak ingin berharap lagi. Aku tidak ingin berharap apapun pada pak Rama. Cukup sudah aku mengejarnya, dan aku tidak pernah berhasil dalam misi pengejaranku ini.

__ADS_1


__ADS_2