
Seperti dugaanku, pemilik kamar ini tak lain adalah pak Rama. Dari suaranya saja aku sudah tahu kalau yang didalam itu adalah kamar pak Rama.
"Ayo masuk Nia," kata mama sambil membuka pintu kamar itu.
Pak Rama sangat kaget saat melihat mamanya bersama aku masuk kedalam kamar. Wajahnya pucat, ia yang awalnya baring dengan celana pendek diatas kasur itu terlonjak sambil mengambil handuk dan langsung menutupi celana pendeknya dengan handuk.
"Mama kok gak bilang-bilang dulu kalau mau bawa dia masuk kamar aku," kata pak Rama dengan wajah yang sangat kesal.
"Lho, kenapa mama harus bilang sama kamu kalau mama mau bawa istrimu masuk kamar kamu."
"Ma," kata pak Rama singkat dengan wajah semakin kesal.
"Nia akan tinggal bersama kamu dikamar ini. Mama tidak ingin kamu dan Nia tidur diranjang yang berbeda, kalian harus tidur diranjang yang sama."
Pak Rama terlihat kaget saat mamanya mengatakan hal itu. Sedangkan aku, yah apa yang bisa aku lakukan selain diam mematung dan jadi penonton saja disana.
"Tapi ma," kata pak Rama tidak setuju.
"Mama, Nia bisa tinggal dikamar tamu. Tidak masalah untuk Nia soal tidur mah bebas aja," kataku menegahkan apa yang telah terjadi.
"Tidak bisa Nia, kamu bukan tamu dirumah ini. Tapi kamu adalah bagian dari keluarga Williom," kata mama mertuaku ngotot.
__ADS_1
"Apa yang terjadi sih, kenapa pada ribut kalian disini. Bukankah ini sudah malam, gak malu sama yang lain?" kata papa mertuaku datang tiba-tiba.
"Pah, anakmu ini lho. Masa iya dia mau pisah kamar dengan istrinya," kata mama mengadu.
"Ram, jangan bikin malu papa dan mama. Ini anak orang, mereka telah menitipkan dia pada keluarga kita. Terutama padamu, kamu punya tangung jawab yang besar pada Nia."
"Baiklah, Rama akan ikut saja apa yang papa katakan. Dia bisa tidur sekamar sama Rama," kata pak Rama pada akhirnya.
"Nia, laporkan pada mama ya nak. Jika Rama berani bikin kamu kesal, biar mama yang akan memberi anak ini pelajaran," kata mama sambil memegang bahuku.
"Makasih mama," jawabku singkat sambil senyum.
Papa dan mama meninggalkan aku dan pak Rama dalam kamar itu. Aku mengambil barang-barangku yang baru saja diantar oleh sopir pak Rama.
"Syarat?" kataku penasaran.
"Iya syarat."
"Apa syarat yang pak Rama punya untukku?" kataku lagi.
"Mudah saja, aku hanya ingin kamu tidak pernah menyentuh barang-barangku. Aku akan bagi kamar ini menjadi dua bagian. Satu bagian punya kamu, dan yang satu bagian lagi punya aku. Barang-barang yang kamu punya harus diletakkan dibagian kamu, gitu juga punya aku. Bagaimana, apa kamu setuju dengan syarat ini?" kata pak Rama.
__ADS_1
"Baiklah, saya setuju sama syarat bapak. Terserah pak Rama saja, inikan kamar milik bapak."
"Bagus deh, aku suka kalau kamu tahu diri. Satu hal lagi, selain dikamar ini. Aku mau kamu juga tahu diri diluar sana, jangan pernah bilang sama siapapun, kalau aku dan kamu sudah menikah. Kalau semuanya terbongkar maka aku akan cari cara agar kita bisa berpisah."
Aku diam sama apa yang pak Rama katakan. Dalam hatiku berkata, segitu bencikah pak Rama denganku. Sampai-sampai ia tidak ingin orang lain tahu aku ini adalah istrinya. Aku kurang apa sih sebenarnya, sehingga pak Rama tidak suka padaku.
"Hallo, kok bengong sih. Aku ngomong sama kamu, kamunya malah melamun," kata pak Rama sambil melambaikan tangannya didepan wajahku.
"Eh, maaf pak."
"Ya sudahlah, mulai beres-beres aja sekarang."
"Jangan sekarang pak, Nia capek banget nih. Besok aja yah," kataku.
"Gak bisa, aku gak mau berbagi ranjang denganmu malam ini. Kalau kamu gak mau bantu aku beres-beres," kata pak Rama sambil menatapku.
"Pak, ini sudah sangat larut malam. Saya capek, biarkan saya istirahat dulu malam ini. Apa bapak gak capek?" kataku dengan wajah memelas.
"Ya sudah, kalau kamu gak mau bantu aku. Malam ini kamu tidur dilantai atau di sofa saja."
"Ya sudah, aku tidur di sofa saja gak papa."
__ADS_1
Aku pun meninggalkan pak Rama tanpa sepatah kata pun. Sebelum pak Rama sempat menjawab apa yang aku katakan. Aku langsung saja berjalan menuju sofa yang letaknya disudut kamar itu.