
Aku memutuskan untuk bangun lagi, jadi siapa diriku. Aku tidak perlu menghindar dari kenyataan bahwa aku tidak disukai pak Rama. Aku tidak harus pindah kuliah hanya karna di benci oleh orang lain.
Aku pun menghapus air mataku, lalu mencoba untuk senyum melihat wajahku didepan cermin. Tidak ada yang perlu aku hindari sekarang, biarkan semua membenci aku untuk saat ini. Semuanya akan berubah suatu saat nanti, karna gak ada yang kekal didunia ini.
Aku pun mengambil handukku, lalu segera kekamar mandi. Aku segera menyiram tubuhku dengan air, rasanya sangat segar dan membuat hatiku juga ikut merasakan kesegaran.
Setelah aku rasa cukup berhadapan dengan air. Aku pun menyelesaikan acara mandiku ini, lalu keluar dari kamar mandi dengan hati yang lumayan tenang.
...
Saat aku duduk di sofa kamarku yang letaknya tak jauh dari jendela. Pintu kamarku diketuk oleh seseorang dari luar. Aku pun bangun untuk membuka pintu kamar itu.
"Sayang, apa kamu mau jalan sama mama sore ini nak," kata mama saat pintu aku buka.
"Kayaknya gak deh ma, aku mau dikamar aja sekarang."
"Sayang, mama gak ingin kamu kenapa-napa nak. Ayolah ikut sama mama, mama yakin kamu akan terhibur."
"Mah, gak usah cemas sama Nia. Nia kan dirumah mah, gak akan kenapa-napa kok."
__ADS_1
"Nia, mama tahu kamu dirumah. Mama hanya takut kamu berpikir singkat saat berada dirumah sendirian."
Mama terlihat sangat mencemaskan aku, aku paham sama apa yang mama maksuskan. Mama pasti takut aku melakukan hal nekat, mungkin hal nekat yang mama maksudkan adalah bunuh diri karna patah hati.
"Mama, aku gak akan berpikir singkat kok mah. Mama kayak gak kenal aku aja deh, masa mama mikirnya yang ngak-ngak."
"Yaudah deh, kalo kamu gak mau ikut mama. Maka mama juga gak akan pergi kerumah teman mama itu. Mama akan temani kamu dirumah ajalah."
Aku merasa bersalah dengan apa yang mama katakan. Mama membatalkan niatnya untuk jalan hanya karna takut aku sendirian dirumah. Karna aku sedang patah hati, itu hal yang buat mama gak tenang.
"Yaudah deh ma, Nia ikut jalan sama mama. Tapi gak lama-lama yah, dan gak ada ngomongin soal Nia ya ma," kata aku pada akhirnya.
Tak lama, aku selesai bersiap-siap dengan baju yang tidak terlalu mencolok. Dan bedak tipis seadanya saja. Aku keluar menghampiri mama yang sedang duduk menunggu ku diruang tamu.
"Ayo ma, Nia udah siap," kataku sambil berjalan menghampiri mama.
Mama melihat aku, memperhatikan setiap jengkal tubuhku. Dari atas sampai bawah, semuanya mama perhatikan.
"Kamu yakin mau jalan dengan baju ini Nia?" kata mama.
__ADS_1
"Lho, kenapa dengan baju ini sih mah."
"Nia, kamu kayak orang yang gak punya baju bagusan dikit aja deh nak. Masa jalan sama mama dengan baju rumahan gini."
Itulah yang bikin aku malas ikut mama jalan, mama selalu saja memperhatikan penampilanku. Aku bukannya gak suka dandan, hanya saja kalau jalan sama mama agak malas dandan sih.
"Nia, ganti gih baju kamu ini. Gak banget deh, masa jalan sama mama bajunya gini amat sih Nia. Jangan bikin mama malu dong nak," kata mama sambil mengajak aku ganti baju.
"Ya ampun mah, mama mau jalan kerumah temen mama apa mau kepesta sih ma?" kata aku.
"Jalanlah, mama kan udah bilang jalan sama kamu tadi. Mama gak bilang kepestakan, mama itu suruh kamu ganti baju karna di rumah jeng Ratih itu ada anak cowoknya yang tampan."
Sudah aku duga, kalo mama ajak aku jalan itu pasti yang rumah temannya ada anak lelakinya. Lebih-lebih kalo anak lelaki temannya itu tampan.
"Ya ampun mah, sudah Nia duga dari tadi. Mama ajak Nia jalan pasti ada udang di balik batunya. Kalo gakkan mama gak mungkin ajak Nia jalan."
"Udah deh Nia, mama tahu kamu sedang patah hatikan. Makanya mama ajak kamu jalan kerumah jeng Ratih. Hitung-hitung ngilangin rasa patah hati kamu itu lho nak."
Aku gak bisa jawab apapun lagi, hanya saja pada akhirnya, aku dan mama tidak jadi jalan karna papa yang udah pulang dari kerja.
__ADS_1
Aku melepas napas lega, hari ini aku selamat dari mama ku yang suka jadi mak comblang ini.