Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Penasaran


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu, omongan para teman-teman yang tidak suka sama aku juga sudah tidak terdengar lagi. Aku juga sudah berubah sekarang, tidak sama kayak dulu lagi sama pak Rama. Aku tidak jadi gadis yang selalu cari kesempatan didepan pak Rama. Namun bukan berarti aku tidak mengejar cinta pak Rama. Aku masih sama kayak dulu, masih terus mengejar cintanya pak Rama. Hanya saja, caranya yang berbeda dengan yang awal aku lakukan. Aku main cara halus, dengan tidak terlalu mencolok sehingga pak Rama tidak merasa terganggu sama keberadaan aku.


Aku selalu mencari perhatiannya pak Rama, dari segi pelajaran dan tangung jawab dalam tugas yang dosenku berikan. Terutama pada dosen yang bernama Rico itu. Dosen baru yang selalu memberi aku perhatian dan selalu berusaha terlihat baik dihadapan aku. Namun aku tidak pernah menanggapi apa yang pak Rico lakukan.


Tapi pak Rama tidak pernah melihat aku, walau semua yang aku lakukan dengan susah payah itu. Tapi sebaliknya, pak Rico malah semakin perhatian sama aku. Ia bahkan menawarkan untuk belajar tambahan di waktu luangku bersamanya.


Namun semua itu aku tolak secara halus. Karna aku tidak tertarik untuk belajar bersama dengan pak Rico, alasannya jelas karna aku sedang fokus untuk mengejar cibta pak rektor, bukan ngejar cinta dosen baru itu.


Saat ini, aku sedang buru-buru menuju mobilku. Aku ditelfon sama mama agar pulang secepat mungkin. Namun, mama tidak mengatakan apa alasan mama minta aku agar cepat pulang.


Tanpa sengaja, aku berpas-pasan sama pak Rama didepan pintu gerbang menuju parkiran. Pak Rama juga terlihat buru-buru, makanya kami berpas-pasan didepan gerbang itu.


Aku dan pak Rama saling beradu pandang untuk beberapa saat lamanya. Namun, pak Rama dengan cepat berjalan mendahului aku menuju mobilnya. Tanpa banyak bicara, aku juga melakukan hal yang sama. Berjalan cepat masuk kedalam mobilku, lalu menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilku meninggalkan tempat parkir sebelum pak Rama duluan yang pergi dari parkir.


POV Rama


Aku melihat gadis itu, namun ia tidak menyapa aku. Sejak kejadian itu, ia sangat berbeda. Tidak lagi jadi gadis yang selalu membuat aku merasa kesal.


Saat kami berpas-pasan pun, gadis itu tidak menyapaku. Hanya saling tatap untuk beberapa saat saja. Namun, aku memutuskan untuk meninggalkannya di gerbang menuju parkir secepat mungkin. Aku merasa takut sakit gadis itu kambuh lagi.

__ADS_1


Jauh dari dugaan aku sebelumnya, saat aku sudah berjalan mendahui Rania. Ia tidak menegur seperti kemaren. Ia malah bersikap seolah tidak mengenal aku. Tidak ada tegur sapa lagi diantara kami. Rania malah menjalankan mobilnya duluan sebelum aku.


"Baguslah, gadis itu tidak sakit lagi sekarang. Aku merasa lega saat ini," kataku pada diriku sendiri dengan hati yang lega.


Baru saja aku berniat untuk menjalankan mobilku, ponselku pun berbunyi. Mengalunkan lagu dadali dengan nada sedihnya. Aku pun melihat ponselku, tertera nama mamaku di layar ponsel itu.


"Hallo ma ...."


"Kamu dimana sih Ram, kok jam segini belum pulang juga. Mama sama papa udah nungguin kamu dari tadi lho Ram," kata mama diseberang sana.


Aku tidak langsung menjawab apa yang mama katakan. Aku menarik napas panjangku untuk beberapa saat lalu melepasnya dengan perlahan.


"Hallo Rama, apa kamu masih dengar mama?" kata mama lagi.


"Yaudah, mama tunggu dirumah. Jangan lama-lama, mereka udah nungguin kita dari setengah jam yang lalu."


"Iya ma, Rama gak akan lama kalo jalannya gak macet. Mama gak usah cemas deh, bentar lagi juga Rama sampai rumah."


"Yaudah, mama tutup telfonnya. Assalamualaikum," kata mama.

__ADS_1


Belum juga aku sempat menjawab telfon dari mama. Eh, malah langsung mama matikan aja telfonnya. Aku pun hanya bisa geleng kepala saja. Itu tandanya mama sedang marah sama aku.


"Waalaikumsama," kataku pada ponsel yang sudah terputus itu.


Aku pun menjalankan mobilku dengan kecepatan yang lumayan laju. Karna, jika aku pulangnya telat lagi. Maka kupingku akan panas sama omelan mama yang gak akan ada akhirnya.


POV Rania.


Aku baru saja sampai rumah, ntah apa yang mama inginkan dari aku. Aku juga merasa penasaran saat ini. Aku cepat-cepat turun dari mobil dan menghampiri mama yang sama seperti biasanya sudah menunggu aku didepan pintu.


Aku ambil tangan mama lalu menciumnya. Sama halnya seperti biasanya aku pulang kuliah di setiap harinya.


"Ayo Nia, kamu harus masuk lalu mandi dan dandan yang cantik ya," kata mama saat aku selesai salaman.


"Lho, ada apa sih mah. Gak biasanya kayak gini, mama gak tanya bagaimana dengan kuliahan aku?" kataku merasa agak aneh.


Yah, hari ini lumayan aneh. Pertama, mama minta aku pulang dengan cepat. Kedua, mama gak tanya bagaimana dengan kuliahan aku. Malah minta aku mandi dan dandan yang cantik. Ada apa sebenarnya sama mama hari ini?


"Gak usah banyak protes dong Nia, lakukan aja apa yang mama katakan," kata papa yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.

__ADS_1


"Lho, papa juga udah pulang ternyata. Ada apa sih ini ma, pa?" kataku sangat penasaran.


"Ikutin aja apa yang mama katakan, cepat masuk kedalam rumah. Lalu mandi dan dandan yang cantik," kata papa lagi.


__ADS_2