Ku Kejar Cintamu Pak Rektor

Ku Kejar Cintamu Pak Rektor
Sakit hati lagi


__ADS_3

Aku merasa sangat amat bingung saat ini, apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa juga pak Rama tidak membiarkan aku untuk bicara siapa aku sebenarnya.


Aku duduk diatas sofa kembali, sambil melepaskan nafas berat yang sedari tadi membuah dadaku sesak rasanya. Rasanya, hidupku saat ini semakin rumit saja. Belum juga aku bisa berbaikan dengan pak Rama, eh malah nambah satu masalah lagi.


Beberapa saat lamanya aku merenungi semua yang terjadi hari ini. Kenapa takdir membawa aku kejalan yang sangat sulit seperti ini. Perjuangan aku untuk mengejar cinta pak Rama ternyata sangat amat sulit.


Pak Rama sendiri saja sudah sangat susah aku taklukkan, ini ditambah lagi gadis aneh itu. Makin susah saja hidupku sekarang.


Saat pak Rama masuk kedalam kamar, aku masih merenungi nasibku yang buruk diatas sofa itu. Pak Rama terlihat sangat kesal padaku kali ini. Apa lagi ini, bukankah aku tidak membuat kesalahan apapun tadi. Pikirku dalam hati.


"Rania, puas kamu sekarang bukan?" kata pak Rama tiba-tiba saja.

__ADS_1


"Puas? Apa yang aku puaskan saat ini, kenapa pak Rama malah bertanya tentang aku puas," ucapku sambil bangun dari duduk.


"Kamu sudah membuat adik sepupuku sakit hari ini. Kamu itu memang biang masalah ya," kata pak Rama.


Aku kaget, apa hubungannya aku dengan adik sepupunya yang sakit. Kenapa ia malah menyalahkan aku saat adik sepupunya sakit. Tapi tunggu, tadi itu adalah adik sepupunya ternyata. Tapi apa hubungannya dengan aku, aku tidak bicara apapun bukan?


"Pak Rama kok bilang gitu sama saya, saya gak bikin salah apapun dengan pak Rama."


"Lho, mana aku tahu soal itu. Kenapa pak Rama harus menyalahkan aku dalam hal ini. Harusnya pak Rama tahu, aku yang dirugikan, bukan pak Rama."


"Kenapa jadi kamu yang bilang dirugikan sekarang, bukankah kamu yang minta dijodohkan sama aku," ucap pak Rama.

__ADS_1


"Aku tidak pernah minta orang tuaku menjodohkan aku dengan bapak. Asal bapak tahu, aku memang cinta sama bapak. Tapi aku bukan wanita murahan yang mengemis cinta bapak."


Aku mulai terbawa emosi saat ini, niat hatiku yang tidak ingin terpancing oleh pak Rama. Akhirnya terpancing juga.


"Asal bapak tahu, aku cukup sadar diri siapa aku dan siapa pak Rama. Posisi kita memang sangat jauh berbeda, tapi itu hanya posisi dikampus saja. Tidak dimata umum dan tidak juga dimata tuhan."


"Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar lagi dengan kamu. Mulai sekarang, ingat siapa kamu dan siapa aku. Kita tidak seharusnya menikah dan tinggal bersama."


Pak Rama pergi dari hadapanku, ia membanting pintu kamar kami saat ia menutupnya dari luar. Ia meninggalkan aku dengan seribu luka dihatiku. Ia bahkan telah menyalahkan aku saat adik sepupunya sakit. Apakah dia tidak melihat, aku tidak melakukan apapun tadinya.


Pak Rama tidak akan pernah mencintai aku. Bagaimanapun usahaku, pak Rama tidak akan melihatnya. Aku kalah sekarang, haruskah aku menyerah mengejar cintanya. Karna aku sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan disini. Bertahan dengan seribu luka yang terus menerus saja datang.

__ADS_1


Cinta akan hilang jika sering tersakiti, perkataan itu mungkin ada benarnya. Aku harus menunggu kata-kata itu terujud, agar aku bisa membenci pak Rama buat selamanya.


__ADS_2