
“ mangkanya Nad. Lain kali kalo jalan pakek mata bukan pakek dengkul.” Ketus Nanda kesal melihat Nata yang harus ke kampus dengan kaki bengkaknya. Kaki Nata semakin bengkak dan juga semakin sakit. Bahkan dipergelangannya membiru.
“ disuruh urut juga ngak mau. Tambah sakit tauk rasa loe.” Ketus Nanda dingin pada Nata.
Nata yang di sebelah Nanda enatap kakaknya dengan pandangan sedih., matanya sembab karena menangis kesakitan sejak semalam, semalaman tidak bisa tidur karena ternyata bengkaknya benar benar menyakiti nata. Nata berdehem pelan. “ nggak sengaja abang.” Bisik nata serak.
Nata memilih tidak membawa motor atau mobil, karena emang sesakit itu. Nata takut jatuh tapi jam pagi ini ada perkulihan dnegan pak abi.
Nanda mengeleng pelan.” udah sampek, nanti pulang telepon gue. kalo ngak pesan gojek.” Tegas Nanda.
Nata mengangguk segera turun, sedikit susah membuat Nanda segera keluar membantu adiknya berjalan. “ nanti pulang ke tukang urut aja. “ tegas Nanda.
Nata hendak menangis lagi membuat Nanda melotot.” Nangis lagi gue colokin mata loe.” Ketusnya.
kelahan Nata sekali masalah di urut atau terluka. dia cengeng!
Nata terdiam dengan bibir melengkung ke bawah. Mengapa kakaknya ini kasar sekali sih??? memangnya salah jika dirinya inii cengeng. Ini sangat sakit.
” ayok mau gue anterin ke kelas?” Tanya Anda.
Nata menggeleng segera berjalan sendiri meskipun pincang. Nanda menghela nafas pelan, memijit pelan kepala yang terasa pening.”punya adek satu kayak punya adek sepuluh. " Gumamnya sebal. Nata membuat dirinya sebal sekali sungguh.
Memasuki kelas dengan wajah merah, itu membuat orang kelas heran. Apalagi jalan Nata yang kesusahan.” Kenapa loe Nat?” Tanya Kiki heran pada nata.
Nata menunjukan kakinya.” Terkilir.” Bisiknya pelan.
Kiki menatap kaki Nata ngeri.” Bahaya itu, harus di urut cepet, nanti tambah bengkok. Terus kalo jatuh mudah terkilir.” Gumam Kiki pelan.
Nata menbatap kiki kesal.” Jangan bikin gue overthinking deh.” Gumamnya.
” Sumpah Nat. gue beneran.” Tegasnya.
“ dulu gue juga terkilir. Karena lama diurut jadi mudah sakit kaki gue, jatoh dikit aja nyilu gitu harus cepet cepet Nat.” seru Kiki.
Nata menghela nafas pelan.” tuh. Win Win sini loe bisa kan ngurut kaki terkilir.” Teriak Kiki pada orang kelasnya.
Nata melotot. Win ini namanya Windi, lelaki yang paling pntar dan juga paling dingin dikelas ini, dia tidak suka interaksi kepada siapapun.” Gila loe. Nggak mau gue.” gumam Nata takut.
“ udah nggak apa apa. Win ini Nata kakinya kesakitan terkilir. Mau nggak loe urutin?” Tanya Kiki pada temannya.
Windi menatap Nata dengan tenang dan kaki Nata. Nata takut cemas cemas harap jika begini, ditolak pasti malu. Kalo Nata bilang dirinya takut di urutkan akan lebih malu lagi.
Windi berdehem mendekati Nata dan berjongkok menatap kakinya. Nata untungnya mengunakan celana kulot.
__ADS_1
Menyentuh kaki Nata. Nata segera membuka mulit lebar hendak berteriak. Tapi mulitnya lebih dulu di sumpel dengan roti oleh dinda.
” Nih anak.” Gumam Dinda mengeleng.
“ sini gue urut. Ada yang bawa minyak kayu putih?” Tanya Windi pada teman kelasnya.
Nata gelagapan hendak di urut segera membuang roti di mulutnya.” Ng nggak deh. Aduh gue nggak mau di urut.” Gumam Nata ketakutan.
” Nat dengerin kita deh. Ini tu bahaya kalo nggak di urut.” Seru dari Dinda.
Kiki menganguk.” Bisa bengkok kaki loe nanti. Kalo udah lama susah ngatur uratnya lagi.” gumam Kiki melanjutkan. Nata ingin menangis dibuat nya.
“ nih nih ada gue.” Seru Kiki, Kiki satu ini perempuan, dengan kaca mata petak memberikan minyak kayu putrih pada windi.
Windi menatap nata.” Di sana aja di bawah cepet.” jelas windi.
Nata menghela nafas mencoba berani. Bersandar membiarkan Windi mengurut kakinya.
” Jauh jauh woy. Bau ketek ini.” seru Kiki pedas sata seluruh orang menggerumbuni Nata.
” Sumpah deh sumpek gue.” gumam dinda mendengus." mual gue huek" gumamnya mau muntah.
Nata yang tadinya tegang sedikit terkekeh dibuatnya. Windi berdehem pelan.” jangan tegang yah.” gumam Windi pada Nata.
Nata mengangguk menatap Windi mulai memijit kakinya sejenak.” Akhh sakit mamaaaa.." teriak Nata tak tertahan.
“ dinda. Ki tahan.” Seru Windi kualahan.
Nata di sana hendak menangis saat Kiki dan Dinda menahan dirinya dan Windi yang memijat kakinya.
Sejenak menahan diri menatap kearah Windi. Windi dengan pelan memijit kakinya tapi ini sangat sakit. Nata sampai benar benar menangis.
“ ada apa ini?” Tanya pak Abi memauski kelas Nata heran karena mendengar suara tangisan Nata.
Kiki melihat keberadaan pak Abi segera melepaskan Nata tapi tidak dengan dinda.” Eh bapak. Ini kaki Nata terkilir harus di urut. Dia nangis nangis.” Gumam Kiki pelan menjelaskan.
Abi menatap Windi dengan alis terangkat.” Beneran bisa nggak kamu Win? Nanti salah urat lagi kaki ayang bapak.” seru pak Abi pada Windi.
Windi berdehem pelan.” bisa pak.” Jawab Windi pelan.
Mereka sedikit salah focus pada Cakra yang ikut masuk menatap keributan.” Loh pak Cakra?” Tanya Abi menatap Cakra.
Cakra berdehem.” Saya ada kelas di sebelah tapi disini ribut sekali. Ada apa ini?” Tanya cakra.
__ADS_1
Abi sedikit tak enak.” Hehe Nata. Kakinya di urut karena terkilir pak.” Gumam Abi menunjukan Nata yang sudah berantakan. Menangis tersedu-sedu .
Cakra terdiam menatap Nata yang benar benar kesakitan, melirik kaki Nata yang sekarang tambah bengkak dan biru. Cakra melihat itu sedikit kasihan.
Krakk. Kyawahhh terakhir dengan kaki yang di gertak oleh Windi, Nata menangis keras.
“ Nata loe jangan nangis.” Gumam Dinda sedikit tak enak.
Windi meringis mendengar suara teriakan Nata menggema. Nata melemas dengan nafas yang menipis. bughh
“ eh anjir nata pingsan.” Gumam Dinda shok melihat Nata pingsan disebelahnya.
“ nah loe kalian.” Gumam Abi kepada Windi dan teman teman Nata.
Windi angkat tangan.” Sumpah pak. Saya bener kok ngurutnya.” Gumam Windi gelagapan.
Cakra memijat keningnya segera mendekati Nata dan berdehem.” Kalian ini di bawa dulu ke uks orangnya.” Tegas Cakra tegas.
Mereka terdiam menatap Cakra yang menggendong Nata.” Eh pak saya aja bisa kok.” Gumam Windi segera hendak menggendong Nata.
Tapi cakra diam saja membawa Nata menuju uks. Semua terdiam dengan rasa takut. "kita nggak bakal di DO kan wey?” Tanya Dinda pada kiki.
” Gue disuruh doang tadi yah. nggak ikutan gue.” gumam Windi di sana dengan gugup.
Semua menatap Kiki sebagai biang utama,.” Wey hehe.” Gumam Kiki meringis.
“ nah loh kalian.” Gumam Abi dengan mata yang menatap mereka dengan intimidasi. Mereka ketar-ketir dibuatnya.
Cara menatap Nata dengan lamban, mengapa ia menggendong Nata? Mengapa ia membawa nata ke UKS? Karena itu tugasnya sebagai dosen.
iya kan?
Dokter yang memeriksa keadaan Nata berdehem.” Ini pak sepertinya dia Cuma kaget saja. Selebihnya nggak apa apa kok.” jelas dokter pelan.
Cakra berdehem pelan sampai dokter memberikan Cakra obat.” Bapak tolong oleskan minyak kayu putih yah di hidungnya beberapa saat. Soalnya saya ada kelas sekarang.” jelas dokter yang merangkap sebagai dokter.
Cakra menatap dokter hendak menolak.” Nanti jika sudah dua jam tidak juga bangun kita harus ke rumah sakit. saya minta tolong yah pak.” Jelasnya segera menjauh dari sana meninggalkan Cakra..
Cakra menatap dokter yang menjauh ingin marah. Tapi ia marah seperti apa??? Ia menatap lagi nata yang pingsan di kasur.
“ menyusahkan sekali.” Ketus Cakra mendekati nata.
Membuka minyak kayu putih tenang dan mengoleskan di hidung Nata. Dengan posisi begini ia melihat mata sembab Nata dan hidung merahnya.
__ADS_1
” Saya pikir kamu Cuma gimik aja kesakitan kemarin.” Gumam Cakra merasa bersalah. ia sungguh tidak tau Nata benar benar takut di urut.
lucu sekali ketakutan Nata haha.