Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
TERIMA KASIHKU


__ADS_3

Pernah suatu ketika teman kostku, Riya. Berkomentar, “Mbak, nulis buku wae kono. Nggawe status dowo-dowo, nganti males aku mocone. (Mbak, nulis buku saja sana. Bikin status panjang-panjang, sampai malas aku bacanya.)” Aku tertawa melihat wajah  kesalnya, saat itu kami sedang membahas facebook bersama teman-teman yang lain. Dia mengaku bahwa selama ini hanya like statusku tanpa membacanya karna terlalu panjang.


Tidak hanya Riya yang berkomentar. Mas Sarji dan Mas Tri temanku di Komunitas Laskar Recehan juga mengatakan hal yang serupa. Saat aku hendak pamit pulang, di teras Basecamp. Mas Tri tiba-tiba saja nyletuk, “Mbak, tak sarani yo. Kowe ki apike nulis buku wae. (Mbak, aku saranin ya. Kamu itu baiknya nulis buku saja.)” Aku pun bertanya alasannya. Mas Tri menjelaskan, “Alesane, kowe ki nek koment neng statuse uwong dowoooo…… banget. Mumpuli sepur ngerti ra? Nek kabeh komentmu dikumpulke iso dadi sak buku kui. (Alasannya, kamu itu kalau koment di statusnya orang panjangggg…… banget. Melebihi kereta tau nggak? Kalau semua komentmu dikumpulin bisa jadi satu buku itu.)” Aku tersenyum melihatnya merentangkan tangan, memperagakan seberapa panjang komentarku.


Mas Sarji yang sedang duduk di dekatku menambahkan, “Iya. Kalau kamu nulis buku, nanti aku akan jadi orang pertama yang berkomentar.” Aku pun spontan, “Halah, paling komentar buku ini tidak layak dibaca!!!” Dengan tegas sambil melambaikan tangan dia berkata, “Bukan. Aku mau komentar ‘buku ini layak baca dan sangat menginspirasi, dari Sarjiono-tukang mie ayam.’ Gitu?” Lagi-lagi aku tersenyum, betapa semangatnya mereka memotivasiku menjadi seorang penulis.


Pernah juga saat berkunjung ke kost teman. Mbak Achi, seniorku di Kampus berkata, “Aku baca statusmu di facebook, katanya kamu mau jadi orang terkenal. Emangnya kamu mau terkenal jadi apa?” Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja Mbak Mita sudah mendahuluiku, “Kalau kamu mau terkenal jadi saja penulis.” Aku tersenyum memandang mereka berdua.

__ADS_1


Saat sedang melakukan wawancara kerja, aku sempat ditanya tentang hobi. Tentu saja jawabanku adalah menulis. Kemudian HRD itu memberiku saran untuk menjadi penulis seperti temannya yang keluar kerja karna telah menjadi penulis dan motivator.


Dalam senyum, aku berdoa, “Ya Allah… terimakasih Engkau telah mengirim malaikat-malaikat untuk memotivasi aku. Meskipun mereka tidak menyadarinya…”


Aku senang teman-teman mengomentari tulisanku. Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka telah memotivasiku untuk terus menulis. Aku memang sengaja tidak cerita kepada mereka bahwa aku ingin menjadi penulis. Tapi sepertinya mereka paham keinginanku ini.


Dalam diam aku sangat berterima kasih kepada Riya, Mas Tri, Mas Sarji, Mbak Achi, Mbak Mita dan teman-teman lain yang selama ini tanpa sadar telah memotivasiku. Saran dan nasehat yang kalian berikan membuat aku semakin yakin untuk terus menulis.

__ADS_1


Mungkin sekarang mereka sudah lupa dengan kata-kata itu, beberapa kata yang mereka lontarkan sekian tahun lalu jauh sebelum buku ini ditulis. Kata-kata yang bagi mereka hanyalah suatu humor, tapi tidak bagiku. Ucapan yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Terima kasih untuk semua teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung aku dalam melakukan kebaikan. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan kalian.


 


 


~Salam Maturnuwun~

__ADS_1


 


 


__ADS_2