Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Merantau 3


__ADS_3

Seikat bunga kucium setelah membelinya. Bunga yang masih segar terasa sangat harum, itu halusinasi saja. Bunga ini akan diberikan pada Mas Anto saat bertemu di gedung wisuda nanti. Sekarang dia pasti sedang menjalani prosesi wisuda. Aku dan teman-teman janjian akan datang bersama satu jam lagi. Dengan tidak sabar aku menunggu di gerbang Kampus. Satu per satu dari mereka datang. Beberapa orang terlihat memakai pakaian formal. Sebenarnya gedung wisuda tidak jauh, tapi datang bersama akan terasa lebih menyenangkan. Dalam tas selempang cream ini tersimpan kamera digital untuk foto-foto disana. Dihari spesial jangan sampai terlewat kesempatan mendapatkan foto laki-laki yang kini menjadi tambatan hati.


Rombongan laki-laki berjubah hitam keluar gedung ketika kami tiba disana, sosok yang kami tunggu pun ada diantara mereka. Dia telihat sangat manis dengan senyuman bahagia. Aku segera memberinya bunga dan mengucapkan selamat. Dengan menunjukkan kamera dia sudah tahu bahwa gadis yang ada dihadapannya ini ingin foto bersama. Beberapa foto sudah diabadikan. Berkali-kali aku melihat kamera, mengulang-ulang melihat gaya kami.


Seminggu setelah wisuda, Mas Anto berangkat ke Surabaya. Aku dan teman-teman mengantarnya hingga terminal. Aku selalu berada di sisinya hingga bus yang ditunggu datang. Dengan rasa sedih kami melepas kepergiannya. Sebelum masuk bus, Mas Anto sempat melepas topi dari kepalaku. Begitu berhasil lepas, rambutku tergerai. “Ternyata kamu cantik juga kalau tidak dikuncir. Topinya buat aku saja ya.” Mas Anto tersenyum sambil mengacak-acak rambut tebalku dan menasehati agar aku menjaga diri baik-baik. Selama ini aku memang tidak pernah mengurai rambut. Meskipun panjang, namun lebih suka memakai topi. Aku tersenyum lebar dan mengangguk mantap mendengar kata-katanya. Hati ini semakin merasa jadi seseorang yang spesial diantara yang lain. Tidak henti-hentinya aku melambaikan tangan, hingga satu per satu teman pergi. Aku tetap berdiri, memandang bus antar kota yang semakin menjauh. Hati ini masih belum ikhlas dengan kepergiannya. Setetes air mata mengalir tanpa ijinku, mengingat kenangan yang mungkin akan sangat sulit untuk dilupakan. Ntah kapan kami akan bertemu lagi.


Aku berbalik, dengan hati gundah menuju parkiran. Tak berani menampakkan kesedihan, berpura-pura jalan menunduk. Namun langkahku terhenti ketika melihat sepatu seorang yang ku kenal berhenti menghalangi. Aku angkat kepala, menatapnya heran.


“Sesedih itukah kamu ditinggal Anto?” Ucapnya, dia membalas tatapanku.


“Kenapa sepertinya kamu nggak suka dengan hubungan kami? Apa kamu beneran suka sama aku?” Tanyaku, memastikan.


“Bukan! Bukan karna aku suka kamu apalagi cemburu. Aku hanya tidak mau kamu sakit hati.” Dia mendekatiku, menatapku semakin serius. “Aku emang sayang kamu, tapi aku juga tidak berharap mendapat balasan cintamu. Bagiku, kita berteman baik sudah cukup. Tapi aku juga tidak mau kamu sakit hati karna dia. Aku kenal dia lebih lama darimu. Sejak SMP kami bersama, hingga keburukannya pun aku sangat tau. Dia bukan laki-laki yang baik untukmu.”


“Memang apa keburukan dia?” Aku mengernyitkan kening.


“Berganti-ganti pasangan.”


“Maksudmu play boy!!!”


“Lebih dari itu. Dan aku nggak mau kamu jadi korbannya. Jadi aku harap kamu berpikir ulang menjalin hubungan dengan dia.”


Aku tercengang, kaget mendengar pernyataan laki-laki yang sedang berdiri tepat dihadapanku. Apa seburuk itu Mas Anto? Bayanganku melambung jauh beberapa hari lalu.

__ADS_1


Sehari setelah wisuda, Mas Anto mengajakku jalan-jalan untuk merayakan kelulusannya. Kami pergi ke sebuah Curug yang tak jauh dari Kota. Hanya berdua, menikmati pemandangan air terjun yang sangat deras. Tempat wisata itu tidak ramai, karena ini bukan weekend. Di atas batu yang besar, kami duduk bersama selayaknya sepasang kekasih. Ya, diatas benda keras itu Mas Anto menyatakan cinta padaku dan memintaku jadi kekasihnya. Aku pun tersenyum, mengangguk pertanda cintanya kuterima dengan senang hati. Tidak puas hanya memandangi air yang selalu mengalir dari atas tebing, laki-laki yang kini menjadi kekasihku pun mengajak berenang.


Aku menggeleng, “Aku nggak bisa berenang, Mas.”


“Tenang aja, kan ada aku. Lagian kita berenangnya di tempat yang dangkal, cuma basah-basahan aja.” Dia meyakinkanku.


Perlahan laki-laki itu menuruni batu, tempat kami duduk. Kakinya mulai menyentuh air. Mencari posisi yang pas untuk berdiri. Setelah nyaman dengan posisinya, tangannya meraihku, meminta ikut turun. Dengan bantuannya, aku pun sampai diposisi yang tepat. Kami bergandengan mencari lokasi yang nyaman untuk bermain. Sesekali kami sengaja menenggelamkan diri, membasahi seluruh tubuh. Saling mencipratkan air dan berpura-pura berenang. Tanpa disadari kami mendekati air yang lebih dalam. Mas Anto berganti posisi, kini ia berada di belakangku, mendampingiku mengarungi air dengan memeluk. Kami masih disibukkan dengan kesenangan. Hingga tak kusadari tangan kekasihku sudah ada di dalam baju, memeluk perutku. Aku memalingkan wajah, menatapnya. Dia tersenyum dan aku pun membalas senyumannya.


Tak ada kata yang terucap, hanya gerakan tubuh yang mewakili perasaan kami. Perlahan kurasakan salah satu tangannya merambat ke atas, menyentuh bagian dada, dengan halus meremas. Aku kaget! Berbalik, menatapnya. Dia memberikan kecupan. Aku diam, masih menatapnya. Untuk yang kedua kali mendaratkan ciuman dengan lidahnya.


“Mas!” Aku terkejut.


Dia tidak mempedulikanku, kembali dengan aksinya yang lain sambil memelukku lebih erat. Aku tidak berdaya menolaknya. Ntah apa yang aku lakukan. Suasana yang sepi diiringi nyanyian air, membuatku mengikuti permainannya.


Lamunanku terhenti dengan sebuah tepukan di bahu.


Deg


Aku harus berkata apa? Semuanya sudah terlambat, kami sudah melakukanya. Pikiranku kembali melayang.


“Dif, dif, difa.” Bahuku kembali bergoncang. Tatapan matanya semakin mencurigaiku.


“Mas tau dari mana dia orang seperti itu? Jangan-jangan Mas bohong.” Aku berusaha membela kekasihku, meski hati ini membenarkan pernyataan Mas Ibram.

__ADS_1


“Sudah beberapa kali aku memergokinya di tempat berbeda.” Dia menunduk, kecewa. “Sebenarnya aku merasa jijik dengannya, kesal, marah. Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa, ketika mereka menjawab nasehatku dengan kalimat ‘atas nama cinta’ aku hanya mampu mengelus dada.” Penyesalan sangat terlihat jelas diwajahnya.


Aku pun demikian, melakukannya atas nama cinta yang membawaku kedalam kesesatan. Aku juga merasa jijik dengan tubuh ini, tapi sangat malu mengungkapkan kebenaran pada laki-laki yang selama ini aku jauhi karna hasutan Mas Anto. Ternyata dia menyuruhku menghindar dari Mas Ibram karna alasan ini, kekasihku takut keburukannya terbongkar dari sahabatnya. Penyesalan bertumpuk-tumpuk dibenakku. Kekecewaan yang sangat besar kini menyelimuti hati. Betapa botohnya aku, melakukan hal yang menjijikkan hanya karna begitu mencintainya. Ingin minta maaf pada laki-laki dihadapanku ini, tapi ego tak mengijinkannya. Masih merasa takut mengakui kebenaran ini.


Mas Ibram berbalik badan, “Sekarang kita pulang dan aku harap kamu bisa segera melupakannya.”


“Kalau dia seburuk itu, kenapa kamu masih mau bersahabat dengannya, Mas?”


“Karna sebagai teman, dia adalah sahabat yang sangat baik. Tapi sebagai pasangan, dia adalah kekasih yang sangat buruk.” Kami berjalan beriringan.


“Aku nggak percaya denganmu, Mas. Selama ini dia sangat baik padaku. Aku yakin kamu hanya mengada-ada cerita untuk memisahkan kami. Aku percaya kok dia laki-laki baik.” Mataku berkaca-kaca menatapnya. Perlahan  air yang asin itu menetes di kedua pipi. ”Aku pulang duluan, Mas.” Setibanya di parkiran aku cepat-cepat pakai helm dan menyalakan mesin motor.


“Hati-hati ya, Dif? Maaf sudah menyakitimu. Aku tetap berharap kamu percaya sama aku.” Mas Ibram berdiri tepat disamping motorku. Mengantarku pergi dengan tatapannya. Aku pun melaju meninggalkan laki-laki itu.


Selama beberapa hari Mas Anto masih menjadi topik hangat dikalangan komunitas. Mereka saling mengingat suka duka bersama laki-laki yang suka utak-atik motor kami disaat kumpul. Dia semakin sering sms dan telepon aku, menceritakan pekerjaan dan pergaulan barunya. Terkadang juga bilang merindukan teman-teman di rumah. Mas Anto pun cerita, sedang menekuni bakatnya yang terpendam, yaitu melukis dengan menunjukkan gambar-gambar yang dibuatnya, tapi tidak pernah percaya diri untuk menjadi seorang pelukis.


Saat bicara ditelpon dengannya, ingin sekali kutanyakan kebenaran cerita Mas Ibram. Namun, aku khawatir dia tidak mau jujur. Disisi lain otakku selalu mengingatkan kejadian itu. Ingin sekali bertanya, ‘sudah berapa wanita yang kamu perlakukan seperti aku?’. Aku juga ingin meyakinkan, yang dilakukannya itu cinta atau nafsu. Hal ini sangat menyakitkan untukku. Pertama kali merasakan cinta langsung ternodai. Aku sudah mencintai orang yang salah. Awalnya aku berusaha percaya padanya bahwa ini adalah bukti cinta kami. Namun, setelah mendengar pernyataan sahabatnya itu, aku merasa hancur karna dia tidak hanya melakukannya denganku, tapi sudah ada beberapa wanita. Rahasia ini aku simpan rapat-rapat. Jika ada yang tahu, mereka akan mengatakan aku bodoh karna mau mengorbankan harga diri atas nama cinta. Mereka juga akan menganggapku cewek murahan. Aku hanya bisa menangis sendiri, merasakan luka ini. Diam-diam dikegelapan malam, aku memberi pengakuan pada Sang Pencipta, yang Maha Pengampun atas dosa-dosa hamba-Nya. Di atas sajadah tak henti-hentinya memproduksi air mata tobat.


\~*\~*\~


 


Bacanya tidak boleh sambil melamun ya sobat... nanti nggak seleseai-selesai loh?? keburu ketinggalan kisah selanjutnya.

__ADS_1


Tapi sebelum lanjut membaca episode berikutnya, jangan lupa like, comment dan votenya ya???


Salam rindu untukmu yang merindukanku. :) :) :)


__ADS_2