
Panas-panas seperti ini enaknya minum es sambil makan bakso malang yang puedessss buangetttt…. Yang bisa bikin mulut huah… huah… ingus meler dan keringat jagung bercucuran. Pasti bisa membuat mata yang sipit ini melotot kembali. Baru membayangkannya saja sudah membuat ngiler. Aku angkat lengan kiri. Memandang lamat-lamat jam yang baru dibeli seminggu lalu. Kira-kira waktunya cukup jika ke alun-alun usai kuliah.
Menit demi menit berlalu. Ntah sudah berapa kali aku melirik jam tangan, berharap materi segera usai. Mata ini sepertinya semakin lama semakin sipit. Tidak kuat menahan kantuk. Berkali-kali kepalaku terjatuh. Sangat membosankan jika kuliah hanya mendengarkan ceramah. Seperti orangtua yang sedang berdongeng sebelum anaknya tidur. Itulah cara dosen senior mengajar. Berbeda dengan dosen junior, para Mahasiswa semangat jika pengajarnya masih muda. Apalagi jika cantik atau ganteng ditambah unyu-unyu, dijamin nggak akan ada yang ngantuk.
“Baiklah… karna waktunya tinggal beberapa menit lagi. Contoh-contohnya kita bahas minggu depan saja.” Bu Arum mengakhiri perkuliahan setelah melihat jam tangannya. “Oh ya, untuk tugas kelompok nanti malam sudah bisa di download.” Beliau bergegas merapikan meja lalu keluar ruangan.
“HUUUUUUU!!!! Tugas lagi tugas lagi….” Sorak teman-teman sambil membuntutinya dari jauh. Sudah menjadi hal yang biasa jika kuliah Bu Arum selalu ada tugas kelompok. Ahhh… tapi untuk saat ini aku tidak peduli dengan tugas. Yang penting sekarang harus segera ke Alun-alun.
“Kunci… mana ya kunci motor. Sepertinya tadi aku taruh di saku celana. Kok nggak ada…” Aku merogoh-rogoh setiap saku. Bingung mencari kunci.
Parkiran semakin padat dan berisik dengan keluarnya semua mahasiswa dari kelas masing-masing. Suara motor yang bising terdengar di setiap sudut parkiran. Antrian pintu keluar dengan cepat memanjang seperti kereta. Maklum saja setiap kendaraan yang keluar harus menunjukkan STNK. Jika tidak ada STNK, mereka harus menunjukkan kartu mahasiswa. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya pencurian motor.
“Dif… Difa… Difa…” Terdengar suara Mega. Aku menoleh sejenak. Dia tampak tergesa-gesa menuruni anak tangga. “Dif, aku dengar Pak Susilo kecelakaan. Kita jenguk yuk? Katanya sekarang beliau ada di rumah orangtuanya.” Nafasnya terengah-engah.
“Yang benar kamu! Kapan?” Spontan menatap Rere, serius.
“Iya. Terserah kamu bisanya kapan.” Masih berusaha mengatur nafas.
“Ichhhh… maksudku kecelakaannya kapan?” Sedikit greget.
“Owh… kirain jenguknya. Katanya sih kemaren malam.”
“Mau jenguk sama siapa saja.”
“Enaknya sih rame-rame. Tapi teman-teman pada mau nggak ya?” Rere memandang keatas, ntah memikirkan apa.
“Coba deh, nanti aku yang ajak mereka. Memang kecelakaan dimana?”
“Kalau nggak salah daerah Gunung Kidul. Waktu pulang dari rumah orangtuanya. Kamu tau nggak itu dimana?”
“Ya. Kira-kira dua jam dari Jogya. Aku pernah kesana. Itu pun kalau nggak lupa…”
“Kok kalau nggak lupa???”
“Kan aku baru sekali kesana.”
“Ya, setidaknya kamu tau jalannya lah. Yang penting nggak kesasar.”
“Tenang aja nggak akan kesasar, paling salah jalan. Ya udah, kita kabarin teman-teman sekarang.” Kami jalan beriringan, mencari teman-teman.
__ADS_1
“Kok bisa salah jalan sih, Dif?” Mega baru sadar dengan jawaban tadi. Namun kuabaikan dan hanya membalas dengan senyuman.
Setelah berdiskusi dengan beberapa teman, kami sepakat akan menjenguk hari minggu. Dipertengahan obrolan, aku melirik jam tangan. Sepertinya diskusi ini sudah bisa ditinggal. Aku pamit terlebih dahulu dan dengan cepat pergi ke Alun-alun. Tapi setibanya disana, pedagangnya sudah tidak ada. Lemas rasanya… sengaja menahan lapar sejak tadi agar bisa makan bakso malang sepuasnya. Ternyata… hufttt… Hanya mampu mengelus perut yang kroncongan.
~*~
Minggu pagi kami berkumpul di parkiran Kampus. Perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh, kira-kira tiga jam lamanya. Hanya 23 orang yang berangkat. Beberapa motor ditinggal dan berboncengan dengan yang lain. Aku mengendarai motor sendiri. Karna perjalanan jauh dan kecepatan mengendarai berbeda, membuat sebagian teman ada yang tertinggal. Kami harus saling menunggu jika merasa ada anggota yang kurang. Rumah orangtua Pak Susilo cukup jauh dari jalan raya. Sesekali kami bertanya pada orang sekitar.
Pukul 10.20 kami tiba di tujuan. Tempat yang nyaman. Selain sepi, udaranya juga sejuk. Sangat baik untuk kesehatan. Jauh dari kota dan keramaian. Banyak pepohonan serta sawah.
Cukup lama kami mengobrol seputar kegiatan terbaru yang kami lakukan. Pak Susilo adalah salah satu Dosen yang ikut berpartisipasi dalam komunitas kami. Meskipun tidak aktif secara langsung, beliau sering kali mengontrol kegiatan kami. Saat teman-teman sedang asyik mengobrol, aku meminjam handphone Mega.
Aku sedang di jalan Wonosari loch? By Difa.
Pesan singkat aku kirimkan pada Sanu. Aku ingat bahwa Sanu tinggal di Patuk, tempat itu tidak jauh dari sini. Mungkin saja kami bisa bertemu. Aku terpaksa meminjam handphone Mega karna tidak punya pulsa.
Aku sedang di Sleman, maf tdk bs ktm.
Selepas sholat dhuhur kami berpamitan pulang. Aku rasa sudah cukup lama berkunjung. Dalam perjalanan kami mampir di sebuah warung makan. Saat sedang makan tiba-tiba Mas Anto pamit, di perjalanan nanti dia dan Mas Ibram akan berpisah karna ingin mampir ke rumah saudaranya Mas Ibram sebentar dan akan bertemu lagi di basecamp. Setelah mengisi perut dan merasa cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan.
Di perjalanan Mas Anto ngebut dan menyelip aku. Namun, tiba-tiba saja dia jatuh di tikungan. Dengan cepat Mas Ibram menggantikan Mas Anto menyetir dan mereka berhenti di gapura dekat tikungan. Aku langsung berhenti tak jauh dari tempat itu. Memperhatikan lamat-lamat, ingin rasanya bertanya keadaan mereka. Mas Anto memandangku, memberikan isyarat bahwa mereka baik-baik saja. Teman-teman yang lain ikut berhenti dan berteriak bertanya keadaan mereka. Mas Anto balas berteriak menjawab pertanyaan mereka dan menyuruh melanjutkan perjalanan. Beberapa teman yang jauh dibelakang ikut berhenti dan bertanya mengapa semua berhenti disini. Aku menjelaskan bahwa Mas Anto dan Mas Ibram terjatuh di tikungan. Masih cemas, mengingat keduanya jatuh tepat dihadapanku. Mungkin saat mengebut Mas Anto tidak memperhatikan bahwa disini banyak pasir sehingga motornya tergelincir. Aku kembali memandang laki-laki berambut kriting itu. Dia masih sibuk membersihkan jaketnya yang kotor. Dia kembali memandangku, memberi isyarat meminta melanjutkan perjalanan. Aku mulai melaju pelan, mengiringi teman-teman. Selama dalam perjalanan otak ini tidak henti-hentinya memikirkan keadaan kedua sahabat itu.
Setibanya di basecamp beberapa teman pamit pulang, hanya sebagian yang beristirahat sekalian sholat maghrib. Satu per satu teman-teman yang lain pamit juga. Hingga adzan isya’ tiba hanya tinggal empat orang yang tersisa.
“Kamu nggak pulang Dif?” tanya Mas Setiawan.
“Ntar Mas. Lagi malas pulang.” Aku meraih handphone di saku jaket. Mengetik pesan.
Mas kapan pulang? Aku menunggu di basecamp.
__ADS_1
Ku letakkan ponsel di atas meja. Hampir satu jam tidak ada balasan dari Mas Anto. Kembali meraih handphone, sms yang sama dikirim untuk Mas Ibram. Semua sms tidak ada yang terkirim. Aku baru ingat tidak punya pulsa. Aku pergi ke counter terdekat. Setelah pulsa masuk, langsung mengirim semua sms tadi. Tidak lama kemudian Mas Ibram membalas.
Kami sudah sampai di rumah sejak maghrib tadi. Kamu pulang saja. Maaf nggak mampir basecamp.
Aku tidak balas dan langsung pamit pulang. Malam ini aku meminta Disa tidur di rumah Simbah. Aku tidak ingin wanita lansia itu cemas menunggu hingga larut malam. Menjelang tidur aku sms Mas Anto lagi, namun tetap tidak ada balasan. Sudah lebih dari lima kali aku sms. Mencoba telpon tapi tidak diangkat. Semakin cemas dengan keadaannya. Kemudian sms Mas Ibram, menanyakan keadaan mereka. Dia menjelaskan bahwa lukanya tidak terlalu parah dan hanya butuh istirahat saja. Aku ingin tidur, namun sulit. Peristiwa tadi masih terbayang dalam benak. Ketika seseorang yang berarti, terjatuh. Aku hanya mampu menatap cemas, tidak tahu harus berbuat apa.
Sanu sms, meminta maaf tidak bisa bertemu tadi siang. Belum selesai membalas, aku sudah terlelap tidur.
~*~
Pagi hari Mas Anto sms. Dia mengatakan keadaanya baik-baik saja. Hanya sedikit memar dibeberapa bagian tangan dan kakinya. Aku menyarankan beberapa obat untuknya agar segera sembuh. Laki-laki yang memiliki lesung pipit di pipi kanan itu memintaku untuk tidak cemas berlebihan. Aku tersentak. Bagaimana aku tidak cemas jika cowok yang aku suka terjatuh dari motor tepat di depanku dan tidak ada kabar sama sekali. Mas Anto tidak lagi membalas. Untuk melepaskan rasa kesal aku kembali update status.
*Facebook*
Kenapa aku tidak boleh cemas berlebihan untuk orang yang aku sayang.
Hingga siang hari aku lupa balas sms Sanu. Dia kembali sms dan menanyakan keperluanku datang ke Wonosari kemaren. Aku pun membalas dan menceritakan kegiatan seharian itu.
Owh.. yg kemaren it y? Ak liat wkt d bis. Ak mo plg k Patuk & liat ad yg jtuh d dkat tkungan. Itu rombongan kalian toh?
Mungkin. Tp km tau gk ak yg mana.
Ya gk lah. Kan pkai helm semua gk keliatan wjahnya. Lagian ak jg gak mengira kalau itu km.
Perasaanku sedikit terhibur setelah smsan dengan Sanu. Kenapa cowok yang aku sayang tidak peduli padaku, sedangkan orang lain malah sebaliknya. Di Kampus aku tidak bertemu dengan Mas Anto. Mungkin hari ini dia tidak ada kuliah. Ingin sekali melihat keadaannya, tapi aku tidak tahu rumahnya dimana. Kami saling mengenal sudah satu tahun lebih. Sejak pertama bertemu sudah menyukainya. Cowok yang bertubuh agak gemuk itu adalah kakak angkatanku, sahabat baik Mas Ibram. Selama ini aku hanya memendam perasaan karna dia sudah memiliki pacar. Tapi setelah tiga bulan yang lalu aku dengar kabar mereka putus, sejak saat itu aku memberanikan diri mendekatinya. Mas Anto pun tahu tentang perasaan ini. Beberapa minggu lalu aku menyatakannya lewat sms. Kata-kata itu tidak sengaja terucap saat dia berusaha menjodohkanku dengan Mas Ibram. Dia tidak memberi jawaban, tapi sejak saat itu pula kami menjadi dekat dan sering smsan. Beberapa kali Mas Anto datang ke rumah. Tentunya tidak sendiri, dia selalu datang dengan teman-teman. Selama ini mereka tidak tahu tentang kedekatan kami. Dalam waktu singkat aku mengetahui banyak hal tentang Mas Anto. Sayangnya setiap kali aku ingin datang ke rumahnya dia selalu menolak dengan berbagai alasan.
\~*\~*\~
Salam cintaku untukmu wahai sobat pembaca...
__ADS_1
Semoga kamu senang dengan karyaku ini dan jangan lupa vote dulu ya... eitsss... like dan comentnya juga...
Matur Thankyu... :) :) :)