Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Valentine Berbagi


__ADS_3

Pagi ini aku ke Kampus lebih awal. Sebenarnya tidak ada kuliah. Tapi semangat untuk membuat kegiatan sosial memaksa agar berangkat. Saat tiba, Kampus masih sepi. Petugas bersih-bersih juga tidak terlihat. Sambil menunggu aku membaca pengumuman di papan. ‘Perkuliahan diliburkan hingga hujan abu reda.’ Lemas membaca pengumuman itu. Bagaimana mau mendapatkan sumbangan jika tidak ada mahasiswa. Dosen yang aku minta bantuan juga belum ada kabar. Teman-teman belum datang. Aku duduk termangu di depan papan pengumuman. Seorang satpam mendekat.


“Perkuliahan kan libur. Kenopo rak bali Mbak?(Kenapa tidak pulang Mbak?)” Pak satpam duduk di sebelah kananku.


“Mau ada acara Pak. Tapi teman-teman belum ada yang datang.”


“Emang acara opo? Udan awu ne kan sek deres... (Memang acara apa? Hujan abunya kan masih deras…)”


“Minta sumbangan buat korban Gunung Kelud. Tapi perkuliahan diliburkan, jadi… pasti nggak akan ada mahasiswa yang datang dan ikut menyumbang.” Menunduk sedih.


“Yo kui mesti (ya itu pasti). Kenapa nggak minta sumbangan di jalan-jalan saja. Di lampu merah gitu. Buka posko di pinggir jalan jadi kalau ada yang menyumbang pakaian bekas tahu tempatnya dimana. Tapi buka-nya jangan cuma sehari. Kira-kira semingguan lah baru bisa terkumpul banyak.”


“Mungkin lebih baik seperti itu Pak. Lagian Dosen yang saya minta bantuan juga belum ada konfirmasi.”


“Memang bantuan apa?”

__ADS_1


“Pinjam aula Kampus buat acara ini.”


“Kalau itu jelas susah. Kemungkinannya sangat kecil diijinkan. Kalau bukan acara penting, aula tidak boleh dipakai saat liburan. Apalagi dalam keadaan seperti ini.”


“Ini kan juga penting Pak?”


“Meskipun penting dan diijinkan, tetap saja percuma kamu buat acara di Kampus. Rak ono perkuliahan rak ono sumbangan (Tidak ada perkuliahan tidak ada sumbangan).” Pak satpam menggoyang-goyangkan telunjuknya ke kanan dan kiri di depan wajah.


Tidak lama kemudian panitia yang sudah dibentuk datang satu per satu. Pak satpam pamit pergi. Sambil menunggu yang belum datang, kami berdiskusi membuat rencana baru. Aku juga menyampaikan usul laki-laki tinggi tadi. Pak Susilo, dosen yang aku mintai bantuan menelpon untuk minta maaf karna tidak mendapat ijin meminjam aula. Kebetulan beliau sedang tugas keluar Kota jadi tidak bisa ikut berpartisipasi. Aku tidak terlalu kecewa karna sudah mendapat jawaban dari bapak bertubuh gemuk yang menemaniku beberapa menit lalu. Sesuai sarannya, setelah semua berkumpul kami membagi kelompok dan pergi ke jalan-jalan untuk meminta sumbangan. Beberapa ada yang bertugas di Pasar, Terminal dan Stasiun. Dengan menggunakan almamater Kampus, kami berkeliling seharian. Selama berhari-hari kami melakukan hal yang sama hingga perkuliahan dimulai. Aku memberanikan diri meminta ijin kepada salah satu Polisi untuk memakai area parkir pos Polisi lampu lalu lintas dekat Pasar sebagai tempat penerimaan sumbangan. Kami juga memasang spanduk besar bertuliskan ‘VALENTINE BERBAGI, Kami siap menerima sumbangan berupa pakaian layak pakai, uang dan kebutuhan lainnya untuk korban erupsi Gunung Kelud.’ Tidak lupa juga pasang pengumuman di facebook.


*Facebook*


Yuk, bagi kawan-kawan yang memiliki pakaian bekas tapi masih layak pakai. Dari pada membuat sesak lemari, lebih baik disumbangkan saja kepada saudara-saudara kita yang terkena musibah Erupsi Gunung Kelud.


Kami siap menjadi perantara antara kamu dan mereka. So… jangan ragu-ragu datang ke posko “Valentine Berbagi” di samping Pos Polisi dekat Pasar. Dan bagi yang jauh bisa hubungi saya di 081313029502.

__ADS_1


Kalau mau jadi relawan juga sangat diijinkan loch…


Ketika perkuliahan dimulai, aku kembali meminta ijin untuk meminjam aula Kampus sebagai posko. Akhirnya diijinkan selama belum ada pihak lain yang akan meminjamnya. Kami semakin semangat untuk melakukan kegiatan ini. Setiap selesai kuliah aku selalu datang ke aula memeriksa berapa banyak sumbangan yang datang. Begitu juga di pos Polisi, kami membuat jadwal tugas untuk menjaga pos. Aku senang teman-teman mau bekerjasama dengan baik. Pak Polisi pun dengan sukarela ikut membantu saat kami kekurangan tenaga.


~*~


Sudah seminggu lebih Kota ini dihujani abu. Meski tidak deras seperti dihari pertama. Tanah dan aspal sudah tidak tampak, semua tertimbun abu. Para warga dan petugas Pemerintah bekerja sama membersihkan jalan. Beberapa jalan utama ditutup karna sedang melakukan pembersihan dengan alat berat. Warga di perumahan pun kerja bakti menggunakan alat seadanya. Kata Ayah ketebalan abu di jalan raya hampir 10 cm. Tebalnya abu membuat jalan jadi licin. Sudah beberapa kali ada motor yang tergelincir dan terjadilah kecelakaan. Tidak hanya itu, saat ada kendaraan yang melaju maka abu di jalan akan beterbangan dan membuat pandangan jadi tidak jelas seperti berkabut tebal. Beberapa rumah ada yang atapnya roboh karna tidak kuat menahan abu. Semua warga berharap hujan deras bisa membersihkan Kota ini. Namun kenyataannya hujan membuat abu menjadi padat dan menempel. Hal ini membuat atap semakin rapuh. Pohon-pohon pun menjadi layu, bahkan ada yang mati. Kota ini masih seperti Kota mati. Abu yang sudah disisihkan kembali menyelimuti jalan ketika angin bertiup kencang. Jalan kembali tertutup abu dan licin.


Aku kembali meminta ijin kepada Ayah dan Ibu untuk pergi ke Kediri. Kali ini beralasan hanya untuk memberikan sumbangan. Sebagai ketua kegiatan aku wajib ikut untuk memberikan sumbangan secara langsung. Mereka terpaksa mengijinkan. Akhirnya kami pergi sebagai perwakilan dari Kampus. Aku pinjam mobil pick up Pak Susilo dan mobil pribadi dosen lain untuk membawa barang-barang sumbangan. Kami berusaha mengeluarkan sedikit mungkin biaya operasional. Daripada uangnya dipakai untuk menyewa mobil dan sopir lebih baik disumbangkan, pikirku. Tidak disangka dari pihak kepolisian pun mau ikut berpartisipasi untuk pergi ke Kediri. Satu mobil Polisi disiapkan untuk membawa barang sumbangan dan satu lagi untuk relawan yang mau ikut bergabung. Aku senyum, terharu. Tiba-tiba saja mata ini berkaca-kaca dan meneteskan air di pipi kanan. Terselip rasa bangga pada mereka yang membantu selama ini. Ternyata semua tidak sesulit yang aku pikirkan diawal menjalaninya. Segera kuseka air mata dan cepat-cepat masuk mobil.


Setelah semua persiapan selesai, kami berangkat ke Kediri dengan membawa beberapa karung pakaian bekas layak pakai, sembako dan sejumlah uang. Kami juga tidak lupa mendokumentasi semua kegiatan di pengungsian. Rencananya foto-foto itu akan kami pasang di papan pengumuman sebagai bukti bahwa sumbangan telah disalurkan langsung kepada pihak yang membutuhkan. Kegiatan berjalan lancar hingga selesai. Meskipun rasa gugup menyelimuti hati sepanjang hari, tapi kami berhasil menyelesaikan tugas dengan sukses. Beberapa anak pengungsian memberi kami surat yang isinya ucapan terimakasih karna sudah menghibur dan memotivasi. Mereka senang menyambut kehadiran kami. Ternyata pengalamanku mengikuti pelatihan motivasi tidak sia-sia. Beberapa game sederhana yang pernah dipelajari saat pelatihan, aku praktekkan lagi dan ternyata hasilnya luar biasa! Anak-anak terhibur, mereka tertawa lepas seakan tak ada beban dan memang harus itu yang mereka rasakan. Hati lega meskipun berhari-hari tenaga dan pikiran terkuras habis. Ada rasa bangga pada diri sendiri ketika berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Ternyata orangtua pun tidak bisa menghalangi niatku untuk pergi ke Kediri meskipun hanya untuk memberikan sumbangan. Setidaknya aku bisa memberikan sedikit motivasi kepada para pengungsi terutama anak-anak.


\~*\~*\~


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kawan...

__ADS_1


Yuk mari... like, koment dan vote ya sobat pembaca semua...


Matur Thankyu... :) :) :)


__ADS_2