
“Om… Tante…” Aku tatap Mas Vino, “Mas Vino… saya ingin minta maaf pada kalian atas kesalahan yang sudah saya perbuat.” Menatap mereka satu per satu. “Saya tahu, saya salah sudah menyakiti hati Mas Vino, saya menyesal. Semua ini begitu menyakitkan. Saya pun merasa bersalah sudah membuat Mas Vino terluka. Saya mohon, maafkan saya…” Aku menangkupkan kedua telapak tangan, memohon.
“Sudah lah… kamu tidak usah memohon seperti itu. Tante maklumi. Kalian kan masih muda. Masih belum bisa serius menjalin suatu hubungan. Kami memang kecewa. Tapi kami pun tidak bisa memaksamu mencintai Vino. Mungkin kalian memang tidak berjodoh.” Mama Mas Vino menghapus air mataku. Memeluk dan mengecup keningku.
Hatiku sedikit tenang setelah minta maaf, meskipun Mas Vino belum mau berbicara padaku. Aku coba mengerti perasaannya. Tapi aku tahu, sesekali dia melirikku. Aku pun ijin pergi saat Ibu memanggil untuk foto bersama.
Mas Vino mengirim sms, dia berkata ingin mengatakan sesuatu. kami menyingkir dari keramaian para tamu. Di pinggir kolam ikan, Mas Vino berdiri menungguku. Matanya tertuju pada bayangan di air. Hatiku berdetak kencang. Kira-kira apa yang akan dia katakan. Aku melangkah perlahan mendekatinya. Mas Vino menoleh dengan wajah yang masih masam. Aku menunduk, sedikit takut.
“Hai, Dif!” Mas Vino menatapku.
Aku tersenyum kecil. Ragu-ragu menatapnya. “Katanya Mas Mau bilang sesuatu? apa itu?”
Mas Vino terdiam beberapa saat. Sepertinya dia ragu-ragu untuk mengatakannya. “Emmm… apa ada kesempatan buat kita balikan.” Mas Vino meraih tanganku. “Aku sayang kamu tulus. Dan aku ingin menjalani hubungan yang serius dengan kamu.” Genggaman tangannya sangat erat, hingga aku sulit melepaskannya.
“Mas… aku tahu cintamu tulus. Tapi maaf. Aku tidak mau menyakitimu untuk yang kedua kali.” Aku tatap matanya. Ada perasaan sedih di hatiku. Baru kali ini aku merasakan cinta yang tulus. Tapi kenapa aku tidak bisa membalasnya? Seharusnya aku senang dan bersyukur. Seharusnya aku menerima cintanya dengan senang hati. Ya Allah, semoga Mas Vino mendapatkan jodoh yang lebih baik dari aku. “Maafkan aku Mas… aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mau menyakitimu lagi.”
“Apa laki-laki itu Sanu!!!”
Aku terkejut mendengar ucapannya. Dari mana dia tahu?
Mas Vino menatapku tajam. Apakah dia sudah tahu tentang semuanya. Kami saling pandang memandang, penuh tanya. “Maksud Mas apa?”
“Jujur saja Dif… apa laki-laki itu Sanu?”
Aku menunduk. Tidak berani menatap Mas Vino lagi.
“Kalau kamu diam, aku anggap itu benar.”
Aku sudah tidak tahan lagi, air mata pun terjatuh di tangan Mas Vino. Perlahan Mas Vino mengangkat daguku.
“Maafin aku Mas… ” Mata yang berkaca-kaca kini terlihat jelas.
“Jadi, benar. Orang itu Sanu.”
Aku mengangguk. Mas Vino melepaskan tangannya.
“Sudah aku duga. Seharusnya aku sadar sejak awal.” Mas Vino duduk di pinggir kolam.
“Mas, aku mohon jangan bilang pada Sanu. Aku nggak mau dia tahu tentang perasaanku. Sekarang aku sudah ikhlas dia bersama Disa.”
Mas Vino menoleh padaku, “Kalau kamu sudah ikhlas. Kenapa kamu masih menolakku?”
“Aku memang sudah ikhlas, tapi aku belum bisa menghilangkan perasaan ini. Dan aku juga khawatir jika aku bersama kamu, aku akan semakin sulit melupakan Sanu. Aku harap kamu mau mengerti Mas.”
Mas Vino diam, menunduk. Tangannya mengepal kuat. Aku duduk disampingnya. Memegang tangannya. Berharap hatinya bisa sedikit tenang. Tapi… dia menolak. “Aku rasa penjelasannya sudah cukup.” Mas Vino pergi meninggalkanku.
__ADS_1
~*~
Sudah seminggu lebih sejak Disa dilamar, Mas Vino tidak pernah menghubungiku lagi. Sms pun tidak pernah dibalasnya. Sepertinya dia sangat marah. Aku sadar, sejak awal memang salah. Aku coba perbaiki dengan meminta maaf pada Disa. Aku temui dia yang sedang mengerjakan skripsi di perpustakaan. Kembaranku yang akan menikah itu sedang serius membaca contoh skripsi dari alumni sambil menggunakan earphone. Aku duduk disampingnya.
“Difa. Kamu ngagetin aku aja.” Disa terkejut saat melihatku. “Sejak kapan kamu duduk disitu.”
“Sejak kamu serius baca buku.” Aku memutar-putar HP.
“Owh…” Disa melanjutkan baca buku dengan kepala sedikit menggeleng. Sepertinya dia sedang mendengarkan lagu.
Sesekali aku melirik Disa. Ragu-ragu ingin minta maaf. “Eeemmm. Dis.”
Tidak ada jawaban.
“Disa?” Tidak dijawab juga. Tiga kali aku memanggil, tidak ada respon. Aku dekatkan bibir ini ke telinganya, “Disa?”
“Ya.” Dia menoleh sejenak lalu melanjutkan membaca buku.
“Aku ingin minta maaf.” Dengan cepat Disa menoleh. Menatapku, melepas earphonenya.
“Minta maaf untuk apa?”
“Untuk Sanu.”
“Maksudnya?” Disa mengernyitkan keningnya.
Disa berbalik menghadapku, “Seharusnya aku yang minta maaf udah menyakiti kamu.”
“Sekarang aku sadar Dis, aku udah mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahanmu padaku. Aku ulangi pada Mas Vino. Sekarang aku bisa merasakan posisimu waktu itu.”
Disa memelukku. Matanya berkaca-kaca. “Difa… aku sayang kamu…”
“Aku juga sayang kamu, Dis. Dan aku ikhlas kamu menikah dengan Sanu.”
“Lalu bagaimana dengan Mas Vino. Kata Sanu kalian sudah putus.” Disa melepaskan pelukannya.
“Iya. Mas Vino udah tahu semuanya.”
“Apa dia sangat marah.”
“Pasti. Tapi setidaknya udah nggak ada kebohongan lagi.”
Kini aku sudah bisa tersenyum tenang, kami kembali akrab. Hari-hari berikutnya kami sering mengerjakan skripsi bersama di perpustakaan dan rumah. Disa sangat semangat menyelesaikan skripsinya karna Ayah mengijinkan dia menikah setelah pendadaran. Sedangkan aku, mau bimbingan saja malas apalagi dosennya sangat sulit ditemui.
Hari pendadaran pun tiba. Dengan sukacita aku membantu Disa menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa. Aku juga menemaninya begadang untuk belajar presentasi.
__ADS_1
“Dif, aku takut…” Wajah Disa terlihat tegang menunggu Dosen penguji.
“Udah… tenang aja. Kamu pasti bisa.” Aku mengelus bahunya.
“Ihhh… aku deg-degan loh. Kamu yang pendadaran, aku yang dag dig dug. Gimana sih ini.” Ujar Mega.
Dosen penguji pun datang. Aku dan Mega cepat-cepat keluar meninggalkan Disa. “Semangat ya.” Kataku sebelum pergi.
Hampir satu jam kami menunggu. Beberapa teman datang, menanyakan dimana ruangan Disa. Setelah aku beritahu, mereka bergegas mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu. Kami semua tegang, seperti sedang menunggu orang yang dioperasi. Setelah satu jam berlalu, dosen penguji keluar. kami berbondong-bondong menemui Mahasiswi diruangan kecil itu. Teman-teman heran, Disa terlihat sedih. Dia hanya duduk melamun. Kepalanya bersandar di naskah skripsi.
“Gimana Dis?” Tanya kami serempak.
“Kamu kenapa?” Aku belai kepalanya. Sepertinya dia terlalu tegang saat presentasi tadi.
“Presentasinya gagal ya?” Mega was-was.
Berbagai pertanyaan pun datang dari teman-teman.
“Kamu pasti lulus kok. Jangan sedih ya.” Aku tak henti-hentinya membelai kerudung putihnya.
“Iya… tapi aku takut hasilnya jelek.” Disa menangis.
“Yang penting kamu sudah berusaha. Sekarang tinggal berdoa. Semoga hasilnya memuaskan.” Aku dan teman-teman merapikan berkas-berkas presentasi. Kami harus segera pergi sebelum ruangannya dipakai mahasiswa lain.
Hasil pendadaran baru diumumkan sehari kemudian. Disa tidak henti-hentinya berdo’a di depan papan pengumuman. Kami duduk menunggu petugas menempelkan hasil pendadaran kemaren. Sudah dua jam lebih berada disini, tapi orang itu tidak datang juga. Sesekali ada teman yang datang menyapa. Ada pula yang ikut menunggu, meski tidak lama kemudian pergi lagi. Selembar kertas yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Belum selesai petugas menempelnya di papan, kami sudah berebut ingin melihat. Tidak sulit untuk mencari nama kembaranku, hanya delapan Mahasiswa dan Mahasiswi yang ikut pendadaran kemaren. Disa menangis memelukku. Aku heran kenapa dia menangis, padahal nilainya bagus.
“Alhamdulillah lulus… aku takut kalau disuruh mengulang lagi. Pengujinya galak-galak.” Ucapnya penuh syukur.
Hhhmmm… sekarang aku tahu alasan dia menangis. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika mendapat penguji yang galak. Tapi yang pasti sekarang gadis bergamis kotak-kotak dengan kerudung instan itu sudah bisa tersenyum. Tinggal aku yang entah kapan akan pendadaran. Disa sudah penuhi janjinya pada Ayah dan Ibu untuk menyelesaikan skripsinya dengan cepat. Tentu saja dia tersenyum bangga pada dirinya, karna setelah ini dia bisa menikah.
\~*\~*\~
Alhamdulillah.... Jum'at 25 Desember 2020 kemaren author telah mengadakan lamaran. Mohon do'anya sobat, semoga proses lancar sampai hari H.
Matur Thankyu.... :) :) :)
__ADS_1