Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Kota Mati 1


__ADS_3

Suara panggilan seseorang dengan ketukan pintu membangunkanku dari alam mimpi. Aku menarik selimut hingga menutup kepala, masih malas bangun. Alarm saja belum berbunyi. Terdengar suara pintu terbuka, langkah kaki yang tidak asing mendekat. Berhenti tepat disampingku. Kipas angin dimatikannya. Selimut perlahan-lahan terbuka. Mataku terpejam memeluk guling, sedikit mengintip. Seorang wanita tua sedang berdiri memperhatikanku, memanggil berkali-kali. Aku pura-pura tidak mendengar. Menggeliat, berganti posisi membelakangi sosok tua berambut putih. Panggilannya berhenti. Melangkah ke jendela, membuka gorden. Berkali-kali aku mengintip, tersenyum kecil melihat Simbah yang terlalu rajin membuka jendela dan mematikan lampu teras disaat langit masih gelap gulita. Adzan subuh berkumandang, tidak lama kemudian alarm di HP berbunyi. Wanita berkeriput itu masih berdiri memandang keluar jendela. Melirik kanan kiri memperhatikan jalan. Aku bangun mematikan alarm. Duduk bersila, menatapnya sejenak. Menggeleng. Melipat selimut dan merapikan seprai.


“Sopo toh sek senenge mateni lampu dalan. Egek peteng wis dipateni. (Siapa sih yang suka matiin lampu jalan. Masih gelap sudah dimatiin.)” Simbah menggerutu kesal. Padahal beliau sendiri juga mematikan lampu sejak sebelum subuh. Huft…


Aku hanya diam, masih merapikan seprai. Simbah berbalik melangkah keluar, sambil menggerutu hal yang sama. Aku membuntuti dari belakang, menuju kamar mandi. Sedangkan beliau masuk ke kamarnya.


“Mbah nggak wudhu…?” Tanyaku ketika tiba di depan kamar mandi.


“Aku durung batal. (Aku belum batal.)” Kembali menggerutu.


“Simbah sudah batal. Tadi kan kentut di kamar saya.”


“Ora kok! Aku rak kroso kentut. (Nggak kok! Aku nggak merasa kentut.)”


“Simbah sudah kentut, tadi saya dengar.”


“Kui kowe sek kentut. (Itu kamu yang kentut.)” Simbah menutup pintu.


Aku meggeleng, masuk kamar mandi. Ini bukan yang pertama kali. Simbah memang sudah pikun, tapi jika diingatkan selalu menyangkal. Sholat pun kadang lupa. Keluargaku baru pindah dari Jakarta saat aku kelas dua SMP. Di rumah, kami tidak pernah menggunakan bahasa jawa. Tidak banyak kosa kata yang kami ketahui. Aku paham ketika orang lain berbicara menggunakan bahasa jawa, tapi tidak bisa mengucapkanya.


Suara gemuruh terdengar saat aku sujud, diiringi petir yang sangat keras. Selesai sholat, biasanya aku membaca Al-Qur’an. Sedangkan Simbah menonton berita di televisi. Tapi kali ini beliau belum keluar kamar. Berhenti mengaji, kaget mendengar suara petir kembali terdengar lebih keras. Menatap keluar jendela. Kilat sangat terang. Menakutkan sekali! Tidak biasanya seperti ini. Langit merah menyala saat kilat muncul. Ada apa ini? Perasaan menjadi tidak karuan. Ntah apa yang ditakutkan. Sepertinya hujan akan sangat deras. Tapi kenapa harus merasa takut? Kenapa ada yang berbeda dengan hujan kali ini? Aku kembali melantunkan kitab suci. Simbah keluar kamar. Duduk di kursi favoritnya, depan televisi. Selesai mengaji, aku lipat mukena dan meletakkanya di atas sajadah. Beliau belum menyalakan televisi, masih duduk bersandar menatap langit-langit ruangan. Aku melihat jam dinding, sudah pukul 05.35. Kembali menatap jendela. Kenapa masih gelap juga? Menuju kursi didepan televisi, diseberang Nenek berambut panjang duduk. Beliau menoleh sejenak.


“Kayane meh udan deres. Petire seru banget. Mendunge yo peteng banget. (Kayaknya mau hujan deras. Petirnya keras sekali. Mendungnya juga gelap sekali.)” Simbah meraih remot di atas stoples kosong, menghidupkan televisi. “Koyo ngono lampu dalan wis dipateni. Melas wong sek lewat, dalane peteng. Meh lewat wae wedi. Ora iso weruh dalan. (Kayak gitu lampu jalan sudah dimatiin. Kasihan orang yang lewat, jalannya gelap. Mau lewat aja takut. Nggak bisa lihat jalan.)” Masih melanjutkan gerutunya. Memencet tombol remot, mencari berita.


“Itu bukannya dimatiin Mbah…? Lampunya memang sudah rusak. Kadang menyala kadang mati.” Aku menjelaskan untuk kesekian kali.

__ADS_1


Simbah tertawa kecil, “Medeni yo. Koyo ono setane. Kadang mati, kadang murup. Jal nek ono wong lewat terus ujuk-ujuk mati. Dindarani ono setan langsung mlayu keweden. (Menakutkan ya. Kayak ada setannya. Kadang mati, kadang menyala. Coba kalau ada orang lewat terus tiba-tiba mati. Dikiranya ada setan, langsung lari ketakutan.)” Meletakkan remot di meja, sudah menemukan berita favoritnya.


Aku menghela napas panjang, bersandar. Kami mulai serius menonton berita. Bencana alam kembali melanda Indonesia. Belum selesai bencana banjir di Jakarta, Gunung Sinabung meletus, dan sekarang Gunung Kelud. Ya Allah… Ada apa ini? Kenapa bencana dimana-mana? Apakah ini pertanda akan kiamat.


Aku pamit pulang. Seperti biasa, Simbah ikut keluar hendak duduk di teras. Ingin memperhatikan tukang kebun menyapu halaman sambil menunggu penjual bubur langganannya lewat.


Sesuatu yang berbeda kembali aku rasakan. Langit masih gelap terlihat dari jendela. Ketika membuka pintu mataku terbelalak, kaget. Semua putih. Teras, pohon, rumput, jalanan bahkan atap rumah tetangga pun putih. Hujan abu! Kenapa ada hujan abu? Apa Gunung Merapi juga meletus? Rumahku dekat Gunung Merapi. Jika hari cerah, puncak Merapi selalu terlihat di pagi hari. Wajar saja jika meletus abunya bisa sampai kota ini. Bahkan jika terjadi gempa pun terasa, meskipun kecil. Aku segera meminta Simbah masuk dan menutup pintu. Sepertinya bahaya jika pulang. Khawatir terjadi sesuatu. Simbah mengintip dari balik gorden. Seperti anak kecil yang suka bersembunyi. Seluruh tubuhnya tidak terlihat, kecuali kaki dan gerakannya. Aku mengajaknya kembali menonton berita.


“Udan awu. Pak Rebo rak bakal teko nyapu pekarangan. (Hujan abu. Pak Rebo nggak akan datang menyapu halaman.)” Simbah keluar dari balik gorden.


Aku menuntunnya, “Iya Mbah, hujan abu kan bisa merusak kesehatan. Lagian disapu juga percuma, nanti kotor lagi. Disapunya besok saja kalau hujannya sudah berhenti.”


Simbah tertawa kecil. Kami melanjutkan menonton televisi. Diberita tidak ada informasi tentang Gunung Merapi. Lalu hujan abu itu dari mana? Apa mungkin hujan abu ini dari Gunung Kelud. Ah tidak mungkin. Gunung Kelud kan letaknya jauh di Jawa Timur. Masak iya abunya sampai Jawa Tengah. Otakku berpikir keras mencari jawaban.


Ayah sms, memintaku tidak pulang karna hujan abu dari Gunung Kelud sangat deras. Tiba-tiba saja aku merinding. Ternyata benar ini abu dari Gunung Kelud. Dahsyat sekali, abunya bisa sampai kesini. Kejadian ini memang lebih mengerikan dari pada letusan Merapi tahun 2010. Semua stasiun televisi membahasnya. Kami hanya duduk termangu di depan televisi, tidak mau ketinggalan berita sedetikpun. Hari semakin siang, tapi kami tidak melakukan apa-apa selain duduk di depan televisi. Rasa lapar pun kami tahan, karna memang tidak ada makanan.


“Wa’alaikumussalam…” Aku menoleh kearah Simbah. Jelas saja ocehannya berhenti, beliau sudah tertidur pulas. Menghela napas, Lagi-lagi televisi yang menonton Simbah. Aku menoleh kebelakang.


“Pulang dulu saja, makan. Lapar kan? Dari pagi belum makan.” Ibu datang menghampiri. Di tangannya ada sebuah mangkuk plastik berisi nasi dan lauk.


Setiap hari Ibu selalu membawa makanan untuk Simbah. tidak banyak, cukup satu mangkuk. Itu juga sehari belum tentu habis. Terkadang tidak berkurang sama sekali. Jangankan makan, taruh mangkuknya dimana saja lupa. Pernah beliau marah-marah pada Ibu, merasa tidak dibawakan makanan. Padahal makanannya ada didalam ricecooker yang sudah lama tidak dipakai. Untung saja aku hafal dimana Simbah selalu menyimpan makanan. Kalau tidak di ricecooker, didalam stoples atau di kulkas. Katanya biar tidak dikerumun semut, tapi akhirnya selalu lupa menaruh. Disini tidak ada kompor. Simbah khawatir kebakaran, jadi minta dikirim makanan saja setiap hari. Hanya dimalam hari aku makan di rumah ini. Menghabiskan sisa makanan yang ada. Sedangkan siang hari aku makan di rumah atau warung.


Simbah tiba-tiba terbangun, menoleh bingung. Melihat Ibu berdiri dibelakangku.


“Kapan kowe teko? (Kapan kamu datang?)” Tanya Simbah pada Ibu.

__ADS_1


“Baru saja Bu. Ini saya bawakan Nasi dan tempe bacem pesanan Ibu kemaren.” Ibu melangkah ke dapur. Meletakkan mangkuk di meja makan. Tidak lama kemudian kembali.


“Ora nggowo sayur bening? (Nggak bawa sayur bening?)” Bola mata Simbah mengikuti langkah Ibu.


“Di panci kecil kan masih ada Mbah?” Jawabku. Meski sebenarnya sudah tak layak makan.


“Neng ndi? Ora ono panci cilik neng mejo. (Dimana? Nggak ada panci kecil di meja.)”


“Kan Simbah yang menaruh di kulkas. Katanya biar dingin. Biar segar seperti es.” Aku berdiri. Sudah dua hari yang lalu sayur itu dimasak, namun sekalipun tidak pernah disentuh. Pernah juga hingga seminggu lebih. Dengan alasan yang sama, biar dingin. Kenyataanya hingga basi dan berjamur.


Simbah tertawa mengingat dirinya yang sudah sangat pikun. Beliau sangat suka sayur bening, tapi hanya kuahnya. Setiap kali dibuatkan sayur bening selalu dimasukkan kulkas. Jika sudah dingin baru diminum langsung dari mangkuk atau panci. Ampasnya… Beliau sisakan dan akhirnya aku yang makan. Huft… dengan terpaksa! Meskipun tidak suka tetap harus memakannya. Simbah tidak akan pergi sebelum sayurnya habis kumakan.


“Difa biar pulang dulu Bu, dari pagi dia belum makan. Nanti kesini lagi.” Ibu meminta ijin kepada Simbah.


Simbah hanya mengangguk dengan wajah murung. Aku tahu beliau pasti merasa kesepian setiap kali ditinggal. Ayah dan Ibu sudah berkali-kali mengajaknya untuk tinggal bersama, tapi beliau selalu menolak. Wanita renta itu tidak mau meninggalkan rumahnya. Beliau suka suasana yang sepi. Sedangkan rumah kami sangat ramai karna bersebelahan dengan lapangan. Banyak anak-anak lalu lalang. Ibu-ibu pun tidak kalah ramai. Sambil mengawasi anaknya bermain di lapangan, mereka bergosip di bipan panjang depan rumah. Akan menjadi tekanan batin untuknya jika tinggal bersama kami. Selain itu, disini juga banyak kenangan bersama Simbah Kakung sebelum meninggal. Sudah lima tahun berlalu, tapi suasana itu masih terasa. Sering kali aku merasa beliau masih bersama kami. Setiap melihat kamarnya, terbayang beliau memanggil, “Difa… Difa… rene… tolongi Simbah. Ono sek narik Simbah. Simbah meh digowo lungo? Tolong… tolong… tolong…??? (Difa… Difa… sini… tolong Simbah. Ada yang narik Simbah. Simbah mau dibawa pergi? Tolong… tolong… tolong…???)” Itulah hari terakhir aku bertemu Simbah kakung. Beliau bermimpi ada seseorang yang menarik dan membawanya pergi. Ternyata benar. Saat memperbaiki kereta yang rusak di jembatan, kaki beliau tersangkut sesuatu dan terjatuh ke sungai. Hingga empat hari kemudian jenazahnya baru ditemukan jauh dari tempat beliau terjatuh. Setidaknya itulah yang diceritakan teman kerjanya yang malam itu ada di tempat kejadian.


Tinggal bersama Simbah rasanya sama saja seperti tinggal sendirian. Beliau sering tertidur  dimana saja. Saat menonton televisi, makan, duduk di teras atau di ruang tamu. Wanita tua yang mungil itu tidak pernah sadar jika sudah tertidur lama. Sebenarnya rumah kami berdekatan. Tidak lebih dari sepuluh menit dengan berjalan. Tapi aku hanya bisa menemani dimalam hari. Sedangkan siang kuliah dan membantu Ibu berjualan. Ibu memiliki warung makan di pinggir jalan. Meskipun sudah ada dua karyawan, Ibu sesekali masih butuh bantuanku.


Kami pamit pulang. Sebelum keluar rumah, Ibu memberiku masker. Meskipun dekat, tetap berbahaya jika tidak menggunakannya. Hari ini Ibu tidak berjualan, cuacanya sangat tidak mendukung untuk beraktifitas di luar rumah. Rasanya seperti Kota mati, semua terlihat putih. Jalan aspal sudah tidak nampak, abu tebal menutupinya. Tidak ada satu pun orang di jalan selain kami. Semua sedang bersembunyi di rumah masing-masing. Tanpa menunggu pengumuman, aktifitas belajar-mengajar diliburkan. Para orangtua tidak akan mengijinkan anaknya sekolah dalam keadaan seperti ini. Jangankan anak sekolah, aku saja tidak diijinkan ke Kampus.


~*~


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kawan...


Yuk mari... like, koment dan vote ya sobat pembaca semua...

__ADS_1


Matur Thankyu... :) :) :)


__ADS_2