Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Kenyataan Yang Menyakitkan 4


__ADS_3

Lembayung senja menghiasi taman yang ramai oleh anak-anak. Langit baru saja selesai menyirami bumi membuat udara sedikit dingin. Sore yang indah, namun tidak seperti hatiku yang terasa gelap dan sepi. Aku ingin pulang. Tidak ada lagi alasan untuk aku tinggal disini. Mungkin jika pulang, hatiku akan lebih tenang. Penelitianku juga sudah selesai. Hanya tinggal beberapa saja yang masih kurang dan bisa dilakukan via telpon. Huft… kepalaku benar-benar pusing memikirkan semua ini. Sedang sedih, sendirian lagi. Tidak ada teman yang bisa menghibur. Hanya anak-anak kecil yang sedang bermain pasir terkadang membuat aku tersenyum. Masa yang paling menyenangkan adalah kanak-kanak. Mereka tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Cukup beberapa menit menangis, semua yang mereka inginkan langsung terwujud. Hari-hari mereka selalu diisi dengan tawa. Tidak pernah ada beban di kepala. Ingin rasanya kembali ke masa itu. Masa dimana aku dan Disa selalu bermain bersama. Tidak pernah ada permusahan seberat sekarang. Hanya beberapa menit bertengkar sudah cukup bagi kami. Setelah itu bermain bersama lagi. Tidak terasa sudah dua minggu lebih kami bermusuhan.


“Sore-sore kok melamun neng? Ntar kerasukan loh. Apalagi di bawah pohon beringin kayak gini…” Sebuah suara mengejutkanku. Secepat kilat aku menoleh. Sosok laki-laki bertopi dengan seragam biru muda sudah berdiri di belakang dengan membawa dua bungkus ice cream, ia pun duduk disampingku. Menjulurkan sebungkus ice cream coklat berbentuk love. “Nih, obat galau. Lumayan… bisa mendinginkan hati yang terbakar emosi.” Aku meliriknya, curiga. “Sudah… nggak usah lirak-lirik… ambil aja ice creamnya, nanti keburu cair.”


Aku raih ice cream itu. Kami makan bersama sambil memandangi anak-anak bermain.


“Menyenangkan ya jadi anak kecil, nggak pernah memikirkan masalah seberat orang dewasa. Yang ada dipikiran mereka hanya bermain dan bermain.” Ujar pria disampingku.


“Iya. Sayangnya kita nggak akan pernah kembali lagi jadi anak-anak.” Aku menoleh, menatapnya. “Kamu tahu dari mana aku disini.”


“Owh… aku cuma nggak sengaja lihat kamu, waktu nurunin penumpang di seberang sana.” Tangannya menunjuk arah dimana dia melihatku. Kami kembali terdiam beberapa saat.


Dayat, meskipun aku masih kesal padanya karna selalu membela Disa. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini aku membutuhkan kehadirannya. Aku pun tersenyum menatap wajah lusuh laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarganya itu. Terlihat jelas sangat lelah. Dia memang laki-laki yang bertanggung jawab, Aku salut padanya.


“Bagaimana kisahmu dengan Mas Vino. Semoga masih berjalan lancar ya.”


“Ya. Seperti itulah. Kami masih bersama.”


“Apa kamu tidak takut menyakiti hatinya?”


“Sangat takut!” jawabku tegas.


Dayat menoleh, menatapku tajam. “Lalu kenapa kamu masih bertahan.”


“Karna aku juga takut untuk mengatakan kebenaran. Aku takut dia terluka.”


“Dia akan lebih terluka jika kamu tidak pernah jujur. Kamu tidak hanya menyakiti dia tapi juga menyakiti dirimu sendiri. Katakanlah yang sebenarnya sebelum semua terlambat. sebelum dia terlalu dalam mencintaimu. Karna itu akan lebih menyakiti dia. Kecuali kalau kamu mau berusaha mencintainya.”

__ADS_1


“Selama ini pun aku sudah berusaha mencintainya. Tapi sangat sulit melupakan Sanu selama aku masih bertemu dengannya. Cara satu-satunya agar aku bisa melupakan mereka adalah pulang ke Jawa.”


“Pulang ke Jawa???” Dia mengernyitkan kening.


“Ya. Aku ingin pulang ke Jawa dan melupakan semua yang terjadi disini.”


“Apa itu artinya kamu akan mutusin Mas Vino.”


“Ntahlah.”


“Dif, kamu sadar nggak sih. Kamu itu sudah menjadikan dia tempat pelampiasan. Kamu mau jadi pacarnya karna tidak bisa memiliki Sanu. Kamu hanya menjadikan dia tempat pelarianmu aja. Bayangkan jika kamu di posisi dia. Sanu mau jadi pacarmu karna sakit hati pada Disa. Bagaimana perasaanmu jika Sanu hanya menjadikanmu tempat pelarian. sakit kan Dif!!! Sama seperti Mas Vino sekarang?”


“Iya. Iya. Aku tahu aku salah. Aku tahu aku sudah menyakiti Mas Vino. Tapi aku sendiri juga bingung bagaimana harus mengatakannya? Aku sendiri juga tersakiti dengan kondisi ini…” Aku menunduk, kesal, bingung. Tidak kuat menahan tangis. Menggigit ice cream dengan cepat, ingin segera habis.


Dayat menjulurkan saputangannya, “Sudahlah… jangan menangis. Hapus air mata kamu. Aku paling tidak tahan lihat cewek nangis. Ntar orang-orang kira aku yang buat kamu mewek. Maaf ya jika kata-kataku salah.”


Dia kembali memandangi anak-anak bermain pasir. Es ditangannya sudah habis.


“Dif, kamu ingat nggak waktu pertama kali kamu datang untuk meminta jambu di rumahku.” Tersenyum, menatapku sejenak lalu kembali memandang taman bermain.


“Ingat. Kenapa?” Ikut memandang anak-anak bermain. Berusaha untuk tidak menangis lagi.


“Waktu itu aku bilang kalau di Stasiun aku langsung bisa membedakan kamu dengan Disa.”


“Oh iya. Kok kamu bisa membedakan kami berdua?” Aku menoleh.


“Gampang saja.” Dayat menoleh sejenak. “Kamu ingat waktu kecil kita pernah mencuri mangga.”

__ADS_1


“Tentu ingat. Waktu itu kita menimpuk mangga dengan batu karna pohonnya terlalu tinggi.”


“Iya. Dan tanpa sengaja wajah kamu terkena batu yang aku lempar hingga berdarah.”


“Benar banget. Rasanya tuh sakit… banget. Sakitnya tuh disini. Kata Cita Citata. Dan itu yang nggak bisa aku lupakan!!” Aku menunjuk bekas luka di wajah yang tidak bisa hilang.


Dayat tertawa melihat ekspresi sakitku. “Iya. Iya. Aku tahu itu sakit. Dan sampai sekarang bekas luka itu masih ada kan? Itulah alasannya aku bisa membedakan kamu dengan Disa. Karna aku lah yang membuat luka di dekat matamu itu.” Dia tersenyum lebar.


Sesaat kami terdiam saling bertatap, hingga teriakan keras anak-anak mengalihkan pandangan kami.


“Hhhmmm… terimakasih ya, kamu sudah menemani aku disini.” Aku menunduk malu.


“Sama-sama. Sekarang kita pulang yuk… sudah mau maghrib. Kapan-kapan kalau kamu butuh teman, hubungi aja aku.” Dayat berdiri, merapikan seragamnya.


Aku mengangguk mantap. Ikut berdiri, membersihkan celana yang kotor. Kami jalan beriringan menuju mobil yang terparkir.


 


 


\~*\~*\~


 


Hauussss...... pengen makan ice cream. ada yang mau beliin autrhor gak ya.... kirim paket nggak papa. ntar kalau cair, petugas ekspedisinya suruh ganti rugi. hehehehe.....


Kalau nggak mau beliin ice cream its ok! gapapa! tapi beri like, commet dan vote aja ya...

__ADS_1


Matur Thankyu..


__ADS_2