Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Merantau 1


__ADS_3

Seperti yang aku janjikan, sore ini aku datang ke acara syukuran Mas Anto. Sudah banyak undangan yang datang. Tidak hanya teman-teman kelasnya, dari komunitas pun diundang, termasuk mantan kekasihnya. Sebenarnya aku agak risih dengan kehadiran wanita itu. Aku merasa tidak percaya diri berhadapan dengan wanita yang pernah singgah di hati pemilik acara ini. Secara tidak langsung hati menyimpan rasa cemburu saat melihat mereka bertegur sapa. Aku duduk bersama teman-teman komunitas. Berusaha menenangkan diri dengan bercanda. Tiba-tiba dua orang perempuan datang, aku merasa heran dengan kehadiran mereka. Baru tadi siang aku berusaha merayu agar mau hadir, namun mereka tetap menolak bahkan marah-marah. Saat melihatku, mereka langsung mendekat untuk bergabung. Aku menanyakan alasan mereka datang, namun mereka tidak mau menjawab dan mengalihkan perhatian.


Acara dimulai dengan hiburan kecil dari beberapa teman. Mereka bersenandung diiringi dua buah gitar. Syukuran ini hanya diadakan sederhana. Sebatas makan-makan dan kumpul bersama. Belum selesai teman-teman bernyanyi, hidangan berbuka sudah datang. Kami hanya perlu menunggu Adzan beberapa menit lagi agar bisa menyantap semua hidangan. Saat suara adzan mulai terdengar, kami saling bersorak riang. Segera berbuka dengan es buah yang sudah disiapkan, dimulai dengan berdoa bersama yang dipimpin Mas Setiawan. Setelah merasa cukup, kami berpisah untuk sholat maghrib di masjid terdekat. Sebenarnya di rumah makan ini juga ada mushola kecil, tapi tidak akan cukup untuk menampung kami semua. Selesai sholat, kami kembali untuk meneruskan makan. Kali ini yang kami hadapi adalah makan besar, nasi dan lauk pauknya. Mas Anto memilih tempat ini karna menu spesialnya, yaitu ayam bakar tulang lunak. Ini makanan favorit kami.


Selesai makan, Mas Anto berdiri di tengah kerumunan. Dengan tangan gemetar, dia mulai menyampaikan maksudnya mengundang kami. Laki-laki yang terlihat grogi itu berdehem, meminta perhatian. Spontan semua terdiam dan berhenti bercanda.


“Teman-teman terimakasih atas kehadirannya di acara syukuran kelulusanku ini. Terima kasih juga atas bantuannya selama mengerjakan skripsi kemaren. Sebenarnya acara ini tidak hanya untuk syukuran kelulusan saja. Tapi juga syukuran perpisahan. Insya Allah setelah wisuda nanti aku mau merantau ke Surabaya. Jadi jangan heran jika tiba-tiba kalian kehilangan cowok ganteng seperti aku ini…” teman-teman bersorak menertawakan pembicara. Aku terdiam lesu. Kenapa Mas Anto tidak bilang akan pergi ke Surabaya? Disaat yang lain sedang bersenang-senang merayakan kepergian Mas Anto, aku justru merasa sangat sedih mendengar kabar ini.


Hari ini dia sangat sibuk melayani teman-temannya, sehingga tidak ada waktu untuk mengobrol denganku. Selesai acara aku langsung pulang. Mas Anto tidak berusaha menghentikanku ketika mengucapkan selamat dan pamit. Dia masih saja asyik mengobrol dengan yang lain. Aku pulang dengan tidak bersemangat. Sepertinya menyesal datang ke acara ini. Tidak seharusnya aku tahu dia akan pergi.

__ADS_1


Belum hilang rasa sedih ini, Simbah menambahkan kesedihan yang lain. Saat aku pulang, seperti biasa beliau menunggu di teras. Tapi kali ini ada yang beda. Simbah sedang menangis. Dengan cepat aku lari mendekat, setelah menutup pintu gerbang.


“Simbah kenapa? Apa yang terjadi?” Berusaha menenangkan. Aku bingung harus berbuat apa, sedangkan tangisnya semakin kencang. “Simbah tenangkan hati dulu ya, istighfar pelan-pelan, tarik napas panjang.” Kubelai bahu wanita tua yang sedang bersedih ini.


Setelah berhenti menangis, beliau mulai bercerita sambil tersedu-sedu.


“Aku kangen karo Bapak. Mbiyen sok teraweh bareng, sahur bareng, buko poso bareng. Saiki opo-opo aku dewe, poso dewe, buko dewe, teraweh dewe, neng omah yo dewe. Ndue anak akeh podo lungo kabeh. Ra ono sek gelem ngancani aku neng kene. Ono Bapakmu tok, kui yo kerjo terus, ra tau kober ngancani aku. Awan bengi aku dewean neng omah. Meh lungo-lungo ora iso, kur mlaku tekan latar tok wae wis sayah. Isone kur njagong neng kene nonton wong liwat. (Aku kangen sama Bapak. Dulu suka tarawih bareng, sahur bareng, buka puasa bareng. Sekarang apa-apa aku sendiri, puasa sendiri, buka sendiri, taraweh sendiri, di rumah juga sendiri. Punya anak banyak pada pergi semua. Nggak ada yang mau menemani aku disini. Yang ada hanya Bapakmu, dia juga kerja terus, nggak pernah sempat menemani aku. Siang malam aku sendirian di rumah. Mau pergi-pergi nggak bisa, cuma jalan sampai halaman aja udah capek. Bisanya cuma duduk disini menonton orang lewat.)” Air matanya kembali mengalir dan membanjiri pipinya yang keriput. “Wis tuwo ngene ora ditunggoni anak. Kerjo podo adoh-adoh neng luar kota. Sek cedak kur Bapakmu tok. Sesok nek aku meninggal ora iso ketemu bocah-bocahku sek terakhir kali. Mbiyen podo tak openi susah payah, basan wis gedhe podo lungo dewe-dewe. Opo aku kur dadi beban nggo bocahku. Yo aku sadar, nek aku ki wis tuwo, isone kur ngrepoti tok. Opo-opo njaluk tulung. Ngengeti jangan wae gosong. Aku wis ra iso di ndelke jogo omah. Anak-anakku podo ora betah ngancani wong tuwo koyo aku. Tapi kan iki dudu karepku, iki wis takdire wong kabeh mesti tuwo, mesti pikun. Aku yo pengene sehat terus, ora dadi beban nggo anak-anakku. Karang wis penyakit tuwo ki ora iso dihindari. Kabeh wong mesti bakal ngrasani. (Sudah tua begini tidak ditungguin anak. Kerja pada jauh semua di luar Kota. Yang dekat hanya Bapakmu saja. Besok jika aku meninggal nggak bisa bertemu anak-anakku yang terakhir kali. Dulu mereka aku urus susah payah, setelah besar mereka pergi sendiri-sendiri. Apa aku hanya jadi beban untuk anakku. Ya aku sadar, kalau aku ini sudah tua, bisanya hanya ngrepoti saja. Apa-apa minta bantuan. Ngangetin sayur saja gosong. Aku sudah tidak bisa dipercaya jaga rumah. Anak-anakku pada tidak betah menemani orang tua seperti aku. Tapi kan ini bukan keinginanku, ini sudah takdirnya semua orang pasti tua, pasti pikun. Aku juga inginya sehat terus, tidak jadi beban untuk anak-anakku. Memang penyakit tua itu nggak bisa dihindari. Semua orang pasti akan merasakan.)” Tangisnya semakin pecah.


“Mbah, maafin kami ya yang jarang menemani Simbah. Karna kesibukan kami, Simbah jadi terlalaikan. Bukan maksud kami mengabaikan Simbah, hanya saja waktunya yang belum sempat. Simbah jangan menangis lagi ya, kami semua sayang Simbah dan tidak ingin melihat Mbah menangis. Nanti Difa akan bicara pada Ayah biar bisa lebih meluangkan waktu untuk menemani Simbah.” Aku peluk Nenek yang masih bersedih itu sambil mengusap-usap punggungnya. “Sudah ya Mbah nangisnya, Difa ikutan sedih nih.” Kulepas pelukannya dan memperlihatkan ekspresi sedih. “Sekarang kita masuk ke dalam ya, tisunya sudah hampir habis nih. Nggak ada lagi stok buat ngelap ingusnya Simbah.” Sedikit tersenyum dan menghibur sambil menuntunnya ke dalam rumah.

__ADS_1


Ada rasa bersalah pada beliau yang sudah tua, tapi selalu ditinggal anak dan cucunya. Simbah selalu menyalahkan diri sendiri yang sudah tidak berdaya dan pelupa sehingga selalu merepotkan kami.


Esok hari aku menceritakan keadaan Simbah kepada Ayah dan Ibu. Setelah cukup lama berdiskusi, Ayah memutuskan setuju untuk menggantikanku tidur di rumah Simbah. setiap sahur beliau juga selalu sendirian di rumah. Sedangkan aku dan Disa di warung membantu Ibu. Meskipun Simbah tidak puasa, setidaknya beliau bisa menemani Ayah sahur, kan?


~*~


 


Ngantuk.... tekluk tekluk... ngetik bikin cerita buat sobat pembaca yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Author sangat berharap sobat semua suka dengan karya author yang masih pemula ini.

__ADS_1


Jangan pernah bosan ya baca novel ini.


Salam matur thankyu... :) :) :)


__ADS_2