
“Apa yang terjadi dengan Sanu, Mas?” Aku mendekat. Berdiri disamping Mas Vino.
“Dia koma setelah operasi.”
“Memangnya dia sakit apa?”
“Kanker otak.”
Air mataku mengalir deras. Menatap tajam wajah Sanu. “Hai, Sanu.” Aku tersenyum sedih. “Apa kamu masih ingat aku? Cewek yang membuat kamu penasaran. Tapi sekarang kamu yang membuatku penasaran.” Aku seka air mata. “Kenapa kamu menghilang dengan tiba-tiba? Dan sekarang kita bertemu lagi dengan keadaan seperti ini.” Aku hampir terjatuh lemas. Mas Vino dengan cepat menangkap tubuhku. Disa yang berdiri di seberangku ikut menangis melihatku.
Seorang perawat datang. Mengingatkan bahwa jam jenguk sudah habis. Mas Vino menuntunku keluar. Disa mendekat. Ikut menuntunku. Kami duduk di kursi panjang depan ruang ICU. Aku bersandar di bahu Disa. Menatap kosong kearah kolam ikan yang ada di depan. Disa merangkulku dengan erat.
“Sejak kapan dia sakit.” Tanya Disa.
__ADS_1
“Ntahlah. Aku juga baru tahu beberapa minggu lalu. Dia orang yang tertutup. Sakit parah seperti itu saja tidak mau cerita. Kalau waktu itu aku tidak melihatnya, mungkin sampai sekarang aku juga tidak tahu. Waktu itu aku sedang menjenguk teman yang kecelakaan dan tidak sengaja melihat Sanu masuk IGD. Saat itulah Mamanya menangis di pelukanku dan menceritakan semuanya.” Mata Mas Vino terlihat merah berkaca-kaca. Setetes air mata jatuh di pipinya. “Kalian sendiri kenapa bisa kenal Sanu.” Mas Vino menoleh kearah kami.
“Sebenarnya Sanu tidak kenal aku. Dia hanya kenal dengan Difa lewat sms. Nomor nyasar gitu deh… Tapi tiba-tiba saja Sanu menghilang tanpa kabar. Semua nomornya tidak aktif. Pertemanan kami juga diblokir.” Disa mewakilkanku bercerita.
Mas Vino tertawa kecil. Kepalanya menunduk. “Sanu memang orang yang aneh! Dia tidak mau semua orang tahu tentang penyakitnya. Jadi sebelum berita sakitnya tersebar, dia sudah menghilang dari kehidupan teman-temannya. Satu hal yang ingin dia lakukan.” Sejenak menoleh kearah kami.
“Apa?” Tanya kami serempak, bersamaan menatap Mas Vino.
“Apa syaratnya?” Tanya Disa.
“Kalian harus menemaniku sampai malam.” Mas Vino pergi meninggalkan kami.
“Hah!!!” Aku dan Disa serempak saling berpandangan. Dengan cepat mengejar Mas Vino yang sudah berjalan jauh.
__ADS_1
~*~
Sudah berhari-hari aku dan Disa menemani Mas Vino menjaga Sanu. Laki-laki berkulit putih itu sering kali cerita tentang Sanu sewaktu mereka tinggal bersama di Makasar. Saat itu Sanu memutuskan menyusulnya. Dia ingin mencari kerja dan menumpang di tempat Mas Vino sementara. Tapi belum ada sebulan, Sanu pindah ke Yogyakarta. Laki-laki yang sedang koma itu memang sengaja mencari kenalan dari berbagai daerah, dengan tujuan bisa mendatangi kota tersebut. Dari caranya bicara, pria yang sedang menyeruput kopi ini terlihat dewasa serta bijaksana dalam menghadapi setiap masalah. Tak jarang ia menasehati kami agar lebih bersemangat lagi menyelesaikan kuliah. Aku dan Disa sempat bertemu Orangtua Sanu saat gantian menjaga. Wanita berjilbab Ungu tersebut menangis saat menceritakan keadaan anaknya beberapa bulan terakhir. Putranya itu sering menyendiri dan meninggalkan semua akses komunikasi. Papanya menunjukkan padaku sebuah novel karya Sanu. Novel itu bercerita tentang perjalanan sejak awal ia mengetahui penyakitnya hingga harapan untuk terus hidup. Aku bawa pulang novel itu dan dibaca bersama kembaranku. Tidak hanya sekali kami membaca. Tidak hanya sekali juga menangisi kisahnya. Pernah sekali Mas Fikri ikut menjaga laki-laki tak berdaya itu, menemani hingga larut malam. Disa tidak bosan-bosannya membaca Al-Qur’an. Orangtua Sanu pun dengan semangat ikut mengaji. Katanya mereka sudah menganggap kami sebagai anaknya juga. Sanu tidak mempunyai saudara perempuan. Dia anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamanya bekerja di Korea. Kakak keduanya bekerja di Batam. Sedangkan adiknya masih kelas dua SMA.
“Senang sekali jika kami punya menantu seperti kalian.” Kata Papa Sanu. Aku dan Disa tersenyum malu. Dalam hatiku berharap, semoga menjadi kenyataan. Tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan ini mulai tumbuh. Apalagi kedua Orangtuanya sangat menyayangi kami. Disa kan sudah memiliki Dayat. Jadi, mungkin hanya aku yang akan menjadi menantunya.
\~*\~*\~
Kawan, besok author cuti dulu ya,,, mau dipingit sementara waktu. Katanya biar awet muda + laris manis karyanya. ceritanya dilanjut kapan-kapan aja deh kalau udah selesai masa pepingitan, sambil cari wangsit untuk naskah selanjutnya.
Good Bye...
__ADS_1