
Ponsel Disa berdering ketika kami hendak keluar kamar. Gadis yang baru saja melewati pintu itu langsung berlari mencari tahu siapa yang sedang menghubunginya.
“No kamu, Dif?” Dia menatapku, “Hallo, Assalamu’alaikum.” Segera menerima panggilan itu dan mengeraskan suaranya.
Aku berjalan cepat menghampiri Disa.
“Wa’alaikumussalam, Mbak kebetulan saya sedang ada di jalan deket rumah Mbak. Apa bisa kita bertemu? Tapi maaf, saya tidak bisa ke rumah Mbak karna ban mobil saya bocor. Sekarang saya di bengkel pinggir jalan raya.” Jelas suara laki-laki dari seberang sana.
Disa menatapku, meminta persetujuan. Aku pun mengangguk.
“Baik, Mas di bengkel mana ya? Biar gampang kami mencarinya.”
“Nanti saya sms Mbak, ya?”
“Ok. Kami otw kesana.”
Kami berdua bergegas ke dapur menemui Tante Lilis dan minta ijin untuk keluar. Jarak rumah ke jalan raya cukup jauh dengan berjalan, tapi menggunakan ojek pun tidak mungkin karna pangkalan ojek juga berada dipinggir jalan raya. Sesampainya di ujung gang, aku bertanya pada orang sekitar alamat bengkel yang kami cari. Tidak jauh dari kami berdiri, hanya tinggal menyebrang jalan raya dan berjalan ke arah kanan. Kami pun sampai di sebuah bengkel kecil yang hampir tak terlihat tulisannya karna sudah kusam. Untuk memastikan, Disa menelpon nomorku.
“Assalamu’alaikum.” Suara seorang laki-laki.
“Wa’alaikumussalam. Mas, kami sudah di depan bengkel. Mas dimana ya?” Aku dan Disa celingukan mencari sosok laki-laki yang sedang menerima telpon.
“Saya di dalam, sebentar saya keluar dulu. Jangan dimatikan ya.”
Kami menatap kearah bengkel, menunggu seseorang yang akan keluar. Tak lama, seorang laki-laki berkemeja hitam dengan garis-garis putih keluar sambil melambaikan tangan. Dia menurunkan ponselnya dan panggilan telepon terhenti. Kami saling mendekat.
“Mbak Disa, ya?” sapanya.
“Iya, Mas. Ini saudara kembar saya, Difa. Pemilik HP yang Mas temukan.” Disa menunjukku dengan kepalanya.
__ADS_1
“Oh iya, ini HPnya Mbak.” Laki-laki itu memberikan ponselku, “Saya Vino.”
Aku tersenyum, “Terimakasih ya Mas Vino. Sudah repot-repot mengembalikan HP saya.”
“Sama-sama, Mbak. Maaf saya sedang buru-buru mau ke rumah sakit. Bannya juga baru saja selesai ditambal jadi saya mau langsung pergi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam… sekali lagi terimakasih ya, Mas Vino?”
“Iya, Mbak.” Dia melambaikan tangan perpisahan, berjalan cepat mendekati mobil berwarna silver.
Kami pun segera pulang. Kali ini berjalan dengan lebih santai sambil menikmati pemandangan sekitar.
“Alhamdulillah, HPku sudah kembali.” Mendekap ponsel di dada dengan erat. Senyum sumringah menemani perjalanan kami.
Sambil berjalan pulang, kami bernonstalgia mengingat masa kecil. Di jalan inilah dulu kami berangkat dan pulang sekolah dengan berboncengan sepeda. Obrolan dan candaan yang seru membuat kami tidak menyadari sedang diikuti seseorang.
“ehem!!” Sebuah suara mengejutkan kami.
“Sejak kapan kamu mengikuti kami.” Tanyaku.
“Sejak kalian masuk gang.” Laki-laki itu tersenyum lalu ikut bergabung, berjalan beriringan.
Obrolan kami kini semakin seru, Dayat bercerita pengalaman hidupnya selama kami berpisah beberapa tahun lalu. Senyum bangga kami berikan untuknya. Ditengah tawa, tanpa sengaja aku tersandung dan dengan sigap laki-laki disebelahku itu menangkap.
“Kamu nggak apa-apa, Dif?” Tanyanya, khawatir.
“Nggak apa-apa. Keasyikan ngobrol jadi meleng jalannya. Terimakasih ya.” Aku tersenyum.
Dayat pun membalas dengan senyum kecil.
__ADS_1
~*~
Aku termenung duduk di depan televisi. Bingung mau melakukan apa. Bingung mau bicara pada siapa. Semua acara televisi bagiku tidak ada yang menarik saat ini. Air mataku sesekali menetes. Mencoba menahan diri, namun sulit. Hati ini berdebar kencang, seperti ingin pecah. Aku remas-remas telapak tangan yang kosong. Rumah ini terasa sepi dan hampa. Sepertinya aku hanya hidup sendiri. Ingin lari tapi kemana? Aku menatap keliling ruangan. Semua seperti tidak bersahabat. Mereka seperti sedang menertawakanku. Ntah sudah berapa kali aku menyeka air mata hingga bajuku basah sebagian.
“Ayo kita ke taman. Mumpung nggak hujan.” Ajak Mas Fikri. Dia sudah rapi dan siap berangkat.
Tapi rasanya aku malas sekali pergi. Aku sedang tidak bersemangat malam ini.
“Iya Dif, kata Om tamannya semakin bagus. Nanti kita foto-foto disana. Ayo berangkat.” Disa sangat bersemangat pergi ke taman.
“Kalian saja. Aku pengen nonton film, sebentar lagi mulai.” Sengaja berbohong. Aku tidak ingin mereka tahu kalau sebenarnya aku sedang galau.
“Tumben. Biasanya kamu paling semangat kalau diajak jalan-jalan.” Tanya Disa.
“Lagi malas saja.” Pura-pura serius menonton televisi. Tidak lama mereka pergi, aku langsung masuk kamar. Aku sudah tidak sanggup lagi menahan tangis. Tisu-tisu berserakan di lantai. Aku duduk di pojok kamar, bersandar dinding. Memegang dada kuat-kuat. Hati ini terasa sangat sakit sekali. Seperti ada benda tajam yang menggoresnya keras-keras. Aku benar-benar sendiri. Kamar yang luas ini terasa sempit sekali. Ingus mengalir berkali-kali.
Terdengar suara mobil masuk garasi. Om Gunawan dan Tante Lilis sepertinya sudah pulang dari kondangan. Aku tidak berani keluar menemui mereka. Bergegas membersihkan lantai dari sampah tisu dan naik ke ranjang. Menutupi tubuh dengan selimut, pura-pura tidur. Pintu kamar terbuka pelan. Samar-samar aku mendengar mereka berbisik. Pintu kembali ditutup. Aku menarik napas panjang. Sedikit lega, mereka tidak mendekat.
~*~
Pengumuman-pengumuman :
Para pembaca budiman, berhubung adzan sudah berkumandang mari kita dirikan sholat terlebih dahulu. Untuk menyegarkan mata dan pikiran. Janganlah tinggalkan sholat demi membaca novel ini, karna nanti Authornya juga ikut dosa. hehehehe....
Sebelum sholat, jangan lupa like. koment dan vote dulu ya..
Matur Thankyu... :) :) :)
__ADS_1