
Lebaran tinggal menghitung hari. Aku, Disa dan Mega semakin sibuk membuat pesanan kue kering. Untung saja Kampus sudah mulai libur. Hanya tinggal ada mahasiswa yang mengulang ujian karna nilainya kurang. Sebenarnya nilaiku juga ada yang kurang, tapi enggan untuk ujian lagi. Aku lebih memilih berjualan agar menghasilkan uang yang lebih banyak.
Sepulang tarawih Sanu telepon. Kami mengobrol cukup lama. Dia juga meminta bertemu lagi saat lebaran nanti. Katanya ingin berkunjung ke rumahku. Sebenarnya aku tidak keberatan. Tapi biasanya rumah akan sangat ramai saat lebaran. Semua keluarga besar akan datang untuk mengunjungi Simbah. disaat itu juga saudara-saudara akan mengajak jalan-jalan ke Yogya. Aku khawatir tidak akan punya waktu untuk bertemu dengannya. Lamunanku terpecahkan oleh suara Sanu yang meminta jawaban.
“Lihat keadaan besok ya. Aku belum bisa menjanjikan bisa bertemu atau tidak.” Aku menghela nafas, kecewa dengan diri sendiri.
Selesai Sanu menelepon, tiba-tiba ponsel berdering lagi. Kini giliran Mas Anto, ternyata dia sudah mencoba menghubungiku sejak tadi. Laki-laki itu bertanya kenapa aku susah dihubungi. Aku ingin bercerita tentang Sanu, tapi khawatir dia akan marah mendengarnya. Sehingga aku urungkan niat itu dan aku bilang saja bahwa Mega yang sedang menelpon tadi. Tujuan Mas Anto telepon sebenarnya ingin mengajak takbiran bersama besok malam. Namun, aku belum bisa menjawab bisa atau tidaknya. Semua tergantung pada pesanan kue nanti.
Malam takbiran yang menegangkan. Seluruh masyarakat masih bingung besok sudah lebaran atau belum. Sambil memasukkan kue ke dalam stoples, aku menunggu sidang isbat yang akan mulai beberapa menit lagi. Aku memasukkan kue dengan ekstra cepat. Khawatir bahwa lebaran akan terjadi besok dan itu artinya sekarang adalah malam takbiran. Mas Anto sudah berkali-kali sms, menanyakan jam berapa kami akan pergi. Aku bingung harus bagaimana, ingin pergi tapi masih ada beberapa pesanan yang belum selesai dan harus diantar malam ini juga. Hatiku berdebar-debar menanti keputusan sidang isbat. Keputusan sudah ditetapkan, bahwa besok hari raya Idul Fitri. Tubuhku lemas. Malam ini aku tidak bisa pergi dengan Mas Anto. Mega dan Disa akan marah besar jika aku tidak membantu. Dengan berat hati aku mengabarkan Mas Anto bahwa tidak bisa pergi.
__ADS_1
Takbir berkumandang tiada henti, suaranya terdengar dimana-mana. Sebelum subuh aku sudah bangun untuk bersih-bersih rumah hingga menjelang sholat ied. Disa membantu Ibu memasak di dapur. Sedangkan Ayah tidur di rumah Simbah, sekaligus bersih-bersih disana. Saudara-saudaraku baru akan datang setelah selesai lebaran di rumah masing-masing. Jadi untuk hari ini kami akan menerima tamu dari tetangga dekat saja. Selesai sholat ied, kami langsung menuju rumah Simbah. Para tetangga sudah hafal betul selepas sholat rumah kami sepi. Mereka tidak akan berusaha mengetuk pintu. Jika mereka melihat rumahku tertutup itu artinya kami berkumpul di rumah Simbah. Siang hari setelah tamu di rumah Simbah berkurang, keluargaku bergantian datang ke rumah tetangga yang sudah sepuh. Sudah menjadi kewajiban jika yang muda mengunjungi yang tua. Setelah seharian keliling bersilaturahim, aku merasa sangat lelah dan ngantuk. Bisa dihitung beberapa hari ini tidur tidak lebih dari tiga jam saja. Sampainya di rumah, aku langsung tidur di ruang tamu. Sambil berjaga-jaga jika ada tamu yang datang.
Beberapa hari ini rumahku sangat ramai dengan tangisan anak-anak. Begitu juga dengan rumah Simbah. beberapa sepupu saling berebut sepeda. Adek-adek kecil menangis ingin ikut kakaknya bersepeda. Hanya ada dua sepeda di rumah yang jadi rebutan untuk tiga belas anak. Belum ada seminggu mereka datang, kepalaku sudah pusing menghadapinya. Hari-hariku habis untuk menemani mereka. Simbah sudah tidak perlu aku pikirkan karna ada putra dan putrinya yang menemani. Begitu sibuknya aku, ponsel menjadi terabaikan. Puluhan kali Sanu sms, belasan kali juga dia telpon. Tetap saja aku abaikan. Lagi pula tidak hanya dia yang mendapatkan perlakuan sama dariku. Meskipun sebenarnya aku merasa sangat bersalah pada mereka. Aku berharap mereka mau mengerti keadaan ini. Sekalinya aku pegang ponsel, langsung saja direbut adik sepupuku untuk bermain game hingga batrenya habis. Saat berkumpul seperti ini, kami saling membuat kelompok. Kelompok orang tua, remaja dan anak-anak. Semua kelompok sibuk dengan kegiatan masing-masing, kecuali keluargaku. Kami justru sibuk melayani semua kelompok itu. Wajar saja kami sebagai tuan rumah harus melayani tamu, meskipun saudara sendiri.
Satu per satu saudara kembali ke perantauan. Rumah mendadak sepi. Simbah menangis selama beberapa hari. Setelah seminggu putra putrinya menjenguk, kini beliau sendirian lagi. Hanya ditemani aku, itu pun dimalam hari. Terkadang berpikir, siapa yang akan menemani Simbah jika aku dan Disa sudah menikah kelak. Kami akan ikut tinggal bersama suami, sedangkan Ayah dan Ibu pun sudah semakin tua. Itu berarti kami akan meninggalkan tiga orang yang sudah lanjut usia. Simbah sering termenung di teras, memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Beliau terlalu takut untuk ditinggal sendirian. Terkadang sampai tertidur di kursi kayu panjang yang mulai lapuk. Mendengkur, hingga tidak menyadari kehadiran cucunya.
Stop!!!!
Jangan lanjutkan membaca jika belum like, comment dan vote novel ini.
__ADS_1
Demi kebaikan bersama jaga jarak 1 centimeter sudah cukup. karna tidak ada yang lain kecuali guling sebagai teman sejati.
Semoga sobat pembaca bobok nyenyak setelah membaca novel ini.
Good Night... :) :) :)
__ADS_1