
Ayah dan Ibu akhirnya mengijinkan kami kembali ke Jakarta. Dengan alasan penelitian untuk skripsi, mereka terpaksa merelakan anak-anaknya pergi. Akhirnya alasan ini lah yang paling tepat untuk merayu orangtua. Dengan perjanjian bahwa kami harus menyelesaikan skripsi secepat mungkin. Ayah juga menelpon Om Gunawan untuk mengawasi kami selama penelitian disana. Aku segera mengabarkan Mama Sanu kapan kami akan berangkat. Sehari terasa sangat lama. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Sanu.
Sampai di Stasiun kami dijemput Dayat. Dia sudah mangkal di Stasiun sejak semalam. Dengan semangat laki-laki itu membawa barang-barang kami. Anehnya kali ini dia terlihat keren. Mungkin sopir taksi itu sengaja mengubah penampilannya untuk Disa. Aku tersenyum melirik kembaranku. Betapa senangnya dia bertemu dengan Dayat.
Beberapa jam setelah merasa cukup istirahat, kami pergi ke Rumah Sakit. Dari kejauhan aku melihat Mas Vino dan Papa Sanu duduk di depan ruangan. Hati ini berdebar-debar, khawatir terjadi sesuatu pada Sanu. Aku dan Disa berlari, ingin segera tahu apa yang terjadi. Dengan napas tersengal-sengal aku menanyakan keadaan pasien itu pada mereka. Ternyata mereka keluar karna teman-teman Sanu sedang menjenguk dan mereka merasa sesak di dalam ruangan. Aku dan Disa pun ikut menunggu di luar. Aku membawa oleh-oleh bakpia Yogya, sambil menunggu kami nikmati bersama bakpia itu. Mama Sanu yang baru saja datang langsung memeluk Disa, kemudian aku. Beliau memeluk dengan erat sekali, hingga kami sulit bernapas.
Teman-teman Sanu satu per satu keluar dan pamit pulang. Setelah semua pergi, kami masuk bersama-sama. Aku dan Disa berjalan paling belakang. Jantungku berdebar kencang. Kira-kira Sanu masih ingat aku nggak ya? Batinku.
“Kalian siapa?” Sanu menatap kami bingung. Dia seperti sedang mengingat sesuatu.
Aku dan Disa saling berpandangan. Bingung menjelaskannya. Jantungku semakin berdetak kencang. Panas dingin rasanya tubuh ini.
“Kamu ingat pertemuan kita di Stasiun nggak?” Aku memberikan isyarat pada Sanu. Menunduk malu, tidak berani menatap Sanu.
“Stasiun!!!” Sanu menatap langit-langit ruangan, berusaha mengingat sesuatu.
__ADS_1
Kami semua memperhatikannya. Berharap dia mengingat sesuatu. Sejak dia sadar, orangtuanya memang sengaja tidak menceritakan kehadiran kami. Kata dokter Sanu tidak boleh terlalu banyak berpikir. Kemungkinan ada sebagian ingatannya yang hilang. Itulah yang aku khawatirkan. Aku dan Sanu baru bertemu sekali, jadi kemungkinan sulit untuk Sanu mengingatku. Sebelum datang kesini, Disa sudah menasehati agar siap mental jika Sanu tidak mengingatku. Sanu memegang kepalanya, dia merasa pusing. Kami pun menyuruhnya untuk tidak berusaha mengingatnya lagi.
“Sanu, jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya. Yang penting sekarang kamu sehat dulu. Tenangkan dirimu Sanu.” Disa berusaha menenangkan Sanu. Air mataku menetes, tidak kuasa melihat keadaan Sanu. Mas Vino mendekat, merangkulku. Spontan aku bersandar di dadanya. Sanu seperti linglung menatap kami satu per satu. Disa menghapus air mata di pipi Sanu, dia seperti ikut merasakan betapa menderitanya laki-laki yang berbaring itu saat ini. Perlahan Disa pun menangis.
Penyesalan yang selama ini aku rasakan tidak kunjung hilang, justru semakin bertambah. Seandainya saja dulu aku tidak mengabaikan Sanu, mungkin sekarang dia tidak akan melupakan aku. Namun nasi sudah menjadi bubur. Hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah membantu mengingatnya kembali. Setiap hari aku menjenguk Sanu. Terkadang sendiri atau bersama Disa. Aku tidak ingin merepotkan saudaraku untuk menemani terus. Pastinya dia juga punya kesibukan lain terutama bersama Dayat. Selain itu aku juga ingin punya waktu hanya berdua dengan Sanu. Sesekali aku suka mengajak Sanu ke taman yang ada di dalam Rumah Sakit. Disana aku suka menceritakan bagaimana kami bisa kenal. Rasa penasaran Sanu, sikapku yang jutek, sms yang sering aku abaikan, facebook yang milik Disa, sampai pertemuan di Stasiun. Kepala Sanu sering sakit saat berusaha keras mengingatnya. Saat itu lah aku merasa bersalah karna telah memaksanya mengingat kenangan itu.
Pulang dari Rumah Sakit Mas Vino mengajakku jalan-jalan ke taman kota. Saat itu bertepatan dengan hari valentine. Puluhan pasang kekasih memenuhi setiap sisi taman. Sebenarnya aku tidak begitu tertarik dengan hari valentine. Maklum saja, aku mempunyai kenangan buruk di hari valentine. Setiap kali hari valentine tiba, selalu saja aku disakiti seseorang. Hal itu membuat aku trauma untuk merayakan valentine bersama orang yang aku sayang. Kami berjalan mengelilingi taman dan berhenti di kursi panjang dekat air mancur. Mengobrol sambil makan jagung bakar. Di sekeliling taman memang banyak pedagang kaki lima. Jadi jika pengunjung lapar atau haus tidak perlu jauh-jauh mencari warung. Cukup berjalan ke pinggir taman, maka pengunjung bisa memilih makanan yang mereka suka. Tentunya yang ada disini hanya makanan sederhana, seperti: jagung bakar, sosis bakar, tempura, bakso, mie ayam, sop buah, dan lain-lain yang bisa mengganjal perut lapar. Sudah cukup lama aku tidak makan jagung bakar, sehingga membuat aku menambah dua kali. Selesai makan jagung, Mas Vino membelikan aku jus jeruk. Kami menikmati malam ini dengan melihat konser dari band lokal. Memang kecil panggungnya, tapi bisa menghibur orang banyak.
Tidak terasa waktu semakin malam. Aku pun mengajak Mas Vino pulang. Saat itu terjadi lah hal yang tidak aku duga. Mas Vino menggandeng aku keluar dari kerumunan. Awalnya aku pikir dia melakukan itu agar tidak terpisah saat keluar. Ternyata dia tetap menggandengku hingga parkiran. Aku berusaha melepas tangannya, tapi genggamannya terlalu erat. Dia baru melepas tanganku saat akan mengambil motor. Dalam perjalanan pulang, Mas Vino memintaku berpegangan karna dia akan mengebut. Aku pun memegang jaketnya erat-erat, tapi tiba-tiba dia menarik tanganku dan melingkarkan di perutnya. Situasi itu membuat aku merasa sangat tidak nyaman dan ingin cepat sampai di rumah. Mas Vino menghentikan motor tepat di depan pagar rumah. Aku bergegas turun dan mengucapkan terimakasih, berharap Mas Vino langsung pamit pulang. Tapi dia hanya tersenyum sambil memandangku. Suasananya sangat sepi, beberapa rumah sudah terlihat gelap. Aku khawatir dia akan melakukan sesuatu.
“Ehhmmm… Dif!” Mas Vino memanggil lirih, memecah kesunyian.
Dengan canggung laki-laki yang baru saja turun dari motor itu meraih tanganku, “Mau nggak kamu jadi pacarku.” Kedua tangannya menggenggam tanganku erat. Tatapanya tajam, penuh harapan.
Mataku terbelalak, kaget. Spontan melepas genggamannya. Salah tingkah, tidak tahu harus mengatakan apa, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Ingin menatapnya tapi tidak berani.
__ADS_1
Memandang langit, berusaha mencari alasan. “Ehmmm… Mas, kayaknya sudah terlalu malam. Lebih baik kamu pulang. Nggak enak kalau ada yang lihat.”
Kepalanya tertunduk pasrah, kemudian menatapku dengan kecewa. “Ok. Aku pulang. Aku tunggu jawaban darimu secepatnya ya.” Ia menunggangi motornya kembali dan menyalakan mesin, “Aku sayang kamu, Dif.” Memandangku sambil tersenyum lalu pergi.
Aku segera masuk ke rumah. Kejadian tadi membuat aku syok. Untung tidak banyak pertanyaan yang diajukan Om Gunawan dan Tante Lilis, sehingga aku bisa langsung masuk kamar.
~*~
Sini-sini.... yang belum like, comment dan vote yuk mari yuk klik dulu. Bantu aku untuk mengembangkan karyaku ya.... Salam hangat untukmu para pembaca.
__ADS_1