Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Kenyataan Yang Menyakitkan 2


__ADS_3

Setiap kali menjenguk Sanu selalu saja ada Mas Vino. Sepertinya dia sudah hafal jadwal aku menjenguk. Aku selalu merasa was-was setiap kali dia mendekat, khawatir akan meminta jawaban. Hati ini bingung dan gelisah mau cerita pada siapa tentang masalah ini. Tidak mungkin aku cerita pada Disa, karna dia sendiri punya rahasia yang tidak diceritakan padaku. Saat ini kami seolah menjadi musuh dalam selimut. Aku tidak pernah tahu apa yang dilakukan kembaranku jika sedang tidak bersama. Kini aku merasa sendiri. Yang aku cintai Sanu, tapi kenapa yang nembak Mas Vino? Jawaban apa yang harus aku berikan padanya. Apa lebih baik aku jujur pada Mas Vino, batinku. Aku putuskan untuk berkeluh kesah kepada Dayat, mungkin bersamanya kegundahan hati ini bisa hilang. Aku hanya meminta sopir taksi itu menemani  di waktu luangnya. Aku belum berani bercerita tentang kisah cinta yang rumit ini. Bagiku, dia menemani dan menghibur hingga membuatku tertawa sudah cukup.


Aku senang karna keadaan Sanu sekarang sudah mulai membaik. Kata Dokter, jika dalam beberapa hari Sanu tidak mengeluh sakit kepala lagi maka dia bisa pulang. Disa tidak pernah bosan membaca Al-Qur’an saat menjenguk Sanu. Baginya hanya Al-Qur’an obat yang paling manjur menyembuhkan segala penyakit. Terkadang pasien dan saudaraku itu mengaji bersama, secara bergiliran. Jujur saja aku sering merasa cemburu saat melihat mereka bersama.


HP-ku bergetar saat sedang mengobrol dengan Sanu dan Disa. Terpaksa aku meninggalkan mereka keluar ruangan. Cukup lama aku menerima telpon, sehingga tidak tahu apa yang mereka bahas selama aku tidak ada. Selesai menutup telpon aku langsung masuk ke ruangan lagi. Betapa terkejutnya saat lihat mereka saling memandang dan tersenyum malu. Aku terdiam beberapa langkah dari pintu. Menunggu hal apa lagi yang akan terjadi.


“Jika aku mengajak ta’aruf apa kamu mau?” Lirih aku mendengar Sanu berbicara pada Disa, namun cukup jelas masuk ketelinga ini.


Hatiku hancur berkeping-keping. Air mata menetes tanpa ijin, tiba-tiba saja membanjiri pipi. Tidak kuasa menerima kenyataan. Ku pandang saudara kembar yang sedang duduk dengan kepala tertunduk, ada senyum mengembang disana. Pertanda ia setuju.


Luka yang baru saja kering tergores kembali. Kali ini yang menyakitiku adalah saudara sendiri. Dan hal yang membuat lebih sakit adalah aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghalanginya.


“Difa!!!” Gadis itu melihatku, kaget. Aku cepat-cepat menghapus air mata dan menghampiri mereka sambil tersenyum.


“Wuah… selamat ya saudaraku…” Memberi pelukan selamat.


“Difa…” Disa melepaskan pelukan, menatapku dengan rasa bersalah dan gelisah.


Aku tersenyum. Menggenggam kedua tangannya. “Aku tahu kok, selama ini kamu punya perasaan sama Sanu. Jadi… tidak ada alasan untuk menolaknya.” Aku menatap Sanu, “Aku… sangat-sangat merestui hubungan kalian.” Bibir ini tersenyum, meski hati menangis.


Sanu tersenyum lebar dan mengucapkan terimakasih. Tapi Disa malah menangis memelukku. Sanu bingung atas sikapnya.


“Tenang aja. Disa menangis karna terlalu bahagia kamu membalas cintanya.” Ujarku, sengaja berbohong. Tidak mungkin aku bilang bahwa dia menangis karna merasa bersalah. Aku belai kerudungnya, berpura-pura bahagia.


Mas Vino datang dengan membawa beberapa makanan. Suasana menjadi hening sejenak. Disa segera melepaskan pelukan dan menghapus air matanya. Aku berjalan menghampiri laki-laki yang masih berdiri dengan membawa kantong plastik berisi makanan. “Oh ya, aku juga mau memberi tahu kalian sesuatu.” Tersenyum, menyelipkan telapak tangan di lengan kanan Mas Vino, “Aku dan Mas Vino sudah jadian loh…”

__ADS_1


Spontan Mas Vino menatapku. Aku mengangguk membalas tatapannya.


“Difa…” Disa menatap tajam.


Aku tersenyum, “Maaf, Dis. Kamu kaget ya. Aku memang sengaja menunggu moment yang tepat untuk mengatakan padamu. Iya kan Mas?” Tersenyum, menatap laki-laki yang terpaksa aku terima cintanya.


“Iya benar. Kami memang sudah jadian. Maaf baru kasih tahu kalian sekarang.” Kini ia menggenggam tanganku erat.


Tidak tahan berada diruangan ini, aku pun mengajak Mas Vino keluar. Pria yang kini menjadi kekasihku tersenyum lebar ketika aku menarik tangannya pergi. Ya, aku harus berpura-pura bahagia dihadapan mereka. Meskipun Disa tahu bahwa hatiku sangat terluka. Sebelum pergi aku menatap kembaranku dengan penuh rasa benci. Aku ingin sekali menamparnya, menjambak rambutnya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Apa yang bisa aku perbuat ketika Sanu pun ternyata lebih menyukai Disa dari pada aku. Hatiku terasa sangat panas, jantung pun berdetak kencang menahan amarah.


“Mas, kamu mau nggak belikan aku ice cream.” Pintaku. Mas Vino mengangguk. Kami berjalan menuju kantin. Mas Vino menggandengku erat. Aku tidak berusaha melepasnya. Saat ini aku merasa seperti boneka yang rela diperlakukan apa saja olehnya. Aku tak ada tenaga untuk menolaknya. Dengan bersandar di bahu Mas Vino, aku mulai membuka ice cream rasa coklat kacang. Kami makan ice cream bersama di kantin sambil duduk di kursi kayu panjang yang menghadap ke taman.


“Kamu tidak bohong kan?” Tanya Mas Vino lirih. Tangan kirinya merangkul pundakku.


“Tidak bohong kalau kita jadian.”


“Nggak.” Diam sejenak, “Aku mau kok jadi pacarmu.”


Laki-laki itu semakin erat merangkul. Kami saling diam menikmati ice cream. Beberapa kali aku minta dibelikan lagi. Sengaja, aku ingin mendinginkan hati dengan es itu. Ketika mulai tenang, aku mengajak Mas Vino kembali ke ruang pasien. Disana sudah ada Orangtua Sanu. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka. Tidak diragukan lagi, mereka sudah tahu kabar itu. Mama Sanu langsung menghampiri dan memelukku ketika kami datang.


“Bahagia sekali Mama hari ini. Mendengar kabar kalian akan menjadi menantu Mama.” Beliau menangis terharu.


“Tapi tante. Yang akan menjadi menantu Tante hanya Disa.”


“Owh… tidak!!! Kamu juga, sayang…” Mama Sanu membelai pipiku.

__ADS_1


“Saya…!!!” Menatap, heran.


“Ya. Kamu. Kata Sanu kalian sudah jadian.” Mama Sanu menatap Mas Vino sejenak.


Pria disebelahku mengangguk, tersenyum. “Ya, kami memang sudah jadian, Tan.”


“Vino ini sudah seperti anak Mama. Jadi kalau kamu menikah dengan Vino, sama saja kamu menantu Mama…” Mama Sanu tersenyum lebar.


Menikah!!! Jeritku, dalam hati. Apa aku nggak salah dengar!!! Aku mau jadi pacarnya aja karna terpaksa. Masih jauh dari bayanganku untuk menikah dengan dia. Bahkan aku berharap semua ini hanya mimpi.


~*~


 


Jangan nagis ya kalau aku nggak upload cerita selanjutnya. Kamu gitu sihhh.... nggak mau bantu aku dengan like, comment dan vote karyaku. Jadi aku sedih deh dan mengurungkan niat untuk kembali membuat karya baru.


Ah lebay.... segitunya banget marahnya. Tenanglah kawan, aku selalu semangat kok membaut kisah-kisah indah sepanjang kenangan yang ntah akan berhenti dimana.


Makanya like, coment dan vote terus karyaku... ok ok ok!


Matur Thankyu gaeess...


 


 

__ADS_1


__ADS_2