Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Teman Lama 2


__ADS_3

Hujan deras mengguyur Jakarta. Aku duduk menikmati tampias di teras. Disa pernah bilang kalau hujan itu adalah rahmat Allah yang datang kepada umatnya. Katanya juga kalau kita berdoa disaat hujan maka doanya akan dikabulkan. Diam-diam aku pun melakukannya. Aku pejamkan mata dan berdoa di dalam hati, berharap bisa bertemu Sanu suatu saat nanti.


Ketika buka mata, Disa sudah berdiri didepanku. “Kamu mau tidur atau hujan-hujanan?”


“Dua-duanya lah. Kata kamu kan hujan itu rahmat dari Allah. Kali saja dengan terkena tampiasnya, aku juga terkena rahmat-Nya. Jadi aku nikmati saja hujan ini.” Aku tersenyum, memejamkan mata lagi sambil bersedekap. Disa duduk di sebelahku, ikut menikmati hujan sambil membaca majalah. “Dis, mungkin nggak ya aku bisa ketemu Sanu lagi.” Mata ini masih terpejam, mengingat pertemuan dengan Sanu beberapa bulan lalu.


“Kamu masih memikirkannya?” Disa membolak balik halaman majalah. Aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. “Kalau berjodoh, pasti akan ketemu kok. Tenang saja.” Disa tersenyum kecil, melirikku.


“Jodoh!!!” Aku membuka mata. Menoleh, menatap Disa. “Apa maksudnya?”


“Ya jodoh untuk ketemu lagi? Kata jodoh kan tidak hanya mengandung satu arti.”


“Ternyata kalian disini? Ayo makan siang dulu. Nanti kalau hujannya sudah berhenti kita jalan-jalan keliling komplek. Kalian pasti kangen kan dengan masa lalu?” Tiba-tiba saja seorang pria sudah berdiri di bingkai pintu, dia adalah anak tunggal Om Gunawan.


Hujan reda ketika menjelang maghrib. Rencana kami untuk keliling komplek hari ini gagal. Waktunya tidak akan cukup untuk keliling komplek yang luas ini. Hari pertama datang hanya tinggal di rumah seharian sambil membuka oleh-oleh yang sengaja dibawakan untuk keluarga ini. Hujan kembali mengguyur selepas adzan isya’. Kami menghabiskan waktu untuk bercerita dan bersenda gurau. Teman-teman lamaku menjadi teman-teman baru untuk anaknya Om Gunawan. Kami pun saling berbagi pengalaman, menceritakan mereka yang sudah lama kami tinggalkan. Aku dan Disa terkejut saat sepupuku, Mas Fikri bercerita tentang Ziul, teman bermainku dulu. Kami sangat tertarik mendengar ceritanya hingga selesai.


Ziul adalah sahabat kecilku. Tiada hari tanpa main bersama dengannya. Dulu pernah tangan kami terbakar saat bermain api. Ibu Ziul lah yang mengobati luka kami. Beliau juga menyuruh kami minum obat penghilang rasa sakit. Serempak kami memuntahkannya. Obatnya sangat pahit untuk diminum anak usia 6 tahun. Sekarang semua itu hanyalah kenangan yang tidak akan aku lupakan. Bekas luka bakar itu masih ada hingga kini. Jadi bagaimana aku bisa melupakannya? Sayangnya aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Aku tidak menyangka sekarang dia menjadi buronan polisi. Ayahnya dipenjara karna menjadi tersangka bandar narkoba. Ibunya meninggal, jatuh dari loteng saat berusaha menyembunyikan narkoba. Ziul dan kedua kakaknya pun kabur ntah kemana. Hingga kini mereka masih buronan polisi. Sungguh keluarga yang memprihatinkan. Para tetangga pun tidak menyangka, Ibu Ziul yang dikenal sebagai guru ngaji dan kedua kakaknya yang terlihat sangat alim ternyata menjadi bandar narkoba. Siapa yang menyangka kebaikan mereka selama ini hanyalah sebagai kedok belaka.


~*~


Mas Fikri menepati janjinya. Dia mengajak kami berkeliling komplek setelah pulang kerja. Meskipun lelah, laki-laki yang masih pakai jaket hijau itu tetap semangat menceritakan perubahan yang terjadi selama beberapa tahun ini. Rumah-rumah banyak yang direnovasi, jalanan sudah tidak lagi tanah. Mas Fikri juga mengingatkan aku dan Disa pada teman-teman kami. Dengan malu-malu kami saling bertegur sapa. Wajar saja kami saling lupa, beberapa tahun tidak bertemu. Wajah dan penampilan kami pun berubah. Setelah cukup lama kami mengakrabkan diri, Mas Fikri kembali mengajak aku dan Disa berkeliling. Aku terpana melihat pohon jambu air. Buahnya sangat lebat. Panas-panas begini, sepertinya sangat nikmat makan jambu air. Apalagi jika dibuat rujak. Aku menarik-narik baju Disa, menunjuk-nunjuk pohon jambu itu. Mas Fikri melirikku, tersenyum. “Jambunya merah-merah ya. Bagaimana kalau kita makan jambu dulu.” Dengan semangat aku mengangguk. Mas Fikri mengetuk pintu rumah pemilik pohon jambu. Tidak lama kemudian seorang laki-laki keluar. dia mengijinkan kami memetik jambunya. ”Kamu ingat nggak dengan mereka berdua?” Tanya Mas Fikri menunjuk aku dan Disa.


Laki-laki itu tersenyum, “Kami sudah ketemu di Stasiun kemaren. Ya kan, Dif?” dia menoleh kearahku. “Sebentar ya, aku ambilkan plastik. Kalian petik saja dulu.” Dia pun masuk ke dalam rumah.


Mas Fikri mulai memanjat pohon. Aku dan Disa memetik buah yang pendek. “Kamu nggak ikut memanjat, Dif.” Terdengar suara dari belakang.


Aku menoleh, tersenyum. “Nggak lah, yang pendek saja banyak kok.” Melanjutkan memetik. Dia menyodorkan sebuah kantong plastik besar. Aku masukkan buah yang sudah dipetik ke dalam plastik itu. ”Maaf ya, aku nggak tahu kalau sopir taksi itu kamu. Aku benar-benar lupa.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Kalau Pak Gun nggak mengingatkan, aku juga lupa sama kamu.” Dayat tersenyum menatapku. “Satu hal yang membuat aku ingat sama kamu.”


“Ehm… ehm… ehm… jambu ini mau ditaruh mana ya? Kok aku nggak dapat kantong plastik. Sudah kebanyakan nih.” Sindir Disa. Dia sengaja memotong pembicaraan kami yang mulai serius.


Dayat tertawa, mendekati Disa. “Sory Dis, jangan marah dong? Nih. Masukin kesini.” Dayat menyodorkan kantong plastik yang sama. “Yang banyak petiknya, sekalian dibawa pulang.” Dayat membantu kami memetik.


“Kamu nggak butuh kantong plastik Mas?” Aku mendongak, berteriak pada laki-laki yang sedang asyik makan jambu.


“Kalau dikasih ya diterima… kalau nggak ya makan disini saja.” Ntah sudah berapa banyak buah yang dia habiskan. Aku pandang Disa. Sekarang giliran Disa dan Dayat yang asyik bercanda. Ntah mereka sedang membahas apa hingga tertawa terbahak-bahak.


“Sudah ya. Segini saja. Sudah penuh nih. Besok-besok lagi saja kalau sudah habis.” Disa menunjukkan kantong plastik yang sudah penuh dengan jambu. Mas Fikri pun turun dari pohon. Semua kantong celananya juga sudah penuh jambu. Kami mengucapkan terima kasih dan pamit pergi.


Rasanya tidak mungkin kami melanjutkan jalan-jalan dengan membawa jambu sebanyak ini. Nanti dikiranya kami mau jualan jambu. Aku mengajak Mas Fikri membuat rujak di rumah. Disa setuju dengan ideku. Kami langsung menuju dapur ketika sampai di rumah. Aku mencuci jambu sedangkan Disa membuat sambal gulanya. “Wuah kayaknya kurang sip kalau cuma jambu. Gimana kalau ditambah buah yang lain. Aku beli dulu di warung.” Tanpa menunggu jawaban Mas Fikri pergi meninggalkan kami.


“Banyak sekali jambunya. Dapat dari mana?” Tanya Tante Lilis yang baru saja keluar kamar.


Di teras kami makan rujak bersama. Semua kami bawa keluar, termasuk air minum. Persiapan jika nanti kepedasan. Sudah lama sekali aku tidak menikmati makan rujak seperti ini. Sangat menyenangkan makan rujak bersama-sama. “Enaknya yang lagi pada ngrujak?” Dayat tiba-tiba saja berdiri di depan rumah.


“Eh juragan jambu. Sini ikutan yuk?” Ajakku.


“Ehm… kapan-kapan saja deh. Sekarang aku mau kerja. Takut telat. Duluan ya.” Dayat pergi meneruskan perjalanannya.


“Kok jalan kaki kerjanya. Kenapa taksinya nggak dibawa?” tanyaku pelan.


“Ye… kan taksinya gantian dengan temannya. Dia dijemput di ujung gang. Terus nganterin temannya pulang. Baru deh kerja.” Jelas Mas Fikri.


“Owh… emang semua sopir taksi gitu ya.” Tanya Disa.

__ADS_1


“Nggak juga sih. Itu karna dia nggak punya kendaraan saja. Motornya kan di pakai adeknya kuliah.”


“La Dayat kok nggak kuliah?” tanyaku.


“Dia berhenti kuliah.” Jawab Tante Lilis datar.


“Kenapa?”


“Waktu awal-awal masuk kuliah, Ayahnya meninggal kena serangan jantung. Saat itu juga Dayat baru tahu kalau orangtuanya punya hutang banyak. Berkali-kali orang bank datang menagih. Perabot rumah tangga sampai habis dijual. Tapi hutangnya belum juga lunas. Akhirnya dia putuskan berhenti kuliah dan jadi tulang punggung keluarga sekarang.” Jelas Tante Lilis.


“Kalau buat hidup saja susah, kenapa adiknya kuliah?”


“Itu pesan terakhir Ayahnya sebelum meninggal. Ayahnya ingin semua anaknya kuliah. Tadinya Dayat kuliah sambil kerja. Mungkin dia pikir dari pada uangnya buat bayar kuliah, lebih baik buat melunasi hutang. Adiknya juga kuliah sambil kerja. Belum lagi adiknya yang masih SMA butuh biaya juga. Ibunya sekarang juga sakit-sakitan. Pokoknya susah banget lah hidupnya sekarang.”


Aku dan Disa hanya mengangguk-angguk memahami cerita Tante Lilis, sambil menikmati rujak.


Perutku terasa kenyang, meski mulut ini belum mau berhenti makan. Sambalnya juga sudah habis. Kami memutuskan berhenti dan menyimpan sisa rujaknya di kulkas.


\~*\~*\~


Siang-siang makan rujak yang pedes bingit emang bikin seger, ngantuk jadi ilang dan yuk yak yukkkk.... kembali berkarya lagi untuk melanjutkan kisah cinta yang tertunda.


Ngiming-ngiming... teman-teman yang belum like, comment dan vote. hayukkk... dipencet-pencet dulu itu tombolnya. Nanti baru kita lanjut ke episode selanjutnya...


Matur Thankyu... :) :) :)


 

__ADS_1


 


__ADS_2