
Setibanya di rumah aku langsung makan. Rasa lapar sudah tidak bisa ditahan lagi. Di rumah juga masih serius menonton perkembangan Gunung Kelud. Situasi inilah yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Aku takut terjadi sesuatu, sedangkan Simbah sendirian. Kami akan kesulitan menolong atau mungkin lupa karna terlalu sibuk memikirkan diri sendiri.
Sambil makan aku ikut bergabung menonton berita. Sesekali air mata menetes, tak kuasa melihat bencana yang terjadi. Ingin rasanya membantu mereka yang sedang terkena musibah.
Kutulis peristiwa hari ini di akun facebook.
*Facebook*
seperti kota mati. semua kelabu !!!
pohon tumbang tak kuat menahan abu
tak ada kendaraan lewat, tak ada penjual lewat.
semua memilih tetap berdiam di rumah masing-masing.
sekolah pun di liburkan, kerja juga ikut libur.
semua terasa hampa.
Begitu pula dengan diriku yang tak bisa kemana-mana.
Setiap peristiwa yang terjadi selalu menjadi bahan statusku. Sekalipun aku tidak pernah menulis status asal-asalan. Semua status yang ditulis harus ada yang menyukainya, meskipun tidak semua berkomentar. Dalam sekejab lebih dari sepuluh orang yang like. Ini lah yang membuat aku selalu bersemangat update status di media sosial.
__ADS_1
Beberapa teman mengajak untuk menjadi relawan Gunung Kelud. Dengar kabar sedang dibutuhkan banyak relawan. Aku sudah bertekad untuk berangkat kesana, ikut berpartisipasi dengan relawan lain dari Yogyakarta. Sayangnya orangtuaku tidak mengijinkan. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada anak gadisnya di tempat bencana itu. Dengan terpaksa aku membatalkan tekad. Aku tidak bisa pergi tanpa ridho orangtua. Wajar jika khawatir, di rumah yang sangat jauh dari Gunung Kelud saja abunya sederas ini apalagi di lokasi bencana?
“Jika memang sudah berniat, maka segala rintangan akan dihadapi. Meskipun tidak punya uang atau tidak dapat ijin dari orangtua. Toh kita tidak pergi sendirian. Kita pergi dengan rombongan dari relawan Yogyakarta. Kita tidak akan kesasar apalagi hilang. Kalau kamu mau ikut, ada temanku yang juga mau ikut. Dia seorang akhwat, jadi dia baru mau pergi kalau ada teman perempuannya juga. Aku rasa kamu akan segera akrab dengannya. Makanya aku ajak kamu. Ada Fajar juga yang sudah bergabung jadi relawan disana.” Bujuk Mas Setiawan di telpon. Dia ketua komunitas riset yang sangat dekat denganku. Sebenarnya aku setuju dengan pendapatnya, tapi hatiku masih ragu-ragu untuk ikut.
“Kenapa harus aku yang ikut? Kan masih banyak anggota yang lain?”
“Anggota yang lain juga aku ajak. Tapi mereka tidak bisa karna kesibukan masing-masing. Kalau kamu kan biasanya sesibuk apapun selalu bisa ikut disegala kegiatan. Aku ingin setidaknya ada satu orang yang ikut dari komunitas kita, sekalian memberikan sumbangan kepada mereka.”
“Nah kan sudah ada satu orang. Fajar. Berarti sudah cukup kan?”
“Fajar itu sudah ikut yang rombongan tadi pagi. Terus aku dikabarin sama ketua rombongannya kalau masih kurang personil banyak. Kira-kira lima belas orang lagi.”
“Sebenarnya pengen banget Mas? Tapi aku benar-benar nggak boleh ikut sama ortu, ke Jogja saja aku nggak boleh. Maklum lah anak mami.”
“Huh dasar. Kamu itu sebenarnya anak yang mandiri. Tapi orangtuamu saja yang selalu memanjakan.”
“Yois kalau begitu. Dipikir-pikir lagi. Kalau berubah pikiran kabarin aku ya? Semoga saja ada jalan keluar. teman-teman yang lain juga ada rencana mau minta sumbangan di jalanan besok minggu. Kalau sempat dan diijinin, datang saja. Kumpulnya di basecamp.”
“Iya Mas, besok aku kabarin lagi. Terimakasih ya informasinya.” Aku mengakhiri telpon.
Ibu masih menyeruput kopi sambil menonton berita siang. Aku sengaja mengeraskan suara saat telpon agar Ayah dan Ibu mendengar. Berharap mendapat ijin.
“Tidak semua kegiatan sosial kamu harus ikut. Kediri itu jauh dan keadaannya masih bahaya. Lebih baik kamu di rumah jaga Simbah. Itu juga mendapat pahala.” Ayah sudah menjawab sebelum aku bertanya. Mungkin beliau tahu maksud aku mengeraskan suara tadi.
__ADS_1
“Tapi Yah, perginya kan rombongan. Jadi kalau terjadi sesuatu ada yang menolong.” Memasang wajah memohon.
“Ayah benar. Tempatnya kan jauh. Lain kali saja kalau dekat. Lagian kamu sudah terlalu banyak ikut kegiatan sosial. Apa nggak capek?” Sambung Ibu.
“Itu kan memang hobiku Bu? Lagian itu bukan hal yang negatif kan?”
“Sudahlah nurut saja. Itu juga kan demi kebaikan kamu. Menolong itu tidak harus datang langsung kesana. Kamu bisa membantu jadi relawan yang minta sumbangan buat korban bencana. Adakan saja di Kampus, judulnya ‘Sumbangan buat korban erupsi Gunung Kelud’ menerima pakaian bekas, uang dan sumbangan lainnya. Kamu kan pintar dalam hal itu. Nanti aku juga bantuin deh? Kalau nggak gabung saja sama teman-teman komunitasmu itu buat minta sumbangan.” Saran Disa, saudara kembarku. Kami kembar identik dan kuliah di Kampus yang sama tetapi berbeda jurusan. Dia lebih feminim dan berjilbab. Jadi orang tidak akan sulit membedakan kami. Kecuali jika aku juga berjilbab.
Setelah dipikir-pikir saran Disa boleh juga. Tidak ada salahnya mencoba. Aku sms beberapa pengurus Ormas. Mereka menyarankan agar buka rapat di group facebook. Ternyata banyak yang merespon dan kami saling berbagi ide. Dari beberapa pendapat, kami sepakat membuat acara sederhana dengan tema ‘Valentine Berbagi’. Tema ini diambil karna besok bertepatan dengan hari valentine. Aku juga minta bantuan salah satu Dosen untuk minta ijin meminjam aula Kampus. Seharian ini aku sibuk merancang kegiatan dan membentuk panitia. Acara yang diadakan mendadak membuatku sangat pusing. Dalam sekejab harus memikirkan banyak rencana. Waktu yang tidak memungkinkan untuk bertemu teman-teman memaksa harus siap menerima sms dan telpon setiap waktu.
~*~
Malam hari seperti biasa aku tidur di rumah Simbah. Menemani menonton televisi dan makan. Hingga saatnya tidur. Terkadang membaca buku atau internetan untuk menghilangkan jenuh. Jika sedang membaca Al-Qur’an, Simbah biasanya mendekat ikut mendengarkan. Sesekali beliau minta dibacakan surah pendek dan ikut membacanya lirih. Simbah bercerita sudah lupa beberapa ayat, jadi ketika sholat sering salah baca. Wanita pandai ini selalu menemaniku membaca buku hingga tertidur di kursi panjang ruang tamu. Dulu beliau pun gemar membaca, segala macam buku. Saat di sekolah Belanda termasuk murid teladan. Terkadang aku suka melihat buku-bukunya yang masih tersisa, karna yang lainnya sudah lapuk dimakan usia.
Disa, bukannya tidak mau menemani orangtua yang sudah tak berdaya itu. Kami berbagi tugas. Aku menemani di malam hari, Ayah menemani di siang hari, Ibu memasak, sedangkan Disa bertugas memandikan dan bersih-bersih rumah.
Saat ke dapur, aku terhentak kaget. Perlengkapan makan hilang semua. Apakah ada maling? Aku mencari di lemari dapur tidak pula ketemu. Terpaksa aku mengambil gelas dan piring baru yang sengaja disimpan untuk tamu. Jika memang ada maling, kenapa yang diambil hanya perlengkapan makan? pikirku sambil membuka pintu kulkas, ingin mengambil minuman dingin. Sekali lagi aku terkejut. Apa lagi yang dilakukan Simbah? geleng kepala. Menatap tajam menembus dinding ruang keluarga, tempat Simbah menonton televisi. Dengan cepat aku berpaling. Apa yang dilakukan Simbah aku sudah tidak peduli, percuma menasehatinya besok juga sudah lupa lagi. Benar kata orang, kita memang harus ekstra sabar menghadapi lansia. Semakin lanjut usianya, maka semakin pikun. Hal ini memang sudah tertera dalam Al-Qur’an bahwa penyakit pikun itu tidak ada obatnya dan akan terjadi pada semua orang yang mulai lanjut usia.
Simbah berjalan mendekat, “Piring karo gelas aku simpen neng kulkas ben rak keno awu. Sendok-sendok yo neng kulkas. (Piring dan gelas aku taruh di kulkas biar nggak kena abu. Sendok-sendok juga di kulkas.)” Aku hanya mengiyakan dan kembali menonton televisi. Tidak jadi makan, padahal nasi sudah dipiring. Mau bagaimana lagi? Belum sempat meraihnya, Orangtua yang pikun itu sudah melahap nasi beserta sayur dan lauk. Selayaknya anak kecil kelaparan, makan sambil berdiri di dekat meja makan. Sangat lahap dan cepat.
\~*\~*\~
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kawan...
__ADS_1
Yuk mari... like, koment dan vote ya sobat pembaca semua...
Matur Thankyu... :) :) :)