
Tidak terasa sebentar lagi Ramadhan datang. Mega mengajak aku dan Disa membuat bisnis kecil-kecilan. Kami sepakat membuat kue kering dan beberapa menu buka puasa lain yang akan dijual di depan Kampus. Modal kami dapatkan dengan iuran. Mega sangat pandai membuat kue, dia mewarisi sifat Mamanya yang suka memasak. Disa juga sangat telaten dalam segala hal. Dengan penuh kesabaran Disa mampu mencetak dan menghias kue semenarik mungkin. Aku tidak mau kalah dengan mereka. Meskipun tidak memiliki bakat memasak, tapi aku punya keahlian lain yaitu marketing. Aku mempunyai banyak relasi yang bisa dimanfaatkan sebagai pelanggan setia. Disaat Mega dan Disa sibuk membuat kue, aku sibuk membuat brosur menu dan harga makanan. Kami juga bekerja sama dengan Ibu membuka catering untuk anak kost. Selama bulan Ramdhan Ibu hanya buka warung saat sahur dan menjelang buka puasa. Rumah Mega menjadi tempat produksi selama berjualan. Selain peralatan masak yang lengkap, rumahnya juga dekat dengan Kampus.
Saat tidak ada kuliah, aku menyempatkan diri membagi brosur ke teman-teman kampus dan komunitas. Beberapa dari mereka mulai tawar menawar harga dan memesan untuk persiapan lebaran. Puasa hari pertama Disa sudah berada di depan Kampus sejak pukul 15.00. Dua buah meja panjang terbentang, di atasnya sudah ada beberapa menu berbuka. Dengan telaten kembaranku menata makanan sesuai jenisnya. Aku berkali-kali datang pergi membawa makanan dari rumah Mega. Sedangkan Mega sendiri masih sibuk membungkus kolak dan menggoreng. Baru hari pertama berjualan, tubuh kami terasa pegal-pegal. Padahal belum ada satu pun pembeli yang datang. Sambil menunggu pembeli, aku dan Disa saling pijat-memijat. Satu per satu Mahasiswa yang baru selesai kuliah datang melihat-lihat. Ada yang langsung membeli dan ada juga yang hanya sekedar bertanya harga. Mega datang membawa makanan terakhir. Dengan napas tersengal-sengal dia menaruh makanan ke atas meja. Keringat mengalir deras di wajah. Entah seberapa kuat dia mengayuh sepeda jengki tuanya itu. Aku tersenyum bangga melihat perjuangan kami hari ini.
Hari pertama berakhir memuaskan, makanan yang dijual hampir semuanya habis. Selesai merapikan lapak, kami menghituang penghasilan di rumah Mega sambil berbuka puasa. Keuntungan yang cukup besar membuat rasa lelah kami sedikit terobati. Pekerjaan hari ini selesai. Tapi sepertiga malam nanti kami harus bekerja lagi mempersiapkan menu catering untuk anak kost. Kali ini, aku dan Disa yang mengerjakannya. Sepertinya tidak terlalu berat, karna hanya menyiapkan dan mengantar makanan ke kost pembeli. Ibu dan kedua karyawannya sudah siap begadang untuk memasak menu sahur.
~*~
Selesai sholat tarawih, aku langsung pulang ke rumah Simbah. Dengan setia wanita yang hampir 78 tahun itu menunggu di teras hingga cucunya datang. Sebelumnya aku sudah ijin kepada Simbah untuk datang terlambat setiap harinya. Selain tarawih, aku juga harus berjualan. Sehingga waktu untuk bersama Simbah semakin berkurang. Aku menyempatkan waktu menemani menonton televisi, hingga beliau tertidur di kursi. Meskipun sangat lelah, aku tidak ingin mengabaikannya. Beliau sudah sendirian sepanjang hari, aku tidak ingin wanita yang semakin renta ini tetap merasa kesepian meskipun sudah ada teman disampingnya. Simbah bertanya tentang kegiatan berdagangku hari ini. Aku pun bercerita berbagai hal yang telah terjadi. Saat sedang asyik bercerita, aku mendengar suara dengkuran. Melirik, wanita lansia ini ternyata sudah terlelap. Tepuk jidat. Busyett!!! Ternyata gue cuma jadi pendongeng sebelum tidur. Aku membangunkannya dan menuntun ke kamar. Tugas hari ini usai. Waktunya bermimpi indah. Pasang tiga alarm dalam waktu yang berdekatan di HP. Jam dua biasanya Nenek tersayang sudah bangun untuk sholat tahajut. Tapi aku khawatir beliau akan lupa membangunkan atau aku yang susah dibangunkan. Rasa lelah membuat aku terlelap tidur dengan cepat.
Telpon berdering berkali-kali. Saat mengangkatnya sudah berhenti. Aku lihat ada tujuh panggilan tak terjawab dari Disa. Terbangun, bingung. Disa telpon lagi, aku langsung menjawabnya.
“Ada apa sih, Dis? Tengah malam udah telpon?” Tanyaku sambil kembali berbaring dan menarik selimut.
“Apa? Tengah malam? Lihat tuh jam. Kamu lupa janjimu?” Dengan malas aku lihat jam dinding berwarna hijau, ternyata sudah pukul 03.10. Hah!!! Aku terlambat bangun!!! Reflek mematikan telpon dan bergegas cuci muka, lalu bersiap pergi.
“Kok wis tangi? (Kok sudah bangun?)” Simbah keluar dari kamar saat aku membuka pintu.
“Nggih Mbah.(Iya Mbah.) kan mau jualan.”
“Gek bengi warunge kok wis buka. (Masih malam kok warungnya sudah buka.)”
“Ini kan bulan puasa Mbah. Jadi jualannya waktu sahur.” Aku mencoba sabar menjawab pertanyaan Simbah, meskipun sebenarnya aku harus segera pergi.
“Owh yo deng. Aku lali nek iki sasi poso. (Owh iya. Aku lupa kalau sekarang bulan puasa.)”
“Iya, saya ke warung dulu ya Mbah. Keburu imsak.” Aku segera memanaskan motor.
Seperti biasa, Simbah mengantar ke teras dan menunggu hingga aku pergi. Disa sudah berada di depan rumah bersama Ayah saat aku datang.
“Lama banget!!! Aku tuh takut nungguin di luar. Janjinya mau berangkat jam dua. Molor sejam lebih! Niat dagang gak sih!” Dengan cepat gadis yang sedang marah-marah itu duduk dibelakangku.
“Emangnya kamu saja yang takut. Aku juga takut keluar malam-malam begini.” Kami segera pamit, meninggalkan Ayah sendirian.
Baru saja parkir motor, Ibu sudah menghadang kami di depan pintu sambil marah-marah karna datang terlambat. Kami abaikan ceramah Ibu dan langsung masuk ke dalam. Ibu sudah mempersiapkan pesanan yang harus diantar. Kami bergegas pergi membawa semua bungkusan. Ditengah perjalanan tiba-tiba saja aku ingat sesuatu. Aku putar balik, kembali ke warung.
__ADS_1
“Ada apa Dif. Kok balik?” Tanya Disa heran.
“Kamu tahu nggak itu pesanan buat siapa saja? Jangan sampai kita salah antar.” Sedikit berteriak.
“Owh iya lupa. Ya sudah cepetan balik.”
Aku mengebut dengan kecepatan hampir 100km/jam. Tiba-tiba Disa meminta berhenti. Aku mengerem perlahan-lahan.
“Kenapa Dis?” sedikit menoleh.
“Ini didalam plastik sudah ada tulisannya. Kita langsung antar saja. Putar balik-putar balik cepat!!!” Disa menepuk-nepuk punggungku.
Tanpa berpikir panjang aku putar balik lagi. Sesuai instruksi Disa, kami melaju ke tempat tujuan. Untung saja Disa teliti, jadi tidak perlu kembali ke warung dan membuat pelanggan kecewa karna datang terlambat. Aku telpon seseorang ketika sudah sampai di depan kost. Tidak lama kemudian orang itu keluar mengambil pesanan.
“Kok lama banget sih, Mbak! Udah keburu imsak nih. Saya udah nungguin dari tadi.” Tanya pelanggan berpakaian daster itu sambil membayar.
“Maaf ya, Mbak? Banyak pesanan yang harus kami antar. Tadi juga ada pelanggan yang lama keluarnya. Jadi kami terlambat nganter punya Mbak.” Jawabku, membuat alasan palsu. Di tempat lain pun kami memberi alasan yang sama. Namun, ada beberapa pembeli yang tidak terima alasan tersebut. Berusaha pasrah mendapat cacian mereka, karna itu memang kesalahan kami. Hati mulai lega ketika semua pesanan sudah diantar. Dalam perjalanan pulang, aku baru sadar bahwa jalanan sepi dan menyeramkan. Disa memelukku sangat erat sejak tadi. Aku beranikan diri melihat sekitar. Sesekali merinding ketika angin berhembus.
“Dis, coba deh lihat di depan sana sepertinya ada sesuatu. Apa ya?”
“Gantianlah kamu yang didepan. Aku takut nih?”
“Nggak!!! Kamu saja. Kamu kan biasa pergi malam dan pernah lihat mayat juga kan?”
“Itu kan malamnya nggak sampai jam sepuluh Dis. Ini kan sudah lebih dari tengah malam. Beda lah suasananya?”
“Ya sudah lah. Ngebut saja. Biar cepat sampai. Kita juga kan belum sahur?”
“Oh iya. Sahur???” Aku melihat jam tangan. ”Masih keburu kok!” Kembali ngebut.
Tiba di warung kami langsung masuk. Ibu sudah menyiapkan dua piring nasi dan telur bakar diatas meja. Kami bergegas duduk dan makan. Belum selesai suapan kedua, aku mendengar suara imsak.
“Yah!!! Ibu??? Sudah imsak?” Serempak kami menoleh kearah wanita yang sedang memberikan uang kembalian pada pembeli.
Ibu dan dua karyawannya tertawa.
__ADS_1
“Iya sudah nggak apa-apa. Dihabiskan saja cepetan. Mumpung belum subuh.” Ibu melayani pembeli yang hendak membayar.
“Imsak kan ibarat lampu kuning yang artinya hati-hati sebentar lagi subuh. Cepat habiskan nasimu. Biar nggak mubazir.” Disa masih terus melahap nasi.
Kami berhenti makan ketika adzan subuh terdengar. Masih ada sisa nasi di piring. Dengan rasa kecewa, membawa piring dan gelas ke dapur. Ibu tersenyum memperhatikan kami yang kompak memperlihatkan wajah murung.
“Makanya kalau dibangunin itu jangan susah!!! Itu lah akibatnya. Nggak kenyang kan sahurnya?” Ibu pergi, bersiap wudhu.
“Difa tuh yang susah dibangunin, Bu! Sudah ditelpon berkali-kali nggak bangun juga. Janji-janji datang jam dua, jam tiga aja belum bangun!” Wajah Disa menunjukku dengan sinis.
“Iya kamu enak pulang langsung tidur!!! Sedangkan aku harus menemani Simbah dulu sampai malam. Harus dengarin Simbah cerita dulu sampai tidur.” Aku sedikit berteriak kesal.
“Lagian pakai acara ngobrol sama Simbah dulu!!! Langsung tidur kan bisa. Ntar juga Simbah ikut tidur.” Disa ikut berteriak.
“Emangnya kamu! cucu nggak pengertian!!! Nggak mau mengerti Simbahnya yang kesepian.”
“Oh ya… yang cucu kesayangan Simbah.” Mata Disa terlihat sinis memandangku. Kami saling beradu mulut di dapur. Dari kata-katanya, aku merasa Disa tidak suka Simbah lebih menyayangiku.
“Sudah-sudah. Jangan bertengkar. Subuhan sana.” Ibu datang melerai kami.
Disa pergi meninggalkan aku yang masih berdiri kesal disamping kompor gas. Ibu pun pergi untuk sholat subuh. Belum lama Disa masuk kamar mandi, aku pergi mengendarai motor.
~*~
Author gak bosan-bosannya nih, ngingetin para sobat pembaca untuk like, comment dan vote novel ini.
Semoga sobat semua senang dengan karyaku ya...
Salam lope lope...
Matur Thankyu... :) :) :)
__ADS_1