Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Kenyataan Yang Menyakitkan 3


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Disa mengajak berbicara, namun selalu aku abaikan. Berkali-kali dia meminta maaf tapi tidak aku jawab. Di rumah, dia pun melakukan hal yang sama. Tetap saja tidak aku hiraukan. Inilah rahasia yang selama ini disembunyikannya. Dia menyukai Sanu tapi tidak pernah mengatakannya padaku. Saudara macam apa dia yang tidak mau berbagi dengan saudara kembarnya. Seandainya cerita sejak awal, mungkin aku bisa menahan diri untuk tidak menyukai Sanu. Apalagi dia lebih dulu suka pada Sanu dari pada aku. Dan semua itu terbongkar saat aku menemukan diary ditengah tumpukan pakaian di dalam kopernya, ketika hendak meminjam jaket. Hal yang aku khawatirkan terjadi lagi. Untuk yang kesekian kalinya aku disakiti orang yang aku sayang. Sekarang aku tidak percaya lagi pada Disa. Peperangan tertutup sudah dimulai. Perlahan aku menjaga jarak dengannya.  Kami tidak bisa sedekat dulu lagi. Saudara sudah menjadi musuh.


Tanpa sepengetahuan sang kekasih, aku sering bertemu dengan Dayat. Setiap kali merasa kesepian dan sedih, Dayat lah orang pertama yang aku hubungi. Aku ceritakan semua yang terjadi. Dari aku suka pada Sanu, Disa yang menghianatiku hingga menjadikan Mas Vino sebagai tempat pelarian. Ternyata kembaranku pun melakukan hal yang sama. Dia sering berbagi kisah pada laki-laki yang selalu antusias mendengarkan kami setiap kali ada masalah. Pria itu juga mengatakan padaku bahwa sebenarnya dia tahu sejak awal Disa suka pada Sanu. Tapi gadis itu tidak berani mengatakannya padaku, dia takut aku sakit hati. Dan kenyataanya kejadian ini lebih menyakitkan dari pada Disa jujur sejak awal. Sekarang aku sudah terlanjur sakit hati atas sikapnya selama ini. Meskipun begitu, Dayat tetap membela Disa dan menyuruhku meminta maaf padanya. Kenapa semua orang berpihak pada Disa sih!!!. Semuanya membela Disa dan menyalahkan aku. Aku pun mulai menjauhi Dayat, merasa percuma saja curhat padanya, toh dia akan selalu membela Disa.


Kini hari-hariku lebih banyak untuk menyendiri dan menyelesaikan penelitian sebagai bahan skripsi. Berkali-kali Mas Vino mengajak bertemu, namun aku sering menolak dengan alasan sedang mengerjakan skripsi. Sebenarnya dia orang yang baik, tapi sayang aku tidak mencintainya. Terkadang diri ini merasa bersalah pada pria itu, sudah mempermainkan cintanya. Laki-laki berkulit putih itu sering menanyakan kenapa akhir-akhir ini aku jarang menjenguk Sanu. Huft… seandainya dia tahu keadaan yang sebenarnya, batinku. Tapi aku tidak mungkin mengatakan, itu hanya akan menyakiti hatinya. Aku tahu cintanya tulus, ia selalu ada setiap kali aku butuhkan, selalu minta maaf setiap kali merasa sudah buat kecewa, membantu mengerjakan skripsi dan hampir tidak pernah terlambat menjemput. Aku sudah berusaha untuk mencintainya, tapi tidak berhasil.


Pernah suatu ketika aku dikenalkan pada keluarganya. Mereka keluarga yang baik. Mas Vino anak pertama dari tiga bersaudara. Adeknya yang laki-laki masih kuliah semester dua dan yang perempuan masih kelas satu SMK. Putra sulung itu sering bercerita tentang aku pada Mamanya. Jadi, saat bertemu kami bisa langsung akrab. Sedangkan Papanya terlalu sibuk bekerja. Kami hanya bertemu sebentar saja di halaman rumah, sekedar menyapa kemudian beliau pergi mengendarai mobil.


Besok pagi Sanu akan pulang. Mas Vino mengajakku untuk ikut menjemput. Sebenarnya aku malas sekali ke Rumah Sakit, apalagi disana pasti ada Disa. Aku tidak tahan jika harus melihat kedekatan mereka, sedangkan aku sendiri harus terpaksa bersama sepupu laki-laki pemilik hati ini. Disaat mereka bahagia, hanya aku sendiri yang merasa sedih. Tapi aku harus tetap datang. Aku tidak mau Sanu dan keluarganya bertanya-tanya kenapa aku tidak disana. Selama ini aku sudah memakai alasan skripsi untuk tidak menjenguk Sanu. Aku tidak ingin pasangan suami istri itu tahu bahwa aku sedang marah pada gadis yang akan menjadi menantu mereka. Aku berusaha menahan amarah ketika kumpul bersama.


Disa lebih dulu sampai di Rumah Sakit, dengan diantar sopir taksi langganannya. Tadinya dia mengajak bareng, tapi aku menolak. Aku minta kekasihku menjemput, tentu saja ia sangat bersemangat. Sebelum ke Rumah Sakit, kami jalan-jalan dulu ke mall. Beralasan rindu yang teramat berat, aku minta padanya untuk menunda jemput saudaranya dulu agar bisa tetap berduaan. Dengan mantap dia mengangguk, senang.


Laki-laki yang kini menjadi kekasihku membelikan beberapa pakaian dan mentraktir makan di restoran. Aku sempat menolak, namun dia tetap memaksa.


“Mas, kesannya aku cewek matre deh! Dibeliin baju banyak gini.” Keluhku, menunjukkan beberapa paper bag berisi pakaian.


“Nggak nggak. Kamu bukan cewek matre. Aku tau itu. Nggak usah pedulikan kata orang.” Sanggahnya. Dia membelai rambutku lembut, lalu merangkul bahuku. Kami berjalan menuruni anak tangga.


Setelah mendapat kabar bahwa Sanu akan pulang, kami baru menuju Rumah Sakit. Saat pulang, Sanu dan Disa ikut mobil Mas Vino, sedangkan Orangtua Sanu bersama saudaranya yang lain. Huft…betapa sebalnya aku harus semobil dengan mereka. Sesekali aku melirik Sanu dan Disa yang duduk di belakang. Rasanya panas dingin tubuh ini. Jantung seperti ingin pecah setiap kali melihat mereka bertatap muka sambil tersenyum. Ada cinta ditatapan itu, cinta yang membuat aku terluka.


Padatnya jalanan ibu kota membuat mobil merambat pelan, namun sesekali melaju kencang. Waktu yang cukup lama kami habiskan di jalan. Setelah melewati beberapa tikungan dan bertemu pos penjaga, kami memasuki jalan berpaving yang dikelilingi perumahan dan taman. Mobil berhenti di depan pagar besar berwarna hijau. Seorang laki-laki berseragam serba hitam keluar dan mendorong pagar hingga memperlihatkan sebuah rumah besar yang indah dengan taman yang luas, membuat mata ini melotot seketika. Takjub itu yang aku rasakan, mungkin juga yang dirasakan kembaranku ketika aku meliriknya dari kaca.  Catnya didominasi warna hijau muda. Didekat teras sudah terparkir  tiga mobil yang berjajar. Mas Vino kembali melajukan mobilnya memasuki halaman dan berhenti dibelakang mobil yang lain. Kami pun keluar dan berjalan menuju rumah.


Mas Vino memang pernah cerita bahwa Papa Sanu seorang pengacara, namun tidak aku sangka rumahnya sebesar ini. Disa sangat beruntung akan menjadi menantu dari keluarga yang baik dan kaya seperti mereka. Andai saja aku yang dipilih Sanu. Pasti aku sangat bahagia. Kami masuk ke dalam ruang tamu, disana sudah ada orangtua Sanu dan sanak saudaranya.

__ADS_1


“Nanti kalau Sanu sudah benar-benar sembuh, kami sekeluarga akan datang ke Jawa untuk melamar kamu secara resmi.” Aku tersendat mendengar perkataan Mama Sanu pada Disa saat kami sedang asyik mengobrol di ruang tamu, hingga teh yang aku minum tumpah karna terlalu kaget. Begitu juga dengan saudaraku, dia sampai terbatuk-batuk mendengarnya. Spontan kami saling menatap, bingung.


“Apa tidak terlalu cepat, Tan? Saya saja belum selesai kuliah.” Disa menatap Mama Sanu, sedikit gugup.


“Tentu tidak. Sudah hal yang biasa anak kuliahan menikah. Apalagi sudah skripsi. Toh hanya lamaran kan? Belum menentukan tanggal pernikahan?” Mama Sanu menyeruput tehnya.


“Tapi, Tan. Orangtua kami belum kenal Sanu? Saya kira terlalu mendadak jika tiba-tiba langsung lamaran. Sedangkan selama ini Disa tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki.” Ucapku, mendukung Disa.


“Itu bisa diatur, Nak. Bukankah ta’aruf memang seperti itu. Jika sudah ada kecocokan maka harus dipercepat. Om sih memang tidak tau banyak tentang ta’aruf. Itu urusan kalian yang menjalani. Kami sebagai orangtua hanya mendukung. Nanti bisalah kami berkunjung ke rumah kalian, perkenalan antar orangtua. Iya kan, Ma?” Papa Sanu ikut angkat bicara.


“Iya, Pa.” Mereka saling menatap. “Iya, Disa, Difa.” Mama Sanu menatap aku dan Disa. “Masalah pernikahan, itu urusan orangtua. Mau dipercepat atau menunggu wisuda, nanti dimusyawarahkan bersama.”


Aku hampir tidak percaya mendengarnya. Bola mata ini tiba-tiba saja memandang sosok pria yang sedang duduk tersenyum mencuri pandang dengan seorang gadis. Terbayang seandainya diri ini yang menjadi istrinya, aku akan melakukan yang terbaik untuk suami tercinta. Sayang khayalan itu dihancurkan Disa. Aku meliriknya, sinis.


“Hhhhmmm…. Boleh juga itu mbak, hitung-hitung menghemat biaya.” Mama Mas Vino melirik kami berdua, “Bagaimana, apakah kalian sudah siap menikah?”


Oh tidak… aku semakin stress dengan semua ini. Yang benar aja! Aku menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai. Pikiranku semakin kacau. Otak ini seperti akan meledak dalam hitungan detik.


Mas Vino tersenyum, merangkulku. “Tentu saja kami siap. Iya kan, sayang?” Dia melirikku.


Haduh!!! Mampus aku!!! Mana mungkin aku siap menikah dengan Mas Vino, cinta saja tidak, batinku.


“TIDAK!!!” Protesku. Aku menutup mulut dengan tangan kanan, memandang semua penghuni ruangan, malu.

__ADS_1


Mereka terkejut, mendengarku berteriak. Spontan menatap penuh tanya.


“Maaf. Saya belum siap, Tan! Saya masih ingin kuliah dan kerja. Saya masih ingin menggapai cita-cita saya. Saya masih ingin bebas dan belum siap menjadi seorang istri.” Kegelisahan sangat nampak diwajahku, rasa yang tidak bisa kusembunyikan. Aku tidak ingin menikah dengan Mas Vino, batinku.


Suasana tiba-tiba saja hening. Ada rasa canggung diantara penghuni ruangan ini.


 


 


~*~


 


Jangan lupa barang bawaan Anda!


Kami tidak bertanggung jawab atas kehilangan dalam bentuk apapun. Meskipun yang hilang sehelai rambut Anda.


Dan gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk membaca karya saya, setelah itu like, comment dan vote juga ya... :) :) :)


 


 

__ADS_1


__ADS_2