Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Sms Kesasar 1


__ADS_3

Warung makan Ibu masih tutup. Percuma saja jualan, abu hanya akan mengotori dagangan kami. Selama beberapa hari kami harus membersihkan semua perabot rumah dan warung. Abu yang beterbangan membuat seluruh isi warung kotor kembali. Hanya dengan sekali sentuh saja terlihat jelas ketebalannya. Setiap kali akan menggunakan sesuatu, kami harus mencucinya terlebih dahulu. Ayah dan Disa bertugas bersih-bersih rumah Simbah, sedangkan aku dan Ibu di rumah. Warung kami bersihkan bersama dengan karyawan.


Hari ini aku tidak tidur di rumah Simbah. Pakdhe Widodo beserta keluarga datang dari Jakarta. Berita abu Gunung Kelud sampai di Kota ini, membuatnya khawatir. Mereka berencana untuk tinggal selama beberapa hari. Waktu ini tidak aku sia-siakan begitu saja. Hari-hari kuhabiskan untuk menonton televisi. Biasanya aku dan Simbah hanya menonton berita, tidak ada kesempatan untuk menonton film favorit. Aku dan Disa menyukai film yang sama, drama korea. Jadi kami kompak seharian di depan televisi. Salahnya Ayah pasang parabola, hasilnya televisi kami kuasai. Aku dan Disa memang menyukai banyak hal yang sama, seperti suka bersepeda, bulu tangkis, membaca buku meskipun buku yang kami baca berbeda, dan satu lagi. Tapi janji ya, jangan bilang siapa-siapa… sini aku bisikin. Sssttt…. Kami kalau tidur suka mendengkur. Hehehehehehehe… Yang lainnya masih banyak. Tapi tidak semua hal kami kompak. Perbedaan karakter membuat kami sering berbeda pendapat. Jika Disa selalu berpikir menurut hukum Islam, aku selalu berpikir menurut logika dan kenyataan. Tidak jarang Disa menceramahiku setiap kali akan melakukan sesuatu. Ntahlah… sejak dia ikut Lembaga Dakwah Kampus sikapnya jadi religius sekali. Kadang aku merasa khawatir dia ikut aliran sesat. Tapi sejauh ini tidak ada tanda-tanda seperti itu.


Ibu memasak nasi goreng. Sambil menonton televisi, kami makan bersama. Suatu hal yang harus disyukuri. Hujan abu membuat kami selalu berada di rumah. Sehingga selalu berkumpul, menonton televisi, dan makan bersama. Sangat jarang hal ini terjadi. Biasanya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ibu di warung, Disa dengan teman-teman dakwahnya, Ayah bekerja dan jika sudah pulang menemani Simbah, sedangkan aku sibuk dengan kegiatan sosial.


~*~



Mas kpn-kpn klo btuh pendongeng lg kbarin sy ya. Terimakasih atas kerjasamany kmaren.



Sebuah sms dari nomor tidak dikenal. Aku abaikan saja. Mungkin dia salah kirim. Tapi setelah dipikir-pikir, orang itu pasti menunggu balasan. Mungkin juga ini suatu urusan yang penting. Aku putuskan untuk membalasnya.



Maaf anda salah kirim. Saya bukan teman anda.


Oh maaf ya kalau sy slah krm sms. Sy kira ini nomor Mas Yega.


Iya tidak apa2.


Maaf ini dengan siapa ya? Boleh kenalan sekalian nggak?



Huft… ini lah yang tidak aku suka dari nomor tidak dikenal. Ujung-ujungnya minta kenalan juga. Apa jangan-jangan dia sengaja pura-pura salah kirim. Aku paling benci orang yang seperti ini. Kenapa tidak jujur saja kalau mau kenalan.  Itu akan membuat lebih nyaman. Aku pun tidak membalas.


Dua hari kemudian nomor yang sama sms lagi.


__ADS_1


Maaf ya klo kemaren sms sy salah. Mungkin km merasa terganggu. Tp tidak ada salahnya kan menambah teman baru.



Tetap tidak mau balas. Aku ceritakan hal ini pada Disa. Tapi jawabannya justru membuatku bingung. Dia menasehati agar berhati-hati dengan sms kesasar. Bisa saja sedang dikerjain orang iseng atau seseorang yang tidak suka padaku. Tapi bisa juga orang itu jujur dan ingin berteman. Ya, sebenarnya sih tidak masalah menambah teman baru, justru senang. Yang jadi masalah adalah setiap kali mendapat nomor baru ujung-ujugnya hanya mencari pacar. Baru beberapa hari smsan sudah bertanya punya pacar atau belum? Kalau aku jawab tidak punya, mereka akan meminta ketemuan. Jika menurutnya cocok, maka meminta jadi pacar. Tapi jika tidak sesuai dengan keinginan mereka, tiba-tiba saja menghilang. Inilah yang membuatku tidak suka dengan teman baru dari sms kesasar. Aku hanya ingin menambah teman, tidak berniat sedikitpun mencari pacar. Sejak dulu aku memang tidak ingin pacaran. Bagiku pacaran hanya akan membatasi kebebasan yang selama ini sudah berjalan baik. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Juga tidak bebas untuk begaul dengan siapapun. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa aku pun memiliki rasa cinta terhadap seseorang. Yah… terkadang rasa cinta itu mengalahkan prinsip. Ketika melihat teman-teman yang sedang asyik berpacaran, bersendagurau dan bermanja-manja dengan kekasih, kadang merasa iri dan ingin punya pacar juga. Tapi aku selalu berusaha menyembunyikan perasaan itu. Ntah sampai kapan. Terlepas dari lamunan, aku coba berkenalan dengannya.



Maf dr kmaren gak bls sms. Lg gak py plsa.



Sengaja berbohong.



Iya, gak papa. Sy kira marah & gak mo kenalan.


Sms pertama it km sengaja ya? Sebenarnya km dpt nmrku dr spa? Ak hrp km mw jjr.Jk km mang org baik.


Ah bohong. Km sengaja kan mengarang cerita. Krna sekarang sedang ada musibah it terus dijadikan alasan.


Gak. Bnr. Sy dah jjr. Sy bnr2 slh krm. HP ilang wkt plang dr Kediri. Nmrnya Mas Yega it sm dg nmr km. Cm beda no blakangnya aj.


Alasan.


Benar. Sy sdh jjr. Sy harus bagaimana lg biar km mau percaya?


Kalau kamu mau jujur. Aku baru percaya.


Harus jjr bagaimana lagi??? Dari kemaren jg dah jujur.


Terserah lah!!!

__ADS_1


Saya minta maaf kalau bagimu selama ini saya salah dan selalu bohong. Tapi saya sudah berusaha jujur. Kalau kamu tidak mau berkenalan tidak apa-apa. Maaf jika selama ini sudah mengganggu.



Tiba-tiba lemas, membaca sms yang panjang tanpa disingkat. Sepertinya dia serius. Aku merasa bersalah berkata kasar padanya. Mungkin saja dia memang jujur. Kenapa tidak berusaha percaya padanya? Setidaknya mencoba dulu. Jika memang dia berniat lain, aku bisa berhenti membalas smsnya kan?



Ya sudah aku percaya.



Aku kembali membalas smsnya.



Terimakasih ya. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?


Difa.


Aku Sanu.



Semenjak itu hampir setiap hari dia sms. Namun jarang aku balas, lebih sering setelah membacanya langsung dihapus atau tidak aku buka sama sekali sms itu, hanya sekedar melirik notifikasi. Sejujurnya masih belum percaya padanya. Hati selalu mengatakan bahwa dia bohong. Aku bercerita pada sahabat dekat. Terkadang Mega atau Disa yang membalas sms Sanu. Tapi lama-lama aku larang. Sms mereka membuat Sanu berpikir bahwa aku mau kenal lebih dekat dengannya. Aku juga bilang pada Sanu bahwa yang membalas smsnya mereka. Aku bohong, mengatakan jarang pegang HP. Lebih sering dipegang teman-teman. Ternyata Sanu tidak marah, dia justru senang karna bisa lebih mengenalku lewat orang-orang yang membalas smsnya. Padahal aku menjadi kesal karna kejadian ini.


~*~


 


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya kawan...


Yuk mari... like, koment dan vote ya sobat pembaca semua...

__ADS_1


Matur Thankyu... :) :) :)


__ADS_2