
Selesai mandi, aku melihat Disa berjalan pulang dengan rasa kesal. Rumahku sebenarnya tidak terlalu jauh dari warung. Namun, jika berjalan kaki bisa menghabiskan waktu hampir satu jam. Aku tersenyum sinis melihatnya dari balik jendela.
Sepanjang hari ini aku dan Disa tidak berbicara sepatah katapun. Mega yang bersama kami seharian merasa canggung untuk bertanya. Dia merasa serba salah saat berada di dekat kami. Untuk mengurangi rasa kesal, aku melampiaskan amarah dengan update status.
*Facebook*
Bilang saja kalau kamu iri padaku. Karna aku lebih disayang dia.
Edisi > curahan hati.
Saat berjualan tiba. Seperti hari kemaren, Disa sudah berada di depan Kampus pukul 15.00. Kami masih saling berdiam diri. Aku hanya bersamanya sebentar, untuk memberikan dagangan dan lebih memilih membantu Mega.
“Maaf ya, aku nggak iri sama kamu. Aku malah senang nggak jadi cucu kesayangan. Jadi nggak harus nungguin Simbah terus.” Kata-kata Disa menghentikan langkahku saat akan pergi. Kembaranku itu terlihat sinis melirikku.
“Terus kalau bukan iri apa namanya? Orang nggak suka sesuatu itu karna iri.” Aku langsung pergi tak menghiraukan jawaban Disa.
Mega datang membawa dua kardus makanan. Dia hanya terdiam melihat kami bertengkar. Aku kehilangan mood berjualan sehingga tidak kembali lagi, memilih menghindari gadis yang berdiri dihapan Mega. Begitu pun selepas tarawih langsung ke rumah Simbah. Aku sms Mega, memintanya untuk mengantar pesanan sahur besok. Sebelum tidur aku menghibur diri dengan sms Mas Anto dan Sanu, namun mereka tidak membalas. Hati ini semakin kesal dan merasa kesepian. Merenung, menatap layar HP hingga terlelap.
~*~
Pagi hari, sebelum ke Kampus Mas Anto dan Sanu sms. Mereka meminta maaf karna tidak membalas semalam, dengan alasan yang berbeda-beda. Sanu bercerita akan berkunjung ke rumah teman lamanya. Dia meminta bertemu sebelum kesana. Katanya sih sekalian jalan. Memang, kota temannya itu dekat dengan tempat tinggalku. Tidak sampai satu jam perjalanan dengan mengendarai motor. Untuk sekian kalinya aku menolak bertemu Sanu dengan alasan sibuk berjualan.
“Bisa nggak sih, kamu bersikap profesional!” Suara yang sangat tidak asing menghentikanku melangkah keluar rumah. “Kalau nggak niat dagang, nggak usah sok ikutan dagang. Dari pada cuma jadi beban orang lain. Mau duitnya, tapi nggak mau kerjanya!” Aku membalikkan tubuh, mata ini menatap tajam gadis yang sedang duduk di kursi ruang makan. Dia sedang meneguk susu coklatnya.
“Maksud kamu apa ngomong kayak gitu!” Aku menghampirinya.
“Kamu pasti tau maksudku!” Dia membalas tatapanku sinis.
“Keluar uang, tenaga dan pikiran kayak gitu, kamu pikir aku main-main!” Aku mengernyitkan kening.
“Iyalah! Kalau kamu emang niat dagang, ngapain kamu suruh Mega antar catering pelanggan. Kalau kamu profesional, seharusnya kamu bisa memisahkan urusan pribadi dengan kerjaan! Marah ya marah! Kerja ya kerja! Jangan karna lagi marah terus nggak mau kerja!” Disa meninggikan suaranya.
“Ada apaan sih ini. Pagi-pagi sudah bertengkar.” Ayah keluar dari kamar, menghampiri kami.
“Tuh, anak Ayah mau uang tapi nggak mau kerja!” Gadis itu memonyongkan bibirnya, menunjukku.
“Difa!” Ayah menatapku, meminta penjelasan.
“Yah, bukannya aku nggak mau kerja. Tapi tidak akan nyaman jika kerja sambil marah-marah, yang ada kerjaannya nggak selesai-selesai. Aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri.”
“Ibu kalian sudah cerita pada Ayah. Anak-anak Ayah sudah dewasa, Ayah yakin kalian bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik tanpa harus meninggikan suara. Anak-anak Ayah itu lemah lembut, bukan pemarah, bukan juga pendendam. Menenangkan diri itu baik, tapi bukan berarti harus meninggalkan tugas dan kewajiban. Mengingatkan juga baik, tapi alangkah baiknya jika dengan cara yang santun tanpa memakai emosi.” Ayah membelai lembut punggung kami, meminta berbaikan.
Siang ini Mas Anto mengajak survey tempat untuk mentraktir teman-teman. Aku selalu bersemangat jika pergi bersama laki-laki yang selalu membuat hati ini berdebar. Meski hubungan kami sampai saat ini belum jelas, tapi aku merasa seperti pacaran. Pria itu selalu menceritakan kegiatannya sehari-hari, saat sedang sakit ataupun berkumpul dengan sahabatnya. Dia juga sering menelponku malam hari. Kadang kami mengobrol hingga larut malam. Di tengah parkiran Kampus, laki-laki pecinta motor matic itu telah menunggu. Sambil memainkan kunci berhias gitar kecil, dia ngobrol bersama ketiga temannya. Tak lama aku menghampiri, dengan penuh pengertian mereka pamit meninggalkan kami. Mas Anto pun menyalakan kunci si hijau kesayangannya. Suara mesin terdengar khas, aku duduk dibelakang berpegangan pada jaket seseorang yang baru saja memakaikanku helm. Sungguh, belum pernah aku merasakan romantis seperti ini. Dialah laki-laki yang selama ini kuimpikan. Bibir ini tak hentinya menebar senyum, merasakan bunga-bunga cinta. Beberapa tempat makan kami kunjungi, melihat-lihat lokasi yang bisa dipesan untuk sejumlah orang yang akan diundang. Tak terasa adzan ashar berkumandang, delapan belas panggilan tak terjawab dari Mega terlihat jelas. Sadar kedua partner kerjaku akan marah besar, aku mengajak Mas Anto pulang dan melanjutkan survey besok. Dia menunjukkan lesung pipitnya dan mengantar ke rumah Mega.
“Bagus ya, yang lagi kasmaran?? Sampai lupa kerjaan. Terus aja pacaran, nggak usah jualan lagi.” Gerutu Disa kesal, tangannya dengan lincah membungkus es buah dan kolak. “Nyesel aku, tadi pagi maafin kamu. Nggak ada kapoknya.”
“Kita… tanpa dia juga bisa kok Dis! Biarkan saja dia pacaran. Toh yang dosa mereka dan yang untung kita. Nanti hasil dagangan kita bagi dua saja ya. Kan yang kerja full kita berdua.” Mega melirik sinis, tangannya masih mengaduk-aduk gorengan.
“Maaf…. Tadi itu HP Aku silent jadi nggak tau kamu telpon. Iya deh, gapapa nanti aku nggak dapat bagian. Yang penting aku masih boleh bergabung dengan kalian. Aku masih bisa jualan kan?? Bagiku yang penting bukan keuntungan dari dagangan ini. Tapi kebersamaan kita. Inilah kerja keras kita. Aku akui belakangan ini aku lebih sering dengan Mas Anto, aku khilaf. Maafin Aku ya??” Wajah sedih kutampakkan pada mereka, meminta belas kasihan. Meski sadar ntah kapan akan terulang lagi.
“Yaudah!!! Trus kamu ngapain cuma berdiri di pintu. Mandorin doang!!! Enak bener!!! Dah datang telat, cuma mandorin lagi.” Disa berjalan cepat membawa keranjang berisi takjil. Bergegas aku mengambil alih membungkus kolak, menata dengan rapi di keranjang. Meletakkan gorengan di nampan yang sudah dilapisi koran.
__ADS_1
~*~
Beberapa hari ini Sanu sering bertanya kendaraan alternatif dan kondisi jalan menuju kota temannya. Aku pun memberikan beberapa saran padanya. Akhirnya Sanu mengambil keputusan naik kereta api menuju Kotaku dan melanjutkan perjalanan dengan bus ke tempat tinggal temannya. Hatiku menjadi berdebar mengetahui Sanu akan datang. Sekilas aku berpikir untuk bertemu sebentar. Tapi aku gengsi untuk mengatakan padanya. Sanu berkali-kali sms mengabarkan rencananya itu. Dia ingin bertemu dan buka bersama denganku saat tiba nanti. Laki-laki itu juga ingin berkunjung ke rumah walau tidak lama. Tapi aku menolak semua rencananya. Aku merasa sungkan jika dia datang ke rumah dan tidak tahu harus memberikan alasan apa pada keluarga jika dia ikut berbuka bersama. Akan terasa aneh jika tiba-tiba ada orang asing ikut buka bersama keluarga. Lagi pula aku sangat sibuk berjualan menjelang berbuka. Sanu mengabarkan perjalanannya. Dia tidak bosan-bosannya minta bertemu. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di Stasiun saat dia pulang dari tempat temanya.
Pagi-pagi setelah sholat subuh Laki-laki itu sms, dia bilang sedang bersiap-siap pulang. Padahal keretanya berangkat pukul sembilan dan perjalanan dari rumah temannya ke Stasiun tidak lebih dari satu jam. Aku menyarankan agar tidak terburu-buru pulang karna keretanya masih lama. Tapi, dia bilang ingin bertemu dulu hingga kereta datang. Aku pun tidak bisa menolak kehadirannya ketika dia bilang sudah sampai di Stasiun, meskipun saat itu aku sedang tidur. Aku bergegas cuci muka dan bersiap pergi menemuinya. Semoga dia tidak mengetahui kalau aku belum mandi, pikirku. Aku masuk ke Stasiun lewat jalan kereta, mencarinya di dalam. Kami saling sms dan mencari ciri pakaian masing-masing. Sudah satu jam lebih belum juga bertemu. Ternyata kami miss komunikasi. Dalam sms aku bilang bahwa kami bertemu di dalam Stasiun. Sanu mengira dalam Stasiun itu adalah wilayah tempat membeli karcis. Jelas saja kami tidak bertemu. Aku pun bilang padanya bahwa aku menunggu di samping kepala kereta api. Aku biarkan dia mencariku agar tidak terjadi kesalahan lagi. Aku duduk di kursi tunggu sambil melihat-lihat sekeliling. Sesekali melihat jam di HP. Tidak lama kemudian seorang laki-laki berjalan di jalur dua. Ciri-cirinya seperti yang dikatakan Sanu, dia pun sms dan berkata sudah melihatku tapi tidak ada kursi kosong di dekatku. Belum selesai aku mengetik, orang yang duduk disebelahku tiba-tiba saja pergi. Aku meminta Sanu mendekat. Detik-detik pertemuan ini membuat jantung berdetak kencang, Berusaha bersikap cuek padanya. Sanu berjalan mendekat dan berdiri di hadapanku. Aku menepuk-nepuk kursi di sebelah, memberi isyarat padanya untuk duduk. Dia tersenyum dan duduk. Kami saling diam sesaat. Bingung memulai dari mana.
“Aku kira yang dimaksud dalam Stasiun itu di halamannya bukan disini.” Akhirnya Sanu memulai pembicaraan.
“Masak kamu nggak bisa membedakan sih di dalam dan halaman.” Aku menjawab dengan agak kesal.
“Ya maaf. Aku kan mikirnya kalau di luar itu ya di jalanan dan kalau di dalam itu sudah termasuk halaman Stasiun.”
“Ya sudah lah. Yang penting kan sudah ketemu.”
“Iya benar. Akhirnya kita bertemu juga ya. Setelah sekian lama minta ijin ketemuan akhirnya di acc juga.” Sanu tersenyum melirik.
“Emangnya proposal di acc segala.” Aku memutar-mutar HP.
Kami mengobrol beberapa hal, seperti orang yang sudah akrab. Sanu mengeluarkan sebuah brosur dari dalam tasnya.
“Ini aku punya brosur ODOJ. Kemaren kamu kan tanya tentang ODOJ.” Sanu menyodorkan brosur itu padaku.
“Oh ya. Terima kasih. Sebenarnya yang butuh informasi ini bukan aku tapi saudaraku.”
“Oh kirain kamu. Kalau kamu ikut juga nggak apa-apa sih. Itu kan kegiatan yang bagus. Ntar aku bantuin deh cara bergabungnya.”
“Nggak ah. Aku nggak punya bakat untuk menghafal Al-Qur’an. Emangnya kamu sudah berapa lama ikut kegiatan ini.”
“Belum lama juga sih. Awalnya aku juga nggak ngerti ODOJ itu apa. Tapi setelah menjalaninya aku malah senang. Kamu nggak harus menghafal Al-Qur’an. Kegiatan itu hanya membantu kamu agar lebih bersemangat membaca Al-Qur’an. Gitu saja kok. Umumnya kita akan lebih bersemangat jika mengerjakannya bersama-sama kan?”
“Emangnya kamu bukan orang alim?”
“Emangnya aku ada tampang-tampang alim?” Aku balas bertanya.
“Enggak sih… tapi nggak ada salahnya ikut.”
“Ya emang nggak ada yang salah. Tergantung orang itu mau apa nggak.” Kami saling diam sesaat. “Gimana jurnalisnya? Katanya mau ngajarin kalau sudah bertemu.” Lanjutku.
“Oh iya, lupa!” Sanu tepuk jidatnya yang lebar. ”Tapi nggak cukup waktunya kalau hanya bertemu sekali. Namanya belajar kan butuh proses. Ya paling aku hanya bisa menjelaskan singkatnya saja. Gimana?”
“Ok. Nggak masalah. Setidaknya aku ada gambaran tentang jurnalis.”
“Semangat banget??” Sanu tersenyum, dia pun menjelaskan pekerjaannya sebagai jurnalis dan pendongeng. Kumasukkan HP ke saku dan mendengarkan penjelasannya dengan serius. Tiba-tiba dia terdiam.
“Kenapa mendadak diam?” Tanyaku, mengernyitkan kening.
“Aku tuh sebenarnya selalu penasaran dengan kamu.” Dia menatapku tersenyum.
“Penasaran kenapa?” Mengalihkan perhatian memandang kereta yang baru datang.
“Kamu itu kadang baik, kadang galak. Kadang suka bercanda, kadang cuek. Kadang ngeselin, kadang nyenengin. Dan setelah sekian lama mendapat penolakan bertemu, sekarang kita bisa mengobrol lepas, seperti teman lama. Jadi semakin penasaran kamu itu orang seperti apa?”
__ADS_1
“La emang kamu lihatnya aku orang seperti apa sekarang?”
“Ya seperti-” Belum selesai Sanu berbicara, tiba-tiba saja seorang laki-laki muncul dan menyapaku. Kami mengobrol cukup lama, sehingga tidak menghiraukan Sanu. Saat sedang asyik mengobrol, keretanya akan berangkat dan dia pamit pergi.
“Tadi itu siapa?” Tanya Sanu.
“Owh… teman. Kebetulan dia kerja disini.”
“Enak ya kalau punya teman yang bekerja disini. Jadi gampang kalau butuh informasi kereta. Besok kalau aku pulang pakai kereta, aku cari informasi disini saja deh.”
“Kenapa? Di Yogya kan juga banyak informasi yang kamu dapat?”
“Ya biar bisa sekalian ketemu kamu lagi.” Dia tersenyum yang kesekian kali. Sepertinya sangat bahagia bertemu denganku.
Suara informasi terdengar jelas. Kereta yang dinaiki Sanu akan berangkat. Sanu bersiap-siap dan minta ijin untuk naik kereta sekarang. Aku mengangguk. Dengan ragu-ragu Sanu pergi meninggalkanku. Sesekali dia menengok ke belakang memandangku dan tersenyum. Setelah Sanu masuk kereta, aku pun pulang melalui pintu masuk kereta. Saat berjalan di pinggir rel, kereta yang dinaiki laki-laki berparas tampan itu melintas. Tidak lama kemudian Sanu sms. “Terimakasih ya sudah mau bertemu. Aku melihat kamu berjalan di pinggir rel. padahal itu jauh dari stasiun. Kamu pasti capek menemuiku dengan berjalan kaki.” Aku tersenyum membacanya. Rasa penasaranku sedikit berkurang.
Sampai di rumah Disa langsung bertanya tentang pertemuan kami. Aku menceritakan semuanya tak terkecuali. Sebenarnya tadi Disa juga ikut ke Stasiun. Hanya saja dia bersembunyi di salah satu kios dekat kami bertemu. Mudah bagi kami untuk bersembunyi di area Stasiun. Bagaimana tidak, Ayah saja sebagai kepala Stasiunnya. Beberapa kios di Stasiun juga milik saudaraku. Sebenarnya aku malu saat bertemu Sanu. Aku khawatir ada seseorang yang melihat kami dan melaporkan kepada Ayah, meskipun beliau tidak akan marah.
Sore hari, saat berjualan Mas Anto datang. Alasannya sih mau membeli takjil. Tapi setelah membayar, dia tidak langsung pulang. Saat sedang sepi Mas Anto mengundang kami bertiga untuk hadir di acara syukuran kelulusannya besok malam. Tanpa berpikir panjang aku menerima undangannya. Namun Disa dan Mega tiba-tiba saja melirik dengan pandangan aneh dan mencubit pinggangku dengan keras.
“AAWWW!!!!!” Aku mengelus pinggang yang terasa ngilu.
Disa angkat bicara, menolak undangan itu. “Lihat keadaan besok ya Mas, kami kan jualan. Jadi-”
“Kita kan bisa libur dulu satu hari. Ya kan Mas?” Spontan aku memotong pembicaraan Disa. Disa mencubitku lebih keras.
“AAWWW!!! Sakit Disa!” Lirikan sinis kupertajam.
“Ya kalau tidak bisa nggak usah dipaksakan. Aku mengerti kok keadaanya. Tapi aku berharap kalian bisa datang.” Mas Anto tersenyum.
“Tuh kan. Mas Anto berharap loh kita datang?” Kataku bersemangat.
Kami semua terdiam, Mas Anto pun pamit. Belum lama bayangan Mas Anto menghilang, Mega dan Disa marah-marah padaku. Mereka mencubit berulang kali untuk melampiaskan rasa kesal.
“Kamu tuh ya!!! Lebih mentingin Mas Anto dari pada jualan. Nih aku kasih upilnya Mas Anto mau!!!” Mega memeperkan upilnya ke lenganku.
“Ich… apa-apan sih kamu. Jorok tahu!!!” Aku spontan menghindar. “Mas Anto itu nggak suka ngupil kayak kamu.” Mengelap lengan menggunakan tisu basah. Untung saja aku selalu sedia tisu di tas.
“Biarin!!! Salah kamu sendiri, lebih mentingin dia dari pada kami. Emang kalian sudah jadian? Belum kan?? Baru kemaren minta maaf, bilang dagangan ini penting. Tapi apa nyatanya!! Tetap lebih penting cowok gak jelasmu itu!!” Tiba-tiba aku tersentak mendengar pernyataan Mega. Iya, kami belum jadian? Tapi apa harus jadian dulu untuk hadir ke acara syukuran Mas Anto. Aku hanya terdiam, tidak meneruskan perdebatan ini. Sepertinya mereka tidak suka dengan hubungan kami. Aku sadar, mungkin sikapku ke Mas Anto terlalu berlebihan. Sehingga membuat orang berpikir kami jadian. Padahal Mas Anto sendiri tidak pernah menyatakan cinta padaku.
Setelah adzan maghrib, kami bergegas pulang. Bersiap tarawih. Hari ini pikiranku campur aduk. Memikirkan pertemuan dengan Sanu dan hubunganku dengan Mas Anto, membuat kepala sakit. Ingin rasanya tidur lebih awal, agar pusing ini hilang.
\~*\~*\~
Ingat Pesan Ibu!!
Jaga Jarak dan pakai masker!
Jaga jarak mata dengan ponsel agar mata tidak cepat rusak.
Pakai masker, biar kalau bersin HPnya gak kecipratan air liur. kan jorokkk.... iiuuhhhh... bauuuu...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote juga ya...
Matur thankyu... :) :) :)