Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Luka Hati 2


__ADS_3

Pagi hari yang cerah. Burung-burung berkicau. Mereka tampak senang menyambut pagi. Berbeda denganku, hatiku tak secerah pagi ini. Aku tidak bisa menyambut pagi ini dengan bahagia seperti burung-burung itu. Hanya senyuman kecil yang bisa aku berikan saat ini. Rasanya ingin sekali terbang bersama mereka. Membawa pergi luka ini dan membuangnya jauh di ujung sana. Hingga aku kembali dengan perasaan bahagia. Disa datang, membangunkanku dari lamunan. Aku ingin mengeluh, tapi bagaimana memulainya. Di teras ini kami sering duduk berdua. Tempat ini cukup nyaman untuk menghilangkan penat di hati. Ada beberapa pot bunga yang disusun rapi di atas rak. Bunga anggrek bulan yang menempel di batang pohon mangga madu. Dulu, aku yang menempelkan bunga anggrek itu. Sewaktu kecil, aku dan teman-teman suka berkeliling rumah untuk meminta bunga dan menanamnya kembali di teras ini. Rak itu dulu aku buat dengan papan bekas. Sekarang sudah diganti rak besi bermotif daun-daun. Aku kembali melamun, hingga Disa berkali-kali membangunkanku lagi. Tubuhku masih terasa lemas untuk menikmati indahnya pagi. Aku beranjak pergi ke kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Disa.


Disa memanggil untuk sarapan bersama. Jika boleh memilih, rasanya aku tidak ingin keluar kamar. Tapi aku juga tidak ingin membuat mereka khawatir. Di meja makan, semua terlihat bahagia menikmati sarapan. Huft… aku tidak nafsu makan. Tapi aku juga tidak mau sakit dan merepotkan mereka. Cukup hatiku yang sakit, tubuhku tidak boleh ikut-ikutan sakit. Selesai makan aku kembali lagi ke kamar. Aku ingin menyendiri. Lagi-lagi Disa menghampiriku. Haduh… ingin sekali rasanya marah. Aku sedang tidak ingin diganggu!!! Tapi ini kamar Disa juga. Kami tidur bersama disini. Aku tidak punya alasan untuk marah padanya.


“Ada Dayat tuh diluar. Dia mau ngajak kita jalan-jalan. Kamu mau nggak?” Disa mendekat.


“Nggak. Kamu saja.” Aku memalingkan wajah.


“Kamu itu kenapa sih! Dari kemaren kok menyendiri terus? Kesal Mas Anto jarang menghubungi kamu lagi?” Disa duduk disampingku.


“Nggak. Bukan karna itu.” Aku tertunduk. Air asin ini menetes kembali.


“Terus…? Kenapa kamu nangis? Pasti ada masalah kan sama Mas Anto.” Disa memegang bahuku.


Aku mengangguk. Air mata ini semakin deras mengalir. Aku tidak bisa menahannya. Ini terasa sangat berat aku jalani.


“Kalian ada masalah apa?” Disa mulai serius.


Spontan aku memeluk Disa, menangis tersedu. Disa mengelus-elus punggungku, berusaha menenangkan.


“Ceritakan saja apa yang terjadi. Mungkin aku bisa bantu. Kalau kamu menangis terus… masalah nggak akan selesai.”


Aku berusaha menghentikan air mata ini. Menarik napas panjang. Mengambil HP di meja. Aku tunjukkan sebuah sms dari nomor yang tidak ada nama pengirimnya. Berharap sms ini bisa mewakilkan perasaanku.


- Hey, CEWEK MURAHAN. Jgn coba2 km ggu Anto lg. Dy it nggk prnah cinta sma kmu. Cinta dy cma bwt ak. Kmu tuh cm tempat pelampiasannya aj. Sebentar lg kmi akan menikah, AKU SEDANG MENGANDUNG ANAK ANTO. Jadi STOP GANGGU ANTO LAGI.


Disa membacanya berulang-ulang. Mencoba memahami maksudnya. Selesai membaca, aku juga menunjukkan beberapa sms dari Mas Anto.


- Dif, sorry kta harus putus.


- Aku dah nggak cinta lg sama kmu. Sebentar lg aku mau nikah sama cewek lain.


- Jgn hubungi aku lg.


- Jgn ganggu aku lg.


- Lupakan semua yg udah kita lakukan.


- Aku dah gak nafsu lg sama kamu.


- Aku gak minat sama cewek yang gak bisa layanin aku.

__ADS_1


“Astagfirullah…” Disa menutup mulutnya dengan telapak tangan, “Apa maksudnya ini, Dif?”


Tangisku makin deras, mendengar pertanyaan Disa. Bagaimana menjelaskannya, bahwa aku sudah melakukan sesuatu dengan Mas Anto.


“Kamu udah jadian sama dia? Kenapa nggak pernah cerita?” Disa mengernyitkan keningnya. Meminta jawaban. “Sejak kapan kalian pacaran?”


“Udah nggak penting dibahas, Dis! Toh sekarang kami udah putus. Kamu baca sendiri kan, dia mutusin aku.” Jawabku sesenggukan.


“Kalau kayak gini ceritanya, dia sudah keterlaluan. Kamu lupakan saja dia.”


Aku menangis semakin kencang. Tidak semudah itu melupakan Mas Anto. Kenapa Disa tidak mau mengerti perasaanku?


Disa menggelengkan kepala menatapku. “Ngapain sih, kamu menangis untuk orang yang sudah menyakiti hatimu. Sms ini sudah membuktikan kalau dia bukan cowok yang baik. Selama ini dia cuma menjadikan kamu sebagai tempat pelampiasan. Sekarang dia sudah selingkuh, bahkan mau nikah. Ceweknya udah hamil duluan lagi.” Kembaranku mendengus kesal. Kekecewaan sangat nampak diwajahnya.


“Aku nggak menyangka Mas Anto setega itu. Kurang baik apa coba aku selama ini. Kalau tidak suka seharusnya dia jujur. Kenapa dia memberikan harapan palsu? Kenapa dia tega mempermainkan cintaku?”


Disa mendekat dan memeluk sambil membelai lembut kepalaku. Pikirannya teringat kembali pada sms Mas Anto. Dia kembali membacanya.


“Dif, kalau boleh tau selama pacaran kalian sudah melakukan apa aja? Sampai-sampai Mas Anto smsnya kayak gitu? Kalian nggak macam-macam kan?” Tatapannya membuat aku semakin merasa bersalah.


“Maafkan aku, Dis? Kami sudah melakukannya. Hal yang menjijikan itu?” Aku menunduk, malu dan kecewa bercampur aduk. Penyesalanku semakin memuncak.


“Apa!!! Kalian melakukan apa? Kamu kasih keperawanmu ke dia?”


“Maksudnya hampir?”


“Dia sudah hampir melakukan, tapi aku menolaknya.”


“Alhamdulillah, syukurlah kamu masih perawan. Hampir saja kamu melewati batas.”


“Tapi…”


“Kenapa!!” Disa menatapku serius.


“Dia sudah menyentuhnya. Bagian itu dan aku juga pegang punya dia.” Air mata penyesalan ini tak henti-hentinya mengalir.


“Apa!! Kenapa kamu melakukan itu?”


“Dia yang memintanya, Dis. Dan aku juga terbawa suasana. Aku termakan nafsu yang mendorong melakukan itu. Kata dia kalau sudah cinta, nggak apa-apa melakukannya. Bodohnya aku Dis, percaya aja kata-kata cowok brengsek itu dan membiarkannya bermain-main dengan tubuhku. Aku menyesal, Dis?”


“Astagfirullah, Difa! Kenapa kamu sebodoh itu sih. Percaya aja dengan setan. Untung nggak sampai keperawananmu hilang, coba kalau kalian melakukan itu dan kamu hamil. Sedangkan sekarang ada wanita lain yang hamil sama dia juga. Bagaimana nasib kamu. Bagaimana nama baik keluarga kita. Pantesan sejak awal aku nggak suka dengan laki-laki itu. Ternyata dia iblis berwujud manusia. Kenapa sih, kamu bisa-bisanya cinta sama orang yang salah. Cinta sudah membutakan hatimu, sampai-sampai kamu nggak bisa lihat mana cowok yang baik dan yang buruk. Orang kayak gitu nggak pantas kamu tangisin apalagi kamu perjuangin.” Amarah gadis yang kini dihadapanku terlihat jelas. Raut wajahnya penuh dengan kekecewaan. Ya, aku menyadari kekesalannya padaku. Dia memelukku kembali.

__ADS_1


“Berhentilah menangis, Difa! Maaf jika aku marah. Aku kecewa padamu, tapi semua sudah terlambat. Sekarang bertobatlah, minta Ampunan pada Allah dan jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi. Bersihkan dirimu dengan solat tobat dan memperbaiki diri. Hanya itu yang bisa aku nasehatkan padamu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu.” Disa melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang sudah membanjiri pipi dan pakaianku.


“Kenapa Mas Anto sejahat itu sama Aku, Dis? Apa salahku sama dia. Kenapa dia tega mempermainkan cintaku. Aku kecewa Dis, kecewa banget? Aku sangat menyesal sudah mencintainya.”


“Sudah… sudah… mungkin ini petunjuk dari Allah bahwa dia bukan laki-laki yang pantas untukmu. Kelak Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Sekarang berhentilah menangis. Jangan sia-siakan hidupmu untuk orang seperti dia. Lebih baik sekarang kita bersenang-senang. Kalau di rumah, kamu bisa stress kepikiran dia terus. Blokir nomornya dan teruslah berusaha melupakan mereka. Pintu tobat selalu terbuka untukmu.” Disa menghentikan kegiatannya. “Sana cuci muka.” Suruh Disa.


Baru saja aku mau beranjak ke kamar mandi, Mas Fikri masuk menghampiri kami. “Kalian tuh ngapain saja. Lama sekali. Kasian Dayat menunggu dari tadi. Ayo cepetan.” Sejenak dia menatapku, “Loh, Difa kamu kenapa menangis?” Mas Fikri memegang kedua bahuku, menatapku, memastikan penglihatannya tidak salah.


“Lagi patah hati, Mas! Sebaiknya jangan diganggu dulu.” Ucap Disa mewakiliku. “Kami siap-siap sebentar. Tunggu ya, Mas ikut juga kan?” Disa merapikan tasnya.


“Boleh juga. Memang mau jalan-jalan kemana.”


“Nggak tahu. Tanya saja Dayat.”


“Ok. Kami tunggu di luar ya. Cepetan.”


~*~


Benar kata Disa. Dengan bepergian seperti ini aku bisa sedikit terhibur. Setidaknya bisa berhenti menangis. Melupakan sejenak perih di hati. Seharian berjalan-jalan di ancol membuat kami lelah sekali. Setelah puas naik perahu, kami menikmati indahnya pantai di sore hari. Menunggu matahari tumbang di kaki barat. Tidak lupa aku membeli berbagai macam souvenir untuk oleh-oleh saat pulang nanti. Dayat membantuku memilih beberapa gelang dan gantungan kunci. Sedangkan Disa dan Mas Fikri asyik memilih pakaian untuk mereka sendiri. Pulang dari Ancol, Mas Fikri mengajak kami makan malam di kafe favoritnya.


“Kalau bisa sih, kita pulang sampai larut malam saja.” Pintaku.


“Kenapa? Kamu belum puas jalan-jalannya.” Tanya Mas Fikri. Meski dia tahu alasan sebenarnya.


Disa yang mengetahui keadaanku hanya tersenyum melirik.


“Kita pasti pulang larut malam kok. Perjalanannya kan masih jauh.” Jelas sepupuku, tanpa menunggu jawaban.


Di Kafe, kami bertemu beberapa teman Mas Fikri. Saat menunggu makanan datang, dia meninggalkan kami bertiga untuk menemui teman-temannya. Mereka terlihat sangat akrab. Kakak sepupuku itu bercerita, Kafe ini tempatnya nongkrong sejak kuliah. Setidaknya seminggu sekali mereka kesini. Laki-laki berkacamata itu lama sekali meninggalkan kursinya. Hingga makanannya dingin, dia belum juga kembali. Disa sejak tadi asyik bercanda dengan Dayat. Aku jadi merasa kesepian lagi. Aku aduk-aduk nasi goreng yang masih utuh, pikiran ini ntah sedang kemana. Tanpa sadar nasi itu berserakan di meja. kembaranku berkali-kali memanggil, namun seperti mimpi. Aku tidak sadar apa yang telah terjadi. Aku baru sadar ketika seseorang memegang tanganku. Aku menoleh, ternyata Dayat pun memanggilku.


“Kamu baik-baik saja kan Dif.” Tanya Dayat dan Disa serempak.


Ku tatap mereka bergiliran. Ada apa dengan mereka. Kompak sekali? Situasi ini membuat aku penasaran. Apa yang terjadi selama aku melamun tadi? Mas Fikri datang, dia langsung menyantap makanannya. Kami bertiga menatap Mas Fikri bersamaan. Sepertinya dia sangat kelaparan.


\~*\~*\~


Author laparr.... istirahat dulu, yuk kita makan, biar gemuk.


Gemukin juga like, koment dan votenya ya.... :) :) :)


Matur Thankyu Sobat semua....

__ADS_1


 


 


__ADS_2