Ku Tunggu Janjimu

Ku Tunggu Janjimu
Nyicil Terkenal 2


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti biasa. Selepas sholat subuh aku sudah duduk manis di depan televisi. Ayah dan Ibu heran melihatku yang mau ikut menonton berita pagi. Sesekali aku mendekati mereka, mengambil kue di meja. Setiap pagi Ayah dan Ibu selalu menonton berita sambil menikmati kopi dan beberapa makanan ringan. Aku pun ikut-ikutan membuat kopi susu untuk menahan rasa kantuk.


“Tumben kamu nggak tidur lagi.” Tanya Ibu usai menyeruput kopi.


“Mau nonton berita dulu, Bu.”


“Nah, gitu dong? Kamu itu harus sering-sering nonton berita biar tahu dunia. Anak jaman sekarang nonton berita saja nggak suka. Yang di tonton sinetron terus.” Sambung Ayah.


“Di rumah Simbah aku juga nonton berita terus.”


“Itu kan karna terpaksa. Simbah nggak mau ganti channel yang lain. Ayah berani taruhan, kalau Simbah tidur pasti langsung kamu ganti sinetron! Ya kan?” Ayah melahap kuenya lagi.


“Yang penting judulnya sudah nonton berita kan?” Aku menyeruput kopi susu. Tidak lama kemudian berita yang aku tunggu muncul. “Nah ini dia yang ditunggu-tunggu. Lihat tuh anaknya masuk Televisi. Nyicil terkenal.”


“Jadi saksi kecelakaan kok senang. Nanti kamu bisa saja sampai pengadilan.” Jelas Ayah.


“Loh kok bisa sampai pengadilan?” Tanyaku heran.


“Ya bisa. Kalau kasusnya rumit dan keluarga korban nggak terima. Mereka bisa tuntut ke pengadilan. Terus kamu disuruh jadi saksi disana.”


“Wuaaaahhh… asyik tuh!!! Penasaran jadi saksi di pengadilan gimana rasanya ya? Semoga saja polisi itu telpon dan menyuruh jadi saksi.” Aku tersenyum membayangkan kejadian itu.


“Disuruh jadi saksi pengadilan kok senang. Orang lain saja menghindar jadi saksi. Ini malah kepengen. Bocah aneh!!!”


“Loh, Yah! Buat pengalaman? Aku kan belum pernah ke pengadilan. Biar bisa tahu isi pengadilan itu seperti apa?” Aku bangkit dari kursi. Menggeliat. Melangkah menuju kamar. “Tidur lagi ah…”


“Kok tidur lagi. Tanggung sudah siang. Mending antar Ibu ke Pasar.” Ibu menghentikan langkahku.


“Sama Disa saja Bu. Aku ada kuliah jam Sembilan. Tidur satu jam kan lumayan.” Masuk kamar dan menutup pintu.


Sambil berbaring aku buka HP. Ada beberapa sms yang masuk. Sebagian besar ucapan selamat aku masuk berita. Ada juga yang bertanya detail cerita kecelakaan itu. Kecuali Sanu yang smsnya berbeda.


- Selamat pagi. Selamat beraktifitas. Kemaren jadi ke Jogya?


Aku pun tertarik untuk membalasnya.


- Iya jadi. Pulangnya aku melihat kecelakaan maut. Terus aku diwawancarai banyak orang termasuk polisi. Tadi pagi juga masuk berita.


- Bagaimana ceritanya bisa sampai jadi saksi kecelakaan. Emang kamu lihat kejadiannya.


- Enggak. Waktu aku lewat korbannya sudah meninggal. Tapi karna aku yang pertama melihatnya makanya jadi saksi. Eh bagaimana sih caranya jadi jurnalis. Ajarin aku dong? Biar kalau ada kecelakaan lagi aku bisa jadi jurnalis warga. Kan lumayan tuh.


- Ya gimana ngajarinnya kalau nggak ketemu.


- Emang nggak bisa lewat sms atau telpon gitu?


- Nggak bisa harus ketemu langsung. Susah kalau lewat telpon.


- Yah…


- :)


Aku tidak lagi membalas sms Sanu. Waktu tidurku sudah habis untuk smsan dengannya, kini bergegas mandi dan bersiap-siap ke Kampus. Hari ini tidak boleh terlambat agar bisa bertemu laki-laki dambaan hati. Aku ingin menyemangatinya sebelum masuk ke ruang pendadaran.  Aku menunggu di kursi depan ruangan, tengok kanan-kiri, berharap dia muncul. Setelah menunggu cukup lama, seorang laki-laki berkemeja putih dengan almamater di lengan datang bersama perempuan berkerudung orange. Aku terkejut!! Harapan menjadi penyemangat pertama musnah seketika. Aku mendekat dengan rasa kecewa.

__ADS_1


“Semoga sukses ya Mas. Semoga hasilnya memuaskan. Maaf aku hanya sebentar, mau ada kuliah.” Tersenyum kecil.


“Terimakasih ya. Sudah menyempatkan waktu datang kesini.” Mas Anto membalas senyumanku.


Aku tersenyum kecil menatap mereka bergantian lalu cepat-cepat pergi. Satu tetes air mata jatuh di pipi. Tidak seharusnya aku datang. Kejadian ini hanya akan menyakiti hati. Bukan kehadiranku yang dia harapkan. Namun, aku berusaha kuatkan hati untuk tetap menemuinya selepas kuliah. Perempuan itu masih saja setia menunggu Mas Anto di depan ruang pendadaran. Apakah mungkin mereka sudah balikan? Aku mendekat, duduk disampingnya. Beberapa teman komunitas sedang berdiri cemas, sesekali mereka mengintip ke dalam ruangan. Begitu pun dengan teman sekelasnya.


“Mas Anto sudah lama belum Mbak masuknya.” Tanyaku basa-basi.


“Kira-kira sepuluh menitan lah.” Jawab Mbak Anggi, dia terlihat sangat cemas.


“Kok telat Mbak. Bukannya jadwal Mas Anto sejam yang lalu.” Aku menoleh ke arahnya.


“Dosennya baru saja jadi penguji di ruang yang lain.”


“Kok Jadwalnya tabrakan ya.”


“Nggak tabrakan. Mereka nguji jadwal sebelumnya. Tapi kelamaan. Paling dia nggak akan lulus.”


“Kok Mbak tahu?”


“Ciri-ciri orang nggak lulus pendadaran itu ujiannya lama, dia dibantai habis-habisan sama penguji. Terus kalau sudah selesai kelihatan lemas, murung, bahkan ada yang sampai menangis.”


“Emang Mbak udah pendadaran.”


“Belum.”


“Kok tahu kalau orang nggak lulus ciri-cirinya seperti itu.”


“Aku sering nungguin orang pendadaran. Besok kalau kamu sudah skripsi sering-sering lihat orang pendadaran. Biar bisa mengurangi rasa tegang. Kayak sekarang.”


“Dari tadi juga sudah tanya kan.”


“Iya sih. Tapi mau tanya di luar topik.”


“Emang mau tanya apa?”


“Ehm… ehm… Mbak balikan ya sama Mas Anto.”


Mbak Anggi tersenyum lebar. Sepertinya dia menahan tawa memandangku.


“Emang kenapa kalau kami balikan. Cemburu?”


“Nggak. Untuk apa cemburu.”


“Halah!! Nggak usah bohong. Kamu suka kan sama Anto?” Perempuan cantik berpakaian bunga-bunga itu melirikku dengan sedikit senyum.


“Hah!!! Nggak. Kata siapa Mbak?” Aku salah tingkah. Perasaanku sudah diketahui orang lain.


“Kata Anto!!” Pura-pura memandang ke arah lain.


Wajahku menjadi berubah. Aku terdiam sesaat, ”Emang Mas Anto cerita apa saja Mbak?”


“Banyak sekali!! Tenang, aku kesini cuma mau lihat pendadarannya saja kok.” Mbak Anggi tersenyum, memandangku. “Dosennya sudah pergi. Ayo kesana.” Kami segera berdiri. Bergegas menemui Mas Anto.

__ADS_1


Teman-teman memberi selamat pada Mas Anto, termasuk Mbak Anggi. Mas Anto terlihat sangat senang. Senyumnya yang lebar membuat lesung pipitnya terlihat jelas. Sebenarnya aku juga ingin memberinya ucapan selamat, tapi malu. Dia terlihat sedang sibuk menjawab berbagai pertanyaan dari teman-temannya. Sesekali mereka foto bersama. Aku hanya bisa memandangnya dari bingkai pintu. Mas Anto melihatku dan tersenyum. Aku memberanikan diri mendekatinya.


“Selamat ya Mas. Semoga hasilnya memuaskan.” Aku jabat tangannya.


“Amiin… Makasih ya.” Mas Anto langsung berpaling ke teman lain yang mengajak foto bersama.


Aku pergi meninggalkan mereka. Duduk di depan ruangan lain. Menunggu keadaan sepi agar bisa nyaman bertemu dengannya. Tidak lama kemudian mereka keluar ruangan. Dia tidak melihatku sama sekali. Dengan rasa kecewa aku pergi.


Selangkah demi selangkah ku pijakkan kaki menuruni anak tangga. Tangan kiri berpegangan pada gagang besi. Mata ini ntah memandang apa, bayangan laki-laki itu tidak bisa menghilang meskipun dia sudah mengabaikanku. Betapa pedih, mengingat wajahnya tersenyum lebar saat berbicara dengan mantan kekasihnya. Namun, senyumnya tak seindah itu ketika bersamaku.


Sebuah tepukan di bahu kanan membangunkanku dari lamunan. Seseorang mensejajariku, ikut melangkah pelan.


“Nggak lihat pendadaran Anto?” Tanyanya, memulai percakapan.


“Sudah selesai. Orangnya juga sudah pulang.” Jawabku, lirih.


“Kok kamu murung, emang bagaimana pendadaran Anto?”


“Nggak gimana-gimana Mas, sepertinya mungkin berhasil.” Tatapanku mengarah pada segerombol orang dibalik jendela.


“Owh, karna itu kamu murung?” Laki-laki disebelahku ikut menatap gerombolan itu.


Aku terdiam


“Kamu suka ya sama Anto?”


Aku menoleh, memandangnya. “Kok ngomong gitu, Mas?”


“Ya, gimana nggak ngomong gitu. Perhatianmu ke Anto itu beda sama perhatianmu ke yang lain. Wajar kan kalau kami curiga?”


“Kami?” Aku mengulang kata majemuk itu.


“Iya, ka-mi. Aku dan teman-teman.” Laki-laki bertopi itu memperjelas kata-katanya.


“Emang kelihatan banget ya, Mas?”


“Ehm.” Dia berhenti di anak tangga terakhir, membalikkan tubuh memandang wajahku. “Ku rasa dia tak pantas mendapatkan cintamu, Dif? Berusahalah melupakannya.”


Ucapannya mengagetkanku, ku tatap tajam matanya. Sedikit menyelidik. “Maksudmu apa Mas berkata seperti itu? Apa kamu mau bilang, cintaku hanya pantas untukmu?”


Wajah Mas Ibram terlihat kaget. Dia mengernyitkan keningnya. “Kok kamu jadi ngomong gitu? Maksudku tuh baik, aku nggak mau kamu sakit hati.”


“Yang sakit hati aku atau kamu Mas? Jangan pura-pura deh, aku tau kok kalau kamu suka sama aku. Tapi kamu nggak bisa paksa aku untuk suka juga sama kamu. Tolong mengerti Mas, cinta itu nggak bisa dipaksa.” Aku pergi setengah berlari.


“Loh loh loh… Dif? Bukan-” Hampir saja Mas Ibram mengejar, namun terhalangi oleh temannya yang menyapa dia.


\~*\~*\~


Hey hey hey...... sobat! ayo ayo like, comment dan vote dulu... nanti author nggak lanjutin loh ceritanya...


Yuk yuk yuk... buruan. author tunggu ya kabar baik dari sobat pembaca tercinta.


salam lope lope dan matur thankyu... :) :) :)

__ADS_1


 


 


__ADS_2