
Rintik hujan menemani kesendirianku di teras. Gerimis tak mau berhenti sejak tadi malam. Aku berbaring di kursi panjang. Menatap langit yang gelap, segelap hatiku saat ini. Hatiku masih belum percaya dengan apa yang sudah mantan kekasihku perbuat. Mas Fikri keluar sambil memakai jam tangan dan merapikan pakaiannya.
“Mas mau kemana?” Tanyaku.
Laki-laki itu menoleh, “Mau ke rumah teman.” Dia menatap langit, “sepertinya hujan nggak akan reda sampai sore. Pakai mobil saja lah.” Pergi menuju garasi.
“Mas, boleh ikut nggak. Aku jenuh di rumah.” Menghentikan langkah Mas Fikri.
“Owh… boleh saja. Mas tunggu sambil panasin mobil ya?” Mas Fikri kembali melangkah. Aku bergegas ke kamar, mengganti pakaian.
Rumah teman Mas Fikri cukup jauh. Membutuhkan waktu lebih dari satu jam perjalanan. Saat tiba disana, halamannya sudah ramai dengan beberapa motor dan mobil. Aku keluar mobil dengan malu-malu. Beberapa orang sedang berkumpul di teras. Sebagian lagi berada di dalam rumah. Mereka menyapa Mas Fikri ketika kami memasuki teras. Aku hanya membuntuti sepupu yang sedang berjalan didepanku, hingga seorang laki-laki menyapaku.
“Difa!” Aku menoleh, memandangnya. Dia adalah orang yang pernah menolongku, Mas Vino. “Loh, kok kamu sama Fikri?” Laki-laki itu menunjuk kami bergantian.
“Dia sepupuku. Kalian saling kenal?” Tanya Mas Fikri padaku.
“Iya, Mas. Beberapa hari lalu Mas Vino mengembalikan HPku yang ketinggalan di kereta.”
Mas Vino mendekat. “Kebetulan banget ya kita bertemu lagi.” Pemilik rumah itu tersenyum.
“Iya, Mas.” Jawabku ringan.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit aku sudah akrab dengan tamu-tamu lain. Aku terhibur saat teman-teman Mas Fikri mengajak bercanda. sepupu yang memandangku dari jauh itu pun tersenyum senang.
Aku mendekati Mas Vino yang sedang mengambil air di kulkas. Meminta ijin untuk sholat. Laki-laki bercelana jeans pendek itu menunjukkan kamarnya. Dia juga menggelarkan sajadah di lantai. Selesai sholat aku memandang sekeliling ruangan. Kamarnya cukup luas. Ada gitar dan baju bola di dekat meja belajarnya. Gambar-gambar pemain sepak bola menempel di dinding. Kamarnya tidak terlalu berantakan, tempat tidurnya rapi. Hanya ada beberapa buku saja yang berserakan di meja. Foto-foto terpajang rapi di meja dan dinding. Mataku terpana pada sebuah foto di dinding samping almari. Seperti mengenal orang yang ada di foto itu. Aku ambil bingkai foto itu, mengingat kembali siapakah orang tersebut.
“Kamu sudah selesai sholat.” Tanya Mas Vino mengagetkanku. Aku menoleh dengan hati berdebar-debar. Semoga dia tidak mencurigaiku maling. “Kamu sedang lihat apa?” Mas Vino melirik bingkai foto yang aku sembunyikan di belakang punggung.
“Ehmm… ini Mas. Aku cuma mau lihat foto.” Kutunjukkan foto itu.
“Owh… itu foto waktu di Makasar bersama sepupuku. Bagus kan pemandangannya.”
“Sepupu Mas… namanya siapa?”
“Sanu.”
Aku menatap Mas Vino tidak percaya, “Siapa Mas?”
“Sanu.” Mas Vino menatapku heran. “Kamu kenapa? Kok kayak kaget gitu?”
“Ehm… nggak apa-apa Mas.” Salah tingkah. Bingung. “Aku keluar dulu ya Mas. Makasih sudah boleh numpang sholat.” Aku bergegas pergi meninggalkan pemilik kamar ini.
__ADS_1
Karna grogi, aku tidak sengaja menabrak bahunya. Nama Sanu kembali terngiang di telingaku. Kenapa ini harus terjadi? Apakah mungkin aku bisa bertemu dengan Sanu lagi. Ingin rasanya segera pulang dan menceritakan semuanya pada Disa.
Sampai di rumah aku langsung berlari menemui Disa yang sedang duduk di teras bersama Dayat. Aku genggam tangan Disa erat-erat dengan senyum riang. Disa dan Dayat menatapku heran. “Kamu kenapa? Pulang-pulang kok jadi stress.” Tanya Disa.
“Sanu, Dis… Sanu…”
“Sanu…” Disa terlihat bingung. “Kamu bertemu Sanu.” Aku menggeleng-geleng. Disa semakin bingung. “Terus maksudnya apa?”
“Aku tahu bagaimana caranya bertemu Sanu.” Lalu aku ceritakan semua yang terjadi selama di rumah Mas Vino. Dayat pun ikut mendengarkan ceritaku.
“Syukur deh kalau kamu sudah tidak galau lagi.” Dayat tersenyum menatapku. Aku tersipu malu membalas tatapannya. Karna terlalu senang, aku jadi lupa bahwa disana ada Dayat.
~*~
Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Bingung, bagaimana caranya mencari informasi tentang Sanu. Disa yang sedang membaca buku di ranjang geleng-geleng kepala melihatku.
“Tanya Mas Vino saja. Minta nomor HPnya sama Mas Fikri.” Saran Disa.
Aku pun memberanikan diri menemui Mas Fikri yang sedang mencuci mobil. Dengan ragu-ragu meminta nomor Mas Vino.
“Kenapa? Kangen ya. Baru kemaren ketemu sudah minta nomor HP.” Mas Fikri cuci kaki lalu mendekati aku.
“Nggak. Cuma ada perlu saja. Boleh kan Mas?” Sedikit memohon.
“Hmmm… kenapa lagi?” Tanya Disa.
“Bingung Dis.”
“Bingung kenapa?”
“Bingung gimana caranya tanya.”
“Halah. Tinggal sms aja bingung. Kalau perlu telpon sekalian.”
“Kamu aja. Gimana? Aku grogi.” Menjulurkan ponsel ke Disa. Tanpa menunggu lama Disa mengetik sms untuk Mas Vino. Hampir dua jam kami menunggu balasan. kembaranku ikut resah menunggu. Tiba-tiba Mas Vino telpon, menanyakan maksud sms tadi. Disa pun menceritakan dengan singkat maksud smsnya.
“Owh… kebetulan aku baru aja sampai di rumah sakit. Ada jadwal menjaga saudara opname. Kalau mau kesini aja. Ada Sanu juga disini. Nanti aku sms alamatnya.” Mas Vino langsung menutup telponnya.
Waduuuhhh… kenapa harus di rumah sakit bertemunya. Sekarang juga lagi. Apa nggak terlalu cepat pertemuannya. Jantungku berdebar kencang. Kami semakin resah. Berusaha berpikir keras apa yang akan dilakukan. Sms dari Mas Vino pun sudah masuk. Dia menyuruhku segera datang. Bagaimana mau datang, tahu alamatnya aja nggak, Batinku.
Terdengar suara sepupu kami bersiul-siul. “Mas Fikri!!!” Serempak kami lari ke teras. Mas Fikri terkejut mendengar ada suara teriakan memanggil. Dengan napas tersengal-sengal kami meminta laki-laki yang sedang menggulung selang itu mengantarkan ke rumah sakit. Sayangnya dia menolak, sudah ada janji dengan pacarnya. Kami lemas seketika. Duduk melamun di kursi panjang. Kembali memikirkan jalan keluar yang lain.
__ADS_1
“Kamu mau kemana, Yat?” Teriak Mas Fikri keluar pagar.
“Mau kerja Mas.” Jawab Dayat berteriak.
“Ini ada penumpang pertama. Diterima nggak?”
“Siapa?”
“Tuh yang lagi pada melamun.” Mulut Mas Fikri menunjuk kami.
Dayat pun mengantar kami ke Rumah Sakit. Selama perjalanan Dayat lebih banyak mengobrol dengan Disa. Sepertinya mereka saling menyukai. Tidak hanya sekali aku melihat mereka berduaan. Mas Vino kembali menelpon, menanyakan keberadaan kami. Jantungku kembali berdebar. Tidak lama lagi aku akan bertemu dengan Sanu. Kutatap jendela. Berpikir, apa yang harus aku lakukan saat bertemu Sanu nanti. Kenapa juga kami harus bertemu sekarang. Padahal hanya minta nomor Sanu yang baru kan bisa. Seperti orang penting saja yang harus ditemui langsung. Kenapa juga Sanu tidak meminta nomorku pada Mas Vino. Aku jadi semakin pusing memikirkannya.
Kami sudah sampai di depan Rumah Sakit. Sebelum pergi, Dayat berjanji akan menjemput malam nanti. Aku dan Disa bergegas masuk. Aku menelpon Mas Vino, menanyakan dimana kami harus bertemu. Telpon belum mati, aku sudah melihatnya. Dia baru saja keluar dari minimarket yang kami lewati. Aku salah tingkah saat bertemu dengannya, sedikit malu. Sedangkan Mas Vino tersenyum menyapa dengan anggukan, melihat Disa dibelakangku. Kami mengobrol sambil berjalan.
“Sanu dimana Mas?” Celetuk Disa tidak sabaran.
“Ini kita akan menemui Sanu.” Mas Vino tersenyum. “Pacarnya Sanu yang mana nih?” Pertanyaan Mas Vino membuat kami terkejut.
Kami saling berpandangan, “Tidak ada?” serempak menjawab. Mas Vino tertawa kecil melihat ekspresi kami.
Beberapa kali melewati tikungan, kami tiba di depan ruang ICU. “Silahkan kalau mau bertemu Sanu.” Tangan kanan Mas Vino menunjuk pintu masuk ICU.
Aku dan Disa kembali berpandangan. “Ruang ICU!!!” Serempak terkejut. Menatap Mas Vino. “Mak… maksudnya!!!” Tanya kami bingung.
“Iya. Sanu ada di dalam kalau kalian ingin bertemu.” Mas Vino langsung masuk ke dalam. Kami mengikuti. “Sanu, teman-temanmu datang nih.” Katanya, saat berada di dekat seorang pasien. Tubuhku lemas, melihat Sanu berbaring. Di tangannya ada infus, kepalanya dibalut perban. Dia tidur sangat pulas. Aku dan Disa berpandangan, tidak percaya dengan apa yang kami lihat.
Bagi yang sedang sakit, author doakan semoga lekas sembuh ya... Kalau jenuh bobokan terus, mending sambil baca novelku ini. semoga jenuh hilang, sakitnya pun hilang. aamiin...
Selesai baca jangan lupa like, comment dan vote juga ya...
Matur Thankyu. :) :) :)
__ADS_1