
Undangan sudah dipesan, gedung dan catering juga sudah. Gaun pengantin tinggal menunggu hasil. Disa lebih suka membuat gaun sendiri. Meskipun biayanya sedikit lebih mahal, tapi puas dengan hasilnya. Desainnya sih bukan calon pengantin yang buat, dia minta bantuan teman untuk menggambar pola gaun yang indah dan mencarikan bahan yang cocok sesuai angan-angannya. Gadis yang hatinya sedang berbunga-bunga itu juga sudah punya tukang jahit langganan. Aku akui jahitannya memang sangat bagus dan memuaskan pelanggan. Tidak heran jika dia jarang membeli pakaian.
Akad nikah tinggal menghitung hari. Disa semakin sibuk mempersiapkan semua keperluannya. Ada perasaan senang dan sedih di hatiku. Aku senang karna saudaraku akan menikah. Tapi aku juga sedih karna dia menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Meskipun aku sudah ikhlas, perasaan itu sangat sulit hilang. Selama ini aku sudah berusaha untuk move on dengan menyibukkan diri mengerjakan skripsi dan aktif organisasi lagi. Untuk sementara aku tidak ingin memikirkan cinta hingga luka dihati ini benar-benar sembuh. Aku tidak mau menyakiti laki-laki lain, seperti aku menyakiti Mas Vino dulu. Kisahku dengan laki-laki tampan itu sudah cukup berarti selama ini. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
“Kamu cantik dengan gaun ini. Besok kalau aku nikah pakai ini saja ya. Dari pada beli. Ngirit sedikit lah…” Aku memperhatikan Disa yang sedang dirias.
Gadis yang wajahnya sedang dipoles make up itu tersenyum lebar, “Awalnya saja memuji, endingnya pinjam juga. Tapi nggak apa-apa lah buat saudaraku tercinta.”
Aku mendekat, memeluknya dari belakang. Kami saling menatap lewat cermin. “Nggak terasa ya sekarang kita udah dewasa. Bahkan kamu udah mau menikah dalam hitungan menit. Selamat ya saudaraku. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warohmah.” Ciuman lembut kuberikan dipipi kanannya.
“Terimakasih ya doanya. Terimakasih juga karna kamu udah merelakan Sanu untukku. Tapi kamu nggak punya dendam kan sama aku?” Gadis itu mendongak, ingin menatapku langsung.
“Ya nggak lah. Aku udah ikhlas dia jadi milikmu. Cintaku padanya juga udah hilang kok. Jadi sekarang kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Jadilah keluarga yang bahagia dan berikan aku ponakan yang banyak.” Senyum palsu yang aku berikan.
“Amiin… Semoga tidak lama lagi kamu juga akan menikah dengan laki-laki yang sangat baik dan mencintai kamu tulus. Dan kamu tidak akan pernah menyesal menikah dengannya. Karna dialah cinta sejatimu.” Dia mengelus punggung lenganku.
“Amiin… tapi sekarang aku mau sendiri dulu dan nggak memikirkan cinta. Ntah lah kapan aku bisa merasakan cinta lagi.”
“Nggak lama lagi cinta itu akan datang.” Senyuman yang membuatku curiga.
“Halah… sudahlah nggak usah menghibur. Sampai sekarang aja nggak ada laki-laki yang PDKT sama aku.”
“Sebenarnya ada. Tapi kamu saja yang nggak mau membuka hati untuk dia.”
“Siapa? Mas Vino!” Aku mengernyitkan kening.
Disa tersenyum melirik, membuatku semakin curiga.
Belum sempat dia menjawab, Ayah sudah memanggil. Kami harus segera ke Masjid untuk akad nikah. Semua saudara sudah menunggu di halaman. Dayat juga sudah siap menjadi supir pribadi Disa seharian. Dia datang kemaren sore bersama keluarga Om Gunawan. Kebetulan Om Gunawan membawa dua mobil dan salah satunya menjadi mobil pengantin. Tapi karna terlalu sibuk, aku belum sempat bertukar cerita dengan mereka.
Sanu terlihat gagah saat mengucapkan ijab qobul. Dengan mantap dan tanpa ada kesalahan, pernikahan mereka pun sah. Sempat terbayang olehku bahwa yang ada disana bukanlah Disa tapi aku. Namun kenyataan tidak bisa dipungkiri lagi. Takdir sudah menentukan mereka berjodoh. Bagaimanapun keadaannya aku harus bahagia dengan pernikahan ini. Setelah akad nikah selesai kami foto bersama. Senyum bahagia terpancar di wajah mereka.
“Selamat ya Dis… semoga samawa.” Aku memeluknya sangat erat.
“Segera menyusul ya. Semoga jodohmu segera datang.” Kami berpelukan cukup lama.
Aku juga mengucapkan selamat pada Sanu. Ntah dia sudah mengetahui kebenarannya atau belum, tapi aku akan melupakannya. Sekarang dia sudah menjadi saudara iparku. Rasanya tidak pantas jika aku memendam perasaan untuknya.
Resepsi pernikahan hanya diadakan sederhana. Gedungnya pun tidak terlalu besar. Hanya orang-orang terdekat saja yang diundang. Aku dan Mas Vino duduk bersama, menikmati es dawet. Sesekali kami mengobrol. Sebenarnya ada rasa canggung berdekatan dengannya. Tapi semoga ini pertanda yang baik. Aku tidak ingin ada permusuhan setelah kami putus. Apalagi Mas Vino tidak membahas hubungan kami yang sudah berlalu itu. Aku senang Mas Vino tetap mau menjalin silaturahim meski aku sudah menyakitinya.
~*~
__ADS_1
Dayat duduk termenung di teras rumah Simbah. Ntah apa yang sedang dia lamunkan. Aku berjalan pelan, ingin mengagetkannya. Semakin pelan aku melangkah ketika ada di dekatnya. Tiba-tiba…
“Nah loe… mau ngagetin kan???” Justru Dayat yang mengagetkanku.
Aku pun terkejut dan hampir saja menjatuhkan mangkuk sayur yang ada ditangan.
“Ah kamu ini… untung saja sayurnya nggak tumpah.” Aku cemberut. Kesal.
“Ih… begitu aja ngambek! Kan kamu duluan yang mau ngagetin.” Dayat tersenyum menang.
“Iya. Seharusnya aku yang ngagetin, bukan kamu.” Sedikit manyun, lalu tersenyum.
“Ya udah, diulang lagi. Replay, replay.” Tangan Dayat mengarahkan dimana aku harus memulai.
“Ahhh… nggak!! Udah nggak seru.” Aku memberontak. “Ini sayur. Makan dulu sana.” Aku menjulurkan semangkuk besar sayur opor.
“Masak aku yang suruh bawa. Aku kan tamu.”
“Ya udah kalau nggak mau. Nggak usah makan ya.” Aku masuk ke dalam rumah.
Hampir satu jam berlalu, Dayat tidak masuk juga. Aku ingin menemuinya, tapi Pakdhe Widodo masih saja mengajak bicara. Jika keluarga besar sudah berkumpul, apalagi yang akan dilakukan selain mengobrol ini itu. Menasehati yang muda tentang berbagai macam hal. Sulit sekali mencari celah untuk menemui Dayat.
“Dayat kemana Fik? Dari tadi nggak kelihatan.” Tanya Tante Lilis.
“Dayat ada di teras Tan. Mau dipanggilin?” Aku ikut menjawab.
“Iya. Panggilin sana. Suruh makan. Kasihan tamu ditelantarkan.”
Yes!!! Kataku dalam hati. Akhirnya bisa keluar juga. Dengan semangat aku berjalan keluar. Dayat masih saja melamun sambil memperhatikan bunga mawar yang sedang mekar lebat.
“Betah juga kamu duduk disitu. Emang nggak takut?” Aku berdiri di bawah bingkai pintu. Memperhatikannya sambil bersedekap.
Dayat sedikit terkejut. Menoleh padaku sejenak dan kembali memperhatikan bunga itu. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan.
“Dipanggil Tante Lilis tuh. Disuruh makan. Yang lain udah pada makan.”
“Tadi katanya aku nggak boleh makan!” Jawabnya ketus.
“Aku kan cuma bercanda…” Aku mendekat. Menarik kursi plastik dan duduk dihadapannya. “Lagi mikirn apa sih. Kok kayaknya serius banget.” Aku pandang wajahnya.
“Mikirin cara nembak cewek.”
__ADS_1
“Cie elah… ada yang lagi jatuh centong.” Aku tertawa menyindir.
“Iya nih, tapi sayangnya si cewek sudah punya pacar.”
“Wuah… cinta terpendam dong! Kacau itu. Emang sejak kapan kamu suka dia.”
“Sejak kapan ya! Kira-kira beberapa tahun lalu lah.” Menatap atap, pura-pura berpikir.
Setelah aku pikir-pikir apa yang dia maksud itu Disa. Kan beberapa bulan lalu mereka sangat dekat. Kasian sekali Dayat, cintanya bertepuk sebelah tangan. Apalagi dia harus melihat cewek pujaannya menikah dengan laki-laki lain. Pasti hatinya sangat sakit. Itu sebabnya dia menyendiri ditempat horror ini.
“Siapa cewek itu? Apa aku kenal.” Tanyaku memastikan.
“Emmm… kamu kenal kok. Dia… ah udah lah nggak usah dibahas lagi.” Dayat merubah posisi duduknya. “Oh ya, gimana kamu sama Mas Vino. Aku lihat tadi kalian semakin mesra aja. apa sudah mulai cinta nih sama dia?”
“Nggak kok. Kami malah udah putus.” Aku tersenyum kecil, menunduk.
“Putus??? Kok bisa!”
“Iya. Dia udah tahu semuanya.” Aku kembali menatap Dayat, tersenyum. “Tapi nggak apa-apa. Sekarang aku lega karna udah nggak ada kebohongan lagi diantara kami. Aku dan Disa juga udah baikan.”
“Bagus deh kalau begitu. Terus siapa pacar kamu sekarang.”
“Aku nggak mau mikirin pacar dulu. Kasian pacarku kalau dia hanya sebagai tempat pelampiasan. Lebih baik aku fokus selesaikan skripsi aja.”
“Itu lebih bagus lagi. Semoga kamu cepat mendapat pengganti Sanu deh. Semoga cepat lulus juga.”
Aku tersenyum, “Amiin… Makasih ya aa’ Dayat…”
Dayat pun tersenyum menatapku. Suasana menjadi hening. Angin dingin berhembus, membuat suasana semakin menakutkan.
“Masuk yuk… merinding disini terus. Horror.” Aku beranjak masuk.
“Sama bunga aja takut. Apalagi sama-”
“Ah… Udahlah nggak usah nakut-nakutin.” Aku memotong kalimat Dayat. Segera masuk, Dayat pun mengikuti dari belakang.
~*~
__ADS_1
Undangan:
Untuk sobat pembaca yang ada diseluruh pelosok negeri, saya mengundang anda sekalian untuk hadir di pernikahan saya yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 January 2021. Dan Mohon do'a restunya semoga kami menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Aamiin...